Penjelasan Lengkap SMKN 4 Samarinda Soal Viral Siswa Meninggal karena Sepatu

Penjelasan Lengkap SMKN 4 Samarinda Soal Viral Siswa Meninggal karena Sepatu

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Selasa, 05 Mei 2026 17:59 WIB
Ilustrasi Mawar Duka Cita
Ilustrasi duka. Foto: Getty Images/iStockphoto/Lyudmila Lucienne
Samarinda -

Meninggalnya seorang siswa kelas XI di SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi sorotan publik. Dalam kabar viral di medsos, siswa bernama Mandala Rizky Syahputra itu meninggal karena sepatu kekecilan.

Kabar viral ini antara lain disampaikan akun @pikology, yang menjelaskan bahwa Mandala setiap hari mengenakan sepatu berukuran 40, padahal seharusnya dia mengenakan ukuran 44. Kakinya mengalami bengkak hingga lama-kelamaan menderita komplikasi dan meninggal dunia.

Melalui unggahan di akun media sosial SMKN 4 Samarinda dan Disdikbud Kalimantan Timur (Kaltim), pihak sekolah mengucapkan belasungkawa dan menjelaskan secara lengkap kondisi Mandala hingga meninggal. Dikutip Selasa (5/5/2026), berikut penjelasan lengkap sekolah yang bertajuk 'Kepergian Mandala: Duka Kita Bersama' tersebut:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Segenap keluarga besar SMK 4 turut berduka cita atas berpulangnya Mandala Rizky Syaputra, siswa kelas XI Pemasaran 2 yang kami cintai. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat, kami ingin berbagi cerita kronologis kejadian ini dengan hati yang terbuka. Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengenang dan memetik pelajaran bersama.

Sejak kelas X (sepuluh) Mandala sudah mendapat perhatian dari wali kelas saat itu. Bantuan berupa seragam jurusan dan perlengkapan sekolah sudah diberikan, Selain itu bantuan sembako sering juga diberikan, bahkan jika ada kendala dengan uang sewa kontrakan pun dimintai bantuan.

Ramadan

Bulan Ramadhan 2026, sekolah bekerjasama dengan mitra industri menyelenggarakan Praktik Kerja Pra PKL bagi jurusan Pemasaran. Pembekalan dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026 dan pelaksanaan dimulai pada Senin, 9 Februari 2026 sampai 20 Maret 2026. Mandala adalah salah satu siswa yang sangat antusias.

14 Maret 2026

Di akhir Ramadhan, sekolah menyalurkan zakat sebesar Rp 200.000 kepada Mandala. Zakat diambil oleh perwakilan kakak Mandala. Pembagian zakat merupakan program rutin tahunan sekolah sebagai bentuk kepedulian kepada siswa yang membutuhkan.

30 Maret-1 April 2026

30-31 Maret 2026: Mandala masih hadir ke sekolah
mengikuti pembelajaran.

1 April 2026: Mandala hadir, tapi wajahnya pucat. Guru PKn langsung menyarankannya untuk beristirahat di rumah karena kondisi fisiknya sudah tak memungkinkan.

2-8 April 2026

Kamis, 2 April 2026 Mandala izin sakit tidak mengikuti pembelajaran. Pada Jumat, 3 April 2026, diperingati hari besar nasional yaitu Wafat Yesus Kristus (Jumat Agung), yang ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan SKB 3 Menteri. Senin - Rabu, 6-8 April dilakukan pembelajaran secara daring untuk siswa kelas X dan XI dikarenakan ada pelaksanaan USK untuk program keahlian Pemasaran, Desain Komunikasi Visual dan Perhotelan.

9 April 2026

Mandala izin sakit tidak dapat mengikuti pembelajaran, disampaikan melalui WhatsApp ke wali kelas.

10 April 2026

Hari itu, ibu Mandala datang meminta bantuan uang Rp1.100.000 untuk biaya pengobatan non-medis (dimandikan di Tenggarong). Sekolah segera memberikannya dari kas masjid sekolah. Pihak sekolah juga menyarankan agar Mandala diperiksakan ke layanan kesehatan agar diketahui penyakitnya secara medis. Beberapa hari kemudian Ibunya Mandala datang meminta bantuan lagi dengan alasan yang sama.

13-15 April 2026

Ada pelaksanaan USK program keahlian MPLB (Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis) pada tanggal 13-14 April 2026 dan konsentrasi keahlian Akuntansi pada hari Rabu 15 April 2026 sehingga pembelajaran untuk kelas X dan XI dilakukan secara daring asinkronus.

16-17 April 2026

Mandala kembali izin sakit tidak mengikuti pembelajaran di sekolah, surat izin dikirimkan melalui WhatsApp kepada wali kelas.

