Tiga tahun lalu, tepatnya Januari 2023, warga Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) dibuat kaget dengan kehadiran seekor buaya di tepi Sungai Mahakam. Buaya itu datang bukan buat mengancam, melainkan menghantarkan jasad utuh seorang balita yang pernah tenggelam di sungai itu.
Balita tersebut bernama Muhammad Ziyad Wijaya (4). Dua hari bocah itu hilang setelah bermain di Sungai Mahakam. Mulanya, Ziyad hanya bermain di pinggir sungai belakang rumahnya. Namun bocah itu tiba-tiba hilang.
Keluarga dan tim Basarnas telah melakukan pencarian, namun hasilnya nihil. Siapa sangka, tubuh Ziyad diantar oleh seekor buaya muara ke keluarganya yang berada di tepi Perairan Muara Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi pagi saat tim bergerak melakukan pencarian orang hilang hari kedua. Sekitar jam 7 pagi tim mendapat informasi keluarga bahwa mereka melihat ada seekor buaya membawa jasad manusia. Setelah dilepas ternyata jasad itu anak yang kita cari," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Kaltim waktu itu, Melkianus Kotta, dalam arsip BeritaKlik pada Jumat (20/1/2023).
Jasad Ziyad ditemukan di Perairan Muara Jawa, Kutai Timur. Saat itu tubuh Ziyad dibawa dari tengah sungai menuju ke tepi sungai dan telah ditunggu oleh pihak keluarga. Buaya itu seolah membantu keluarga dan petugas untuk menemukan jasad Ziyad yang tenggelam.
"Jaraknya dari lokasi kejadian itu 1,5 kilometer. Saat buaya berada di dekat keluarga, langsung dilepaskan korban," tutur Melkianus.
Cara Buaya Antar Jasad Balita
Melki menyebut buaya mengantar jasad Ziyad ke tepi sungai dengan cara menggigit punggungnya. Security perusahaan di sekitar lokasi jadi orang yang pertama kali melihat buaya membawa jasad Ziyad. Mulanya, security cerita melihat buaya tengah berenang dengan membawa tubuh bocah.
"Itu dari tengah sungai buayanya berenang jaraknya sekitar 200 meter itu lalu ke pinggir sungai," tuturnya.
Saat berada di pinggir sungai, buaya tersebut sempat tenggelam sambil membawa tubuh itu sebanyak tiga kali. Saat kali ketiga buaya tersebut melepaskan jasad bocah dari mulutnya.
"Sampai di pinggir sungai, buaya itu awalnya tenggelam sambil bawa tubuh korban sebanyak tiga kali. Nah yang ketiga tubuh korban muncul, sedangkan buaya itu sudah menjauh," paparnya.
Melihat buaya menjauh, keluarga kemudian mendatangi jasad Ziyad menggunakan kapal dan membawanya ke darat. Melkianus mengatakan jasad Ziyad kemudian langsung dievakuasi ke rumah duka. Setelah dicek semua utuh, tak ada satupun bagian tubuh Ziyad yang hilang.
"Enggak ada yang hilang, semua utuh. Jadi buaya ini kalau di kita malah membantu menemukan pencarian korban," ucapnya.
Melkianus mengatakan, saat Ziyad terjatuh dan tenggelam di sungai, tidak ada tanda-tanda kehadiran buaya. Ziyad diduga hanya bermain di pinggir sungai, tepatnya di belakang rumahnya dan kemudian tiba-tiba hilang.
"Tidak ada sangkut paut saat korban terjatuh dengan buaya. Pada saat kejadian itu situasi tidak ada yang liat dia jatuh," ungkapnya.
"Setelah saat itu, korban sudah tidak terlihat lagi namun mainan milik korban masih ada," tuturnya.
Baca selanjutnya, Dikaitkan dengan Mitos Orang Kalimantan...
Dikaitkan dengan Mitos Orang Kalimantan
Aksi buaya tersebut bahkan sempat terekam kamera ponsel warga. Dalam video beredar, terlihat seekor buaya membawa jasad Ziyad yang disimpan di mulutnya. Buaya itu perlahan mengarah ke tepi sungai.
