Pembangunan ekonomi di Kalimantan Utara (Kaltara) selama ini identik dengan sektor pertambangan batu bara, perkebunan, dan kawasan industri. Namun, akademisi menilai aset terbesar provinsi termuda di Indonesia justru terletak pada potensi pariwisata berkelanjutan berbasis alam dan budaya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Akademisi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bulungan Tarakan, Marso. Ia menilai kelestarian alam dan keragaman tradisi masyarakat lokal seperti budaya Dayak, Tidung, hingga sejarah Kesultanan Bulungan, merupakan modal ekonomi hijau yang sangat bernilai bagi masa depan daerah.
"Dunia sedang berubah. Wisatawan saat ini tidak lagi sekadar mencari tempat berfoto atau berlibur, tetapi mencari pengalaman autentik, belajar budaya lokal, dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan," ujar Marso, Selasa (2/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Kaltara memiliki momentum emas untuk belajar dari banyak destinasi global yang kini kewalahan menghadapi dampak wisata massal (overtourism). Dengan merancang pariwisata secara bijak sejak awal, hutan hujan tropis di Kaltara termasuk kawasan Kayan Mentarang, dapat bertransformasi menjadi destinasi ekowisata kelas dunia.
"Lebih ditekankan bahwa pendekatan ekowisata ini akan menggerakkan ekonomi secara langsung dari akar rumput," ucapnya.
Sirkulasi finansial tidak hanya akan dikuasai oleh segelintir investor raksasa, melainkan langsung dirasakan masyarakat lokal yang mengelola homestay, menyewakan transportasi sungai, menjadi pemandu wisata, hingga menjajakan kuliner dan kerajinan tradisional.
"Nilai sebuah hutan di era ekonomi hijau tidak lagi diukur dari apa yang bisa ditebang, tetapi dari apa yang bisa dilestarikan. Semakin terjaga hutannya, semakin besar nilai ekonomi yang dihasilkan," sambung pemerhati pembangunan daerah tersebut.
Selain potensi hutan pedalaman dan pesisir, posisi geografis Kaltara yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia menjadi nilai tawar strategis. Jutaan turis internasional yang bertandang ke Sabah dan Sarawak setiap tahunnya bisa ditarik masuk melalui skema cross-border tourism (wisata lintas batas), sehingga menjadikan Kaltara bagian dari jaringan wisata strategis Borneo.
"Meski memiliki potensi raksasa tak menampik adanya tantangan lapangan yang harus segera dituntaskan. Minimnya akses jalan menuju destinasi, ketersediaan dermaga, jaringan internet, hingga kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pelayanan wisata masih menjadi pekerjaan rumah," kata Marso.
"Tantangan ini justru menunjukkan bahwa ruang pengembangan masih sangat terbuka. Sudah saatnya pariwisata tidak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap, melainkan pilar utama. Kaltara memiliki segala potensi untuk menjadi wajah pariwisata berkelanjutan Indonesia di Pulau Borneo," imbuhnya.
(aau/aau)