Acara Bridging Konferensi Imam Internasional dan Tabligh Akbar bersama Menteri Agama, Prof H Nasaruddin Umar, berlangsung khidmat dan penuh semangat persatuan. Kegiatan berlangsung di Masjid Islamic Center Samarinda pada Sabtu (25/4).
Lebih dari sekadar ajang silaturahmi, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengukuhkan kembali peran masjid sebagai pusat harmoni dan ruang diplomasi keagamaan. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi motor penggerak perdamaian dunia.
Rangkaian acara dibuka dengan Seminar Masjid bertajuk 'Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace', lalu dilanjutkan dengan istigasah, dan ditutup dengan puncak acara Tabligh Akbar. Masyarakat tampak antusias mengikuti acara, terlihat dari ribuan jemaah yang memadati area masjid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Turut hadir dalam acara ini Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, serta para perwakilan dari Ditjen Bimas Islam, BNPT, dan PP IPIM. Jajaran pejabat pusat dan daerah, tokoh agama, akademisi, hingga para imam masjid dari seluruh penjuru Kalimantan Timur juga tampak hadir mengikuti jalannya acara.
Dalam tausiahnya, Menteri Agama mengingatkan kembali fungsi luas masjid. Ia menegaskan bahwa masjid bukan semata-mata tempat beribadah, melainkan juga pusat pendidikan, ruang pembinaan umat, sekaligus panggung diplomasi peradaban.
Di tengah berbagai tantangan global, peran imam dinilai sangat krusial sebagai garda terdepan penjaga persatuan dan penyaring informasi bagi masyarakat.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Steering Committee Konferensi Imam Internasional, Irjen Pol M. Sabilul Alif. Dalam sambutannya, ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk menyatukan para imam masjid dalam satu visi besar tentang kebangsaan dan kemanusiaan.
"Dari daerah, kita bangun kekuatan umat. Dari masjid, kita rajut persatuan. Dari para imam, kita pancarkan pesan damai hingga ke tingkat global," ujarnya.
Sabilul Alif menambahkan, di tengah dinamika dunia yang kerap diwarnai konflik dan polarisasi, imam masjid memegang peranan penting sebagai pembimbing, penyejuk, dan agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai perdamaian. Sebagai perwakilan dari Polri, ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara aparat keamanan dan tokoh agama dalam menjaga stabilitas negara melalui pendekatan kultural dan spiritual.
Di sisi lain, Gubernur Kalimantan Timur menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya acara ini. Ia menegaskan kepercayaannya bahwa para imam dan tokoh agama adalah benteng moral bagi masyarakat sekaligus duta perdamaian sejati.
Sebagai informasi, rangkaian Bridging Konferensi Imam Internasional ini akan terus digelar secara berkala menjelang acara puncak di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Agustus 2026 mendatang. Agenda bridging ini akan berlanjut ke Sulawesi Selatan pada bulan Mei, disusul Banten pada bulan Juni, dan ditutup di Jawa Timur pada bulan Juli.
Baca juga: 5 Ikon Kota Samarinda yang Wajib Dikunjungi |
(bai/bai)
