Hujan meteor akan kembali menghiasi langit bulan Mei 2026. Eta Auquarid sudah lama dinantikan sebagai fenomena hujan meteor yang diprediksi menghiasi langit bumi sepanjang Mei.
Hujan meteor Eta Aquarid tercatat sebagai salah satu yang unik karena meteor melesat sangat cepat, sehingga meninggalkan jejak cahaya terang yang bisa diamati beberapa detik di langit.
Fenomena ini terjadi saat Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley. Saat partikel-partikel kecil ini memasuki atmosfer Bumi, mereka terbakar dan menghasilkan garis cahaya yang sering dikenal sebagai bintang jatuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beruntunglah masyarakat Indonesia karena Eta Aquarid melintas dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga kita bisa mengamatinya dengan sudut pandang cukup baik. Nah untuk itu, berikut detikKalimantan berikan informasi waktu puncak, lokasi pengamatan, dan tips yang bisa detikers lakukan supaya tidak melewatkan momen langka ini.
Waktu Puncak Hujan Meteor Eta Aquarid 2026
Dilansir dari American Meteor Society, meteor Eta Aquarid pada tahun 2026 diperkirakan aktif sejak 19 April hingga 28 Mei 2026. Namun, puncaknya terjadi pada malam 5 Mei hingga dini hari 6 Mei 2026
Adapun waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah menjelang fajar, lebih spesifik lagi sekitar pukul 02.00 hingga sebelum matahari terbit.
Pada waktu tersebut, titik radian atau asal kemunculan meteor sudah cukup tinggi di langit sehingga peluang melihat meteor jauh lebih besar.
Meski puncak terjadi pada tanggal tersebut, meteor tetap bisa terlihat beberapa hari sebelum dan sesudahnya, hanya saja jumlahnya tidak sebanyak saat puncak terjadinya.
Sekilas Tentang Hujan Meteor Eta Aquarid
Seperti yang dijelaskan NASA, hujan meteor Eta Aquarid berasal dari sisa debu Komet Halley yang mengorbit Matahari setiap sekitar 76 tahun. Komet ini terakhir terlihat dari Bumi pada tahun 1986 dan diperkirakan akan kembali pada tahun 2061.
Ketika Bumi melintasi jalur debu tersebut, partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, sekitar 6566 km per detik. Kecepatan ini membuat meteor terlihat sangat cepat dan sering meninggalkan jejak cahaya (glowing train) yang dapat bertahan beberapa detik hingga menit.
Idealnya, wilayah tropis belahan selatan bisa melihat hingga 40-50 meteor per jam, sementara wilayah belahan utara biasanya hanya 10-30 meteor per jam, bahkan bisa kurang dari 10 jika kondisi langit terganggu oleh polusi atau cuaca ekstrem.
Indonesia sendiri memiliki peluang cukup baik, walaupun jumlah meteor yang terlihat juga tetap bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat polusi cahaya. Selain itu, pada puncak Eta Aquarid 2026 juga terdapat tantangan tambahan, yaitu cahaya bulan.
Bulan dengan fase waning gibbous (sekitar 84% terang) akan terbit setelah tengah malam dan menyinari langit, sehingga meteor yang redup bisa sulit terlihat dan jumlahnya yang teramati bisa berkurang signifikan.
Spot dan Cara Terbaik untuk Melihat Meteor
Untuk bisa mengamatinya dengan maksimal, berikut tips saat pengamatan nanti:
- Pilih lokasi jauh dari polusi cahaya seperti pegunungan atau pantai
- Hindari lampu kota, jalan raya, atau area terang lainnya
- Arahkan pandangan ke langit luas, tidak fokus pada satu titik saja
- Titik radian berada di rasi bintang Aquarius yang akan muncul di ufuk timur menjelang dini hari
- Cari area sekitar 40 derajat dari titik radian (sekitar lebar empat kepalan tangan di langit)
- Berbaring dengan posisi kaki menghadap timur
- Sebenarnya tidak perlu teleskop karena mata telanjang juga bisa mengamati hujan meteor ini
- Bersabar, karena meteor tidak muncul terus-menerus
Baca juga: 10 Fenomena Langit Sepanjang 2026 |
Asal Usul Meteor dan Peran Komet Halley
Meteor berasal dari sisa partikel komet atau asteroid yang tertinggal di ruang angkasa. Ketika komet mendekati Matahari, es dan batuan di permukaannya menguap dan meninggalkan jejak debu.
Khusus Eta Aquarid, sumber utamanya adalah Komet Halley. Debu tersebut membentuk jalur yang dilintasi Bumi setiap tahun. Selain Eta Aquarid di bulan Mei, sisa komet ini juga menyebabkan hujan meteor Orionid di bulan Oktober.
Komet Halley sendiri merupakan salah satu komet paling terkenal dalam sejarah, pertama kali diprediksi orbitnya oleh Edmond Halley pada tahun 1705.
Di wilayah belahan utara seperti Indonesia, beberapa meteor Eta Aquarid bisa muncul sebagai earthgrazers, yaitu meteor panjang yang akan meninggalkan jejak panjang di langit. Lintasan cahayanya lebih panjang dan tajam untuk dilihat tanpa alat bantu.
Dengan mengetahui waktu puncak dan memilih lokasi yang tepat, detikers sudah siap menikmati hujan meteor Eta Aquarid yang akan melintasi bumi malam nati. Selamat menyaksikan!
Simak Video "Video: Detik-detik Meteor Melesat di Langit Carolina Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