20 April 2026

Mandala mengirim foto kakinya yang mulai bengkak ke wali kelas. la kembali meminta bantuan dana dan mencantumkan nomor rekening.

21 April 2026

Wali kelas, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan (yang merupakan wali kelas Mandala di Kelas X dahulu), dan dua teman sekelas langsung berkunjung ke rumah Mandala. Mereka ingin memastikan kondisi aslinya.

Dari kunjungan tersebut ditemukan:

Mandala terlihat lemah, suara kecil dan pelan, jalannya lambat, serta tangannya gemetar.
Keluarga punya BPJS, tapi tidak aktif karena tunggakan.
Sekolah membantu mengurus pengaktifan namun terkendala administrasi kependudukan.

22 April 2026

Mandala mengabarkan bahwa kaki bengkaknya mulai kempes. Semua lega, mengira kondisi kesehatan mulai membaik.

23 April 2026

Wali kelas dan teman-teman kembali berkunjung. Kali ini mereka membawa bantuan uang tunai sekitar Rp650.000, roti, dan susu. Saat kunjungan ini, Ibu Mandala baru menyampaikan bahwa sepatu anaknya sudah tak muat dipakai. Mandala pernah mengeluh soal itu kepada ibunya, tapi ibunya sendiri mengakui bahwa ia melarang Mandala bercerita ke sekolah atau teman-teman. "Jangan sampai orang tahu kita kesusahan," pesan itu yang sering disampaikan Ibunya kepada Mandala. Mendengar itu, wali kelas segera bergerak. Ia berkoordinasi dengan teman sekelas untuk membelikan sepatu baru. Rencana bantuan pun disusun:

selain sepatu, wali kelas bersama teman-temannya di sekolah juga berencana membawa Mandala ke puskesmas untuk diinfus pada hari Jumat sambil menunggu pengaktifan BPJS.

Jumat, 24 April 2026

Sebelum semua rencana bantuan itu terlaksana, kabar duka datang. Jumat dinihari kakak Mandala mengabarkan melalui WhatsApp kepada Wali Kelas dan Waka Kesiswaan bahwa Mandala telah meninggal dunia. Kakaknya juga memberitahukan bahwa tidak ada dana untuk pemulasaran jenazah.

Peran Sekolah

  • Melihat keterbatasan ekonomi keluarga, sekolah turun tangan penuh dalam proses fardu kifayah:
  • Menanggung biaya pemandian, pengafanan, dan penguburan.
  • Menyediakan ambulans.
  • Menyalatkan jenazah Mandala di sekolah, dihadiri guru dan teman-teman.
  • Siswa dan guru pun berdonasi untuk pihak keluarga Mandala. Donasi diserahkan setelah penguburan Mandala

Hal Hal Yang perlu Diperhatikan

Agar tidak terjadi kesalahpahaman, berikut beberapa fakta yang perlu kita cermati:

Sepatu Bukan Penyebab Kematian.

Tanpa ada diagnosa medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti. Tidak ditemukan luka pada bagian kaki baik di tumit ataupun jari-jari kaki. Kaki membengkak di bagian punggung.

Keterbukaan informasi dari keluarga menjadi kendala.

Ibu Mandala sendiri mengakui bahwa beliau melarang anaknya bercerita tentang kesulitan keluarga kepada sekolah atau teman-teman. Mandala sebenarnya pernah mengeluh soal sepatu kepada ibunya, tetapi informasi itu tidak segera diteruskan ke sekolah. Sekolah baru mengetahui hal ini pada kunjungan kedua di hari Kamis, 23 April 2026.

Sekolah selalu merespons setiap kali ada permintaan bantuan.

Setiap kali ibu atau Mandala meminta bantuan, sekolah segera merespons:
memberikan bantuan uang, menyalurkan zakat, berusaha untuk membantu mengaktifkan BPJS, melakukan kunjungan rumah, memberikan bantuan tunai dan makanan, hingga merencanakan pembelian sepatu dan bantuan medis.

Mandala tidak pernah dibawa ke layanan kesehatan.

Berdasarkan keterangan kakak dan ibunya, Mandala ternyata tidak pernah diperiksakan ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya, sehingga penyebab pasti meninggalnya tidak diketahui secara medis. Ibu Mandala hanya mengoleskan Fresh Care pada bengkak di kaki Mandala dan memberinya Sangobion karena berasumsi Mandala mengalami kurang darah. Adapun keterangan mengenai sakit yang disampaikan ke pihak sekolah bersifat non-medis. pun tidak benar. Ini baru diketahui pihak sekolah berdasarkan pengakuan Ibu Mandala saat kunjungan pada Jumat, 1 Mei 2026.




(bai/sun)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads