Bantah Santrinya Korban Kekerasan, Pesantren di Kubu Raya Ungkap Kronologinya

Bantah Santrinya Korban Kekerasan, Pesantren di Kubu Raya Ungkap Kronologinya

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 12 Mar 2026 16:58 WIB
Santri di Kubu Raya lebam pada wajah dan belum sadarkan diri
Santri di Kubu Raya lebam pada wajah dan belum sadarkan diri. Foto: Istimewa
Kubu Raya -

Pesantren Labbaik Indonesia di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) membantah jika santrinya mengalami kekerasan. Dikatakan bahwa santri bernama Irfan Zaki Azizi asal Kayong Utara itu awalnya hanya sakit mata.

Kepala Asrama pesantren, Ustaz Muhammad Aziz Shofiuddin membeberkan kronologi kondisi Azizi sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Menurut Aziz, keluhan Azizi sebenarnya sudah muncul sejak 9 Maret 2026. Saat itu Azizi sempat mengobrol dengan teman sekelasnya dan meminta obat karena mengaku mengalami sakit pada bagian mata.

"Pada tanggal 9 Maret Azizi sempat berbincang dengan temannya dan meminta obat sakit mata," kata Aziz kepada detikKalimantan, Kamis (12/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keluhan kembali disampaikan Azizi pada 10 Maret 2026 dini hari. Saat bangun untuk berwudhu sebelum salat tahajud, ia sempat mengatakan kepada temannya bahwa tubuhnya terasa tidak enak.

"Dia bilang ke temannya, 'Kenapa badan ana tidak enak dan mata ana juga sakit'," kata Aziz.

Meski mengeluh sakit, Azizi tetap mengikuti aktivitas pesantren seperti biasa. Pada pagi hari sekitar pukul 08.00 hingga 10.30 WIB, ia mengikuti kegiatan SBQ (setoran bacaan Al-Qur'an).

Setelah itu Azizi beristirahat sebelum kembali beraktivitas pada siang hari. Sekitar pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, Azizi bahkan masih bertugas sebagai MC dalam kegiatan sertifikasi hafalan.

Menjelang salat Asar, Azizi sempat meminta kaca kepada temannya untuk melihat kondisi matanya. Pada sore hari, salah satu temannya melihat Azizi menggunakan salep obat mata. Temannya sempat mengingatkan agar obat tersebut tidak digunakan terlalu banyak.

"Temannya sempat bilang jangan terlalu banyak memakai obat salep mata. Tapi Azizi menjawab memang itu obatnya," jelas Aziz.

Tak lama setelah itu, sekitar satu hingga dua menit kemudian, Azizi tiba-tiba mengeluarkan cairan dari hidungnya. Ia sempat mengatakan kepada temannya bahwa kondisi tersebut mungkin efek dari obat yang digunakannya.

"Dia bilang, 'kan berefek obatnya'," ujarnya.

Malam harinya Azizi masih mengikuti kegiatan khataman Al-Qur'an di masjid yang berada di sekitar pesantren. Namun saat kegiatan berlangsung, teman-temannya mulai melihat kondisi mata Azizi sudah mulai membengkak.

Setelah pulang dari kegiatan tersebut, Azizi kembali menggunakan salep mata sebelum mengganti pakaian dan langsung berbaring di tempat tidur dengan menggunakan selimut.

Sekitar pukul 23.00 WIB, kondisi Azizi mulai memburuk. Ia dilaporkan mengalami menggigil dan kemudian dibawa ke Unit Kesehatan Santri (UKS) untuk mendapatkan penanganan dari musyrif kesehatan.

Di UKS, Azizi sempat diberi kompres. Namun sekitar pukul 00.00 WIB, kondisi matanya semakin membengkak dan mulai menghitam.

Sekitar pukul 01.00 WIB, Azizi kembali menuju kamar mandi dengan dibimbing temannya. Sesampainya di kamar mandi, ia dilaporkan sempat muntah.

Setelah kembali ke kamar, kondisi Azizi disebut semakin tidak stabil. Ia terlihat gelisah saat tidur dan mulai mengalami kesulitan bernapas. Ketika waktu salat tahajud tiba, pembengkakan di wajah Azizi disebut semakin parah hingga berlanjut sampai pagi hari.

Pagi harinya Azizi kembali menuju kamar mandi dan bertemu dengan musyrif kesehatan. Saat itulah pihak pesantren memutuskan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Seperti diketahui, Azizi sempat dibawa ke RS Anton Soedjarwo (Bhayangkara) Pontianak sebelum akhirnya dirujuk ke RSU Satnto Antonius Pontianak untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis bedah saraf.

Saat ini Azizi masih dalam kondisi kesadaran yang belum normal dan direncanakan menjalani perawatan di ruang perawatan intensif (ICU). Sementara itu, orang tua Azizi sebelumnya menduga anak mereka mengalami kekerasan setelah melihat kondisi wajah yang lebam dan bengkak parah.

Dugaan tersebut kini menjadi sorotan dan menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait. Pihak keluarga pun dikabarkan sudah membuat laporan polisi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads