Pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir September 2026. Kondisi tersebut dipicu gangguan pada sejumlah pembangkit listrik milik perusahaan swasta yang menjadi mitra PT PLN.
Hal itu dijelaskan General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UID Kalselteng), Iwan Soelistijono. Ia mengatakan proses normalisasi sistem kelistrikan membutuhkan waktu karena sejumlah pembangkit masih menjalani perbaikan.
"Kita perkirakan di akhir September 2026 keadaan akan kembali normal seperti biasanya," ujar Iwan, Jumat (3/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iwan menjelaskan, salah satu penyebab utama terganggunya pasokan listrik berasal dari kerusakan mesin di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Bangkanai di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Selain itu, gangguan juga terjadi di sejumlah pembangkit listrik swasta lainnya.
Menurut Iwan, saat ini sekitar 11 pembangkit listrik swasta sedang menjalani perbaikan. Kerusakan tersebut tidak terjadi secara bersamaan, melainkan bergiliran. Ia pun memohon kesabaran warga setempat.
"11 pembangkit milik swasta ini dalam proses perbaikan. Kerusakan ini bukan terjadi secara bersamaan, tetapi bergiliran. Kita berdoa semoga tidak ada gangguan tambahan," katanya.
Meski perbaikan diperkirakan rampung pada akhir September, PLN memastikan mulai Jumat (3/7/2026) sistem kelistrikan akan memasuki status siaga. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi dampak pemadaman bergilir dan menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.
Dikatakan bahwa pembangkit yang mengalami gangguan merupakan milik sejumlah perusahaan swasta, di antaranya PT Indonesia Energi Dinamika, PT SKS Listrik Kalimantan, PT Indo Ridlatama Power, PT Cahaya Fajar Kaltim, PT Graha Power Kaltim, dan PT Cahaya Banjar Kaltim.
Sebelumnya, pemadaman listrik bergilir yang masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mulai memukul sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai jenis usaha yang mengandalkan pasokan listrik mengaku mengalami kerugian karena aktivitas produksi hingga pelayanan kepada pelanggan terpaksa terhenti.
Suyanto, pemilik Depo Ozone di Jalan Ahmad Yani, Plingkau, Kelurahan Baru, menjadi salah satu pelaku UMKM yang merasakan langsung dampak pemadaman bergilir tersebut. Ia mengaku pelayanan kepada pelanggan sering terganggu akibat listrik yang padam secara berulang.
"Sampai kapan perbaikan atau kondisi PLN seperti ini? Kami UMKM kecil yang bergantung pada listrik jadi korban ketidakpastian. Tolong wakil-wakil rakyat yang duduk di parlemen, kondisi saat inilah yang kami perlukan untuk disuarakan," ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Para pelaku UMKM menegaskan mereka memahami apabila pemadaman dilakukan sebagai bagian dari proses perbaikan jaringan listrik. Namun, mereka berharap gangguan tersebut tidak berlangsung terlalu lama karena semakin panjang durasi pemadaman, semakin besar pula kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha.
(aau/aau)
