Akar bajakah tiba-tiba booming di 2019. Semuanya berawal dari penelitian tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya yakni Yazid Rafli Akbar, Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri.
Mereka memperkenalkan obat tradisional yang mampu menyembuhkan penyakit tumor ganas yaitu kanker payudara, di kompetisi internasional. Dikutip detikHealth dari official account Indonesian Young Scientist Association (IYSA), Yazid, Aysa dan Anggina mengikuti lomba Youth National Science Fair (YNSF) 2019 di Universitas Pendidikan Bandung (UPI).
Setelah menjadi salah satu pemenang di YNSF, mereka dikirim sebagai perwakilan Indonesia untuk mengikuti World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan pada 25-27 Juli 2019. Di Seoul, mereka meraih gold medals melalui obat kanker yang dihasilkan dari tanaman alami. Tanaman yang mereka perkenalkan dalam ajang tersebut adalah akar bajakah tunggal yang berasal dari tanah Kalimantan Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Kesehatan waktu itu, Nila F Moeloek mengapresiasi inovasi mereka dalam pengobatan tradisional. Menkes berharap penelitian tersebut dikaji lebih lanjut untuk bisa melihat manfaatnya secara menyeluruh.
"Saya belum lihat. Tapi itu tentu masih harus kita lihat dan kita teliti kembali," tutur Menkes saat dijumpai detikHealth, Selasa (13/8/2019).
Bahkan, Presiden RI waktu itu, Joko Widodo (Jokowi) juga mengapresiasi hasil penelitian tiga pelajar tersebut. "Saya kira ini sebuah riset yang dilakukan anak-anak tapi menemukan penemuan besar," katanya dikutip detikNews, Kamis (15/8/2019).
Selain itu, Jokowi mengatakan pemerintah mesti memberikan perhatian kepada para peneliti muda seperti mereka. "Tapi itu kan baru awal. Nanti ada tindak lanjut menuju ke sebuah penelitian yang lebih detail," ujarnya.
"Yang penting ketemu anak-anaknya dulu. Ya kan? Seperti apa, sehingga kita tahu hubungan apa yang sudah diberikan pemerintah pusat kepada para peneliti-peneliti muda ini," imbuh Jokowi.
Setelah apa yang dilakukan tiga pelajar itu viral, soal akar bajakah seolah menjadi tren. Ada banyak pembahasan soal khasiatnya di media sosial, hingga banyak yang menjualnya secara online.
Di tengah viralnya akar bajakah sebagai 'obat' kanker payudara, tiga siswa tersebut sempat kelimpungan meladeni rasa penasaran warga. Aysa mengungkapkan rumah mereka bertiga disambangi warga untuk meminta akar bajakah.
"Iya benar, rumah kita sampai didatangi banyak warga untuk minta akar bajakah itu," ujar Aysa kepada detikHealth saat ditemui di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di daerah Jakarta Selatan, Sabtu (17/8/2019).
Menjawab rasa penasaran warga, Aysa dan kedua temannya menjelaskan bahwa obat ini harus diteliti lebih lanjut untuk bisa diproduksi secara luas. "Ya kami menjelaskan kepada mereka kalau ini baru penelitian awal, jadi belum bisa diproduksi luas. Kita kan harus meneliti untuk memastikan khasiatnya," jelasnya.
Hampir 7 tahun berlalu, kini detikKalimantan akan kembali mengulas akar bajakah. Helita, guru yang waktu itu mendampingi tiga siswa tersebut melakukan penelitian, bisa menggambarkan betapa booming-nya bajakah kala itu. Menurutnya, orang berbondong-bondong ke Kalteng mencari bajakah.
"Iya betul (booming banget). Seluruh Indonesia berbondong-bondong ke Kalteng ingin mendapatkan bajakah pada saat dan ada larangan dari pemda tidak boleh membawa bajakah keluar dari Kalteng baik pengiriman dll," kata Helita kepada detikKalimantan, Rabu (1/7/2026).
"Dimuat di seluruh media elektronik dan nonelektronik internasional, nasional dan lokal. Wawancara live dari beberapa stasiun TV," imbuhnya.