Sejumlah orang yang menunggu di tepi sungai pun terdengar menerka-nerka apa yang dibawa oleh buaya tersebut. Seorang pria dalam video menyebut melihat ada bagian tubuh kepala dan tangan.
Sorotan gambar dalam video itu terus menyorot buaya yang menuju tepi sungai. Pria lain dalam video kemudian terdengar menyebut buaya itu berniat mengantar.
Mengamati hal tersebut, Peneliti Satwa Liar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Ma'ruf mengatakan fenomena itu memang mungkin terjadi, sebab buaya itu sudah lebih dulu makan.
Selain itu, menurut Amir, kedekatan dengan manusia di sekitar habitatnya bisa menjadi salah satu faktor. Dia juga mengatakan buaya itu bisa saja sudah terbiasa dengan makanan tertentu.
"Jadi semacam sudah terbiasa dengan orang-orang. Nah kemudian, karena dia sudah terbiasa dengan jenis makanan tertentu," kata Amir.
Lebih lanjut, Amir mengatakan kebiasaan dengan manusia di sekitar habitatnya bisa membuat buaya menganggap manusia bukan makanannya. Namun Amir menegaskan, kasus demikian tidak bisa dianggap terjadi pada semua buaya.
"Karena satwa pada umumnya, anggaplah bisa memenuhi timbal balik dengan manusia. Misalnya bukan hanya buaya, yang lain pun seperti itu, terus sering berinteraksi, bagi dia (jasad balita) itu bukan makanannya," katanya.
Di lain sisi, ada pula mitos beredar bahwa warga asli Kalimantan tidak pernah dimangsa buaya. Amir pun mengaku tak mengetahui lebih jauh soal mitos itu. Namun dia menjelaskan, warga Kalimantan atau orang lokal biasanya memiliki kearifan lokal soal buaya.
"Contoh orang dayak, orang dayak punya kearifan lokal. Satu, mereka sudah tahu tempat-tempat di mana ada buaya, mereka sudah tahu perilaku buaya. Artinya ketika buaya makan jam berapa mereka tahu akhirnya mereka menghindari (dimangsa buaya)," ujar Amir.
Amir mengatakan, kondisi itu berbanding terbalik dengan orang dari luar Kalimantan. Menurut Amri, warga dari luar Kalimantan cenderung tak tahu banyak soal buaya sehingga menjadi rentan diserang.
Tapi Amir tak menampik, ada mitos lain terkait buaya, yakni adanya hubungan kekerabatan buaya dengan manusia. Masyarakat yang tinggal di Pulau Kalimantan sebagian besar banyak mempercayai hal itu.
"Ada juga, ini saudaranya-saudaranya (hubungan antara manusia dan buaya), itu saya nggak ngerti," terangnya.
Nasib Buaya Penyelamat Jasad Ziyad
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) mengungkap nasib buaya muara tersebut. Buaya itu tidak dievakuasi lantaran wilayah sudah menjadi habitatnya.
Kepala BKSDA Kaltim, Matheas Ari Wibawanto mengatakan, Sungai Mahakam memang menjadi habitat binatang melata. Menurutnya, ada ratusan buaya dengan berbagai ukuran yang berada di perairan tersebut.
"Jumlahnya antara puluhan bahkan ratusan, karena di muara itu adalah habitatnya dan sebagai tempat beranak-pinak. Ukurannya juga berbagai macam," terangnya.
Lebih lanjut Ari menekankan agar masyarakat setempat tetap waspada saat beraktivitas di lokasi khususnya di kawasan muara. BKSDA juga sudah melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga.
Pihaknya juga telah memasang plang imbauan di lokasi-lokasi yang kerap menjadi wilayah habitat buaya. Hal ini demi mengantisipasi kasus penyerangan buaya terhadap manusia.
Menurut Ari, wilayah perairan di Kalimantan Timur dianggap menjadi habitat buaya. Kondisi ini sedianya membuat warga sudah sadar akan keberadaan buaya yang hidup berdampingan dengan warga.
"Mereka sebenarnya sudah paham terkait itu. Karena ketika masyarakat membangun rumah di pinggir sungai, mereka sudah paham di sana ada habitat buaya," beber Ari.