Kades Sungai Batang Protes Limbah Dapur, Pengelola SPPG Janji Tanggung Jawab

Kades Sungai Batang Protes Limbah Dapur, Pengelola SPPG Janji Tanggung Jawab

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Sabtu, 18 Apr 2026 20:48 WIB
Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)
Foto: Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)
Mempawah -

Warga Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat protes dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) cemari parit dan air untuk beraktivitas. Kepala desa dan Ketua BPD semprot pengelola SPPG.

Kepala desa dan Ketua BPD sempat melakukan rapat koordinasi di Kantor Desa Sungai Batang. Ketua BPD, Karmiji mengungkapkan kekecewaannya sebagai warga yang terdampak langsung.

"Ini sudah tidak wajar. Air parit berubah, warnanya keruh, baunya menyengat. Bahkan aromanya sampai masuk ke rumah," kata Karmiji, Sabtu (18/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut kondisi tersebut tak bisa dianggap sepele, karena parit selama ini menjadi sumber air utama warga, termasuk untuk kebutuhan ibadah.

"Anak-anak ngaji tidak bisa wudhu. Warga mau mandi saja kesulitan. Ini bukan gangguan kecil," sambungnya.

Kepala Desa Sungai Batang, Mahyus juga memprotes sistem pengolahan limbah dapur MBG tidak berjalan sebagaimana mestinya.

"Jelas ini tidak beres. Limbah masih dialirkan ke parit dalam kondisi kotor. Warga yang menanggung dampaknya," ujar Mahyus.

Mahyus menegaskan, praktik pembuangan limbah ke lingkungan permukiman harus segera dihentikan tanpa kompromi.

"Jangan sampai kegiatan bagus seperti MBG justru merusak lingkungan. Ini harus dibenahi total," tegasnya.

Ia juga mengingatkan, sebagian besar warga masih bergantung pada parit karena belum adanya layanan air bersih seperti PDAM. Kondisi ini membuat pencemaran berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat.

Pemerintah desa mendesak pengelola dapur MBG yang dikelola Yayasan Lentera Pangan Borneo segera melakukan perbaikan menyeluruh pada sistem pengolahan limbah, terutama menjelang musim hujan.

Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)Warga menunjukkan parit yang tercemar limbah dapur MBG di Sungai Pinyuh. (Istimewa)

Tanggapan Pengelola SPPG

Menanggapi hal itu, Yayasan Lentera Pangan Borneo menyampaikan permohonan maaf. Pihak yayasan juga berjanji akan bertanggung jawab atas kerugian dan dampak yang dirasakan masyarakat.

"Kami mohon maaf atas kejadian ini yang sudah meresahkan masyarakat. Bagaimanapun kami tetap bertanggung jawab menyelesaikan masalah yang ada," kata Perwakilan Yayasan Lentera Pangan Borneo, Feriandi, Sabtu (18/4/2026).

Feriandi menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi lingkungan hidup untuk menangani limbah agar tidak lagi mencemari lingkungan warga. Sejumlah langkah teknis juga mulai diterapkan.

Salah satunya dengan menambah sumur resapan dari sebelumnya dua titik menjadi tiga titik untuk menampung limbah cair dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

"Kami sudah koordinasi agar limbah ini tidak mengalir ke lingkungan warga. Sudah ada skemanya dan sudah kami lakukan," ujarnya.

Ia menyebut, tiga sumur resapan dinilai cukup menampung limbah. Jika kapasitas penuh, limbah akan disedot secara berkala.

"Seandainya penuh, pasti kita sedot. Untuk IPAL juga sudah ada petugas khusus yang menangani," katanya.

Selain itu, pengelola juga meningkatkan sistem pengolahan limbah sesuai rekomendasi instansi terkait, termasuk penambahan filter agar air hasil olahan lebih jernih dan aman.

"Penambahan filter sudah kami lakukan supaya air yang keluar dari IPAL lebih baik," ujarnya.

Sebagai langkah penanganan sementara, pihak pengelola juga menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak melalui kerja sama dengan mitra.

"Kami sudah siapkan distribusi air bersih. Kalau masih kurang, akan terus kami salurkan sampai kebutuhan warga terpenuhi," tutupnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads