Kepergian Irfan Zaki Azizi (16) meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Remaja yang dikenal sebagai hafiz Qur'an itu meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Pontianak dengan kondisi wajah lebam.
Di mata keluarga, Zaki-sapaan akrabnya-dikenal sebagai anak yang baik, sopan, dan penurut. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah. Adiknya bernama Abdurranman Faris dan Almaera Assha Diya. Zaki kelahiran Mentubang, 01 Agustus 2009.
Ayah Zaki diketahui berprofesi sebagai guru sekolah dasar, sementara sang ibu merupakan kepala sekolah SMP sekaligus Ketua Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Kabupaten Kayong Utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rio Jiwantoro, adik dari ayah Zaki, mengatakan keponakannya dikenal sebagai sosok yang taat beribadah dan memiliki semangat belajar yang tinggi. "Dalam keluarga, Zaki dikenal sebagai anak yang baik, sopan dan penurut. Salat berjemaah lima waktu di masjid juga selalu dijaga," kenang Rio saat diwawancara detikKalimantan, Sabtu (14/3/2026).
Zaki Jadi Hafiz Qur'an
Menurutnya, sejak kecil Zaki sudah menunjukkan kedisiplinan dalam menjalankan ibadah serta memiliki karakter yang santun kepada orang yang lebih tua. Tak hanya dalam hal ibadah, Zaki juga dikenal memiliki prestasi akademik yang baik. Ia kerap meraih peringkat di kelas setiap pembagian rapor selama menempuh pendidikan.
Perjalanan pendidikan Zaki dimulai dari PAUD Mutiara, kemudian melanjutkan ke TK Oesman Al-Khair di Sukadana, Kayong Utara. Setelah itu ia bersekolah di SDN 11 Senebing sebelum melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Tahfidz Baitul Qur'an untuk memperdalam ilmu agama dan menghafal Al-Qur'an.
Masuk pada tingkatan SMA, Zaki melanjutkan pendidikan di SMA Tahfizhul Qur'an Labbaik, Pesantren Labbaik Indonesia di Jalan Parit Kerakah, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Usahanya membuahkan hasil. Zaki diketahui telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur'an, sehingga di usia remaja ia telah menyandang gelar hafiz Qur'an.
Di luar kegiatan belajar dan menghafal Al-Qur'an, Zaki juga memiliki sejumlah hobi. Ia menyukai menggambar dan berimajinasi, sesuatu yang sering ia lakukan di waktu senggang.
Rio juga mengungkapkan Zaki termasuk remaja yang aktif dalam kegiatan sosial. Ia bahkan pernah ikut menyuarakan aspirasi dalam aksi unjuk rasa, salah satunya saat aksi Bela Palestina di Bundaran Tugu Digulis Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak belum lama ini. Seperti dalam video yang dikirim Rio ke detikKalimantan.
"Zaki juga pernah ikut orasi dalam aksi bela Palestina di Digulis. Dia memang punya kepedulian terhadap isu-isu umat," ujar Rio.
Zaki dan Dunia Literasi
Selain itu, Zaki juga dikenal memiliki minat dalam dunia literasi. Ia merupakan salah satu penulis buku berjudul The Rising Moslem Soul yang belum lama ini dirilis. Buku tersebut ditulisnya bersama teman-temannya di pesantren.
Tak hanya itu, Zaki juga kerap menorehkan prestasi di bidang keagamaan. Menurut keluarga, hampir setiap mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), Zaki selalu berhasil membawa pulang piala juara.
Tahun ini, MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat rencananya akan digelar di tanah kelahirannya di Kabupaten Kayong Utara. Namun takdir berkata lain, Zaki tidak dapat ambil bagian dalam ajang tersebut.
"MTQ tahun lalu adalah yang terakhir bagi Zaki. Tahun ini seharusnya digelar di Kayong Utara, tapi dia sudah tidak ada," ujar Rio dengan suara lirih.
Zaki dan Cita-citanya yang Tinggi
Dalam sebuah catatan mimpi yang pernah ditulis, Zaki juga mengungkapkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri, yakni Yaman dan Turki. Catatan itu ditemukan di dinding kamar Zaki sesaat jenazahnya tiba.
Dalam catatan yang dibuatnya sejak masih duduk di SMPIT Baitul Qur'an itu, Zaki menyebut ingin memperdalam ilmu Al-Qur'an serta bercita-cita menjadi ustaz dan bisa mempersatukan umat muslim di seluruh dunia.
Namun, cita-cita itu belum sempat digapai. Zaki lebih dahulu menghadap ilahi. Siswa kelas XI yang memiliki nama panggilan Azizi di asrama Labbaik itu dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (13/3) pukul 07.40 WIB.
Santri di Kubu Raya lebam pada wajah dan belum sadarkan diri/ Foto: Istimewa |
Ia sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif di RSU Santo Antonius Pontianak karena mengalami pembengkakan dan lebam pada wajah. Kini Zaki telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Harapan Mulya, Kabupaten Kayong Utara.
Kepergian remaja penghafal Al-Qur'an itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat yang mengenalnya. Sosoknya dikenang sebagai anak yang saleh, berprestasi, serta memiliki mimpi besar untuk masa depan.
Keluarga pun berharap penyebab kematian Zaki dapat diungkap kepolisian. Karena segala dugaan sudah dilaporkan ke Polres Kubu Raya.
"Kalau tuntutan kami meminta kasus ini tetap dilanjutkan, sehingga kami bisa mengetahui dengan jelas sebab meninggalnya almarhum Zaki," harap Rio.
Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)

