Warga Perbatasan Pilih Gas Malaysia, Pemkab Malinau Ungkap Penyebabnya

Warga Perbatasan Pilih Gas Malaysia, Pemkab Malinau Ungkap Penyebabnya

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 25 Jun 2026 14:00 WIB
Gas Asal Malaysia di Perbatasan RI-Malaysia
Gas asal Malaysia di perbatasan RI-Malaysia/Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Malinau -

Warga di perbatasan RI-Malaysia, tepatnya di kawasan Apokayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, memilih menggunakan gas elpiji asal Malaysia. Sebab, gas elpiji 3 kilogram (gas melon) Indonesia belum menjangkau wilayah tersebut, dan harganya meroket hingga Rp 150 ribu per tabung di eceran.

Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kabupaten Malinau, Erly Sumiati, membenarkan situasi tersebut. Ia mengakui saat ini, distribusi elpiji 3 kg dari pemerintah belum bisa menyentuh kawasan Apokayan karena beratnya medan dan sulitnya akses transportasi.

"Di daerah Apokayan memang kita belum ada penyaluran elpiji ke sana. Makanya mereka menggunakan yang Malaysia punya," kata Erly kepada detikKalimantan, Kamis (25/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Erly menyebut pasokan elpiji di Kabupaten Malinau dikelola dua agen utama, yakni PT Naila dan PT Karyataman Nixon. Kendati demikian, seluruh rantai distribusi dari kedua agen tersebut masih terpusat secara eksklusif di wilayah perkotaan.

"PT Naila ini ada 26 pangkalan, tetapi pangkalan itu ada di wilayah perkotaan di Kabupaten Malinau. Nah, kalau PT Karyataman Nixon ini ada 10 pangkalan, itu di wilayah kecamatan yang ada di perkotaan juga. Karena sulit transportasi untuk pengiriman ke sana (Apokayan)," paparnya.

Erly menegaskan pemerintah daerah berupaya mencari jalan keluar agar warga perbatasan dapat menikmati elpiji bersubsidi tanpa harus bergantung pada negara tetangga. Pihaknya tengah merancang skema pembukaan pangkalan baru di wilayah perbatasan.

"Sebenarnya, pemerintah di daerah juga berencana untuk membuka pangkalan di wilayah Apokayan. Cuma kita masih pikir transportasi untuk pengiriman ke sana. Kalau bisa memungkinkan untuk pengiriman, kita akan buka pangkalan di wilayah Apokayan," tegas Erly.

Diberitakan sebelumnya, warga di Desa Long Nawang dan Desa Nawang Baru, Kecamatan Kayan Hulu, terpaksa menggunakan gas Petronas karena harga elpiji 3 kg Indonesia tidak ramah di kantong. Salah seorang warga Nawang Baru, Amay Christo, mengungkapkan harga gas melon di desanya menembus angka Rp 150 ribu.

Tingginya harga merupakan imbas dari rantai pasok jalur darat yang sangat panjang dan memakan biaya besar dari Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

"Di Desa Long Bagun harganya sudah Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu. Ongkos antarnya sampai ke Apokayan itu Rp 50 ribu untuk satu tabung. Jadi harga jualnya sampai di sini menjadi Rp 150 ribu," ungkap Amay, Rabu (24/6).




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads