Sosok Prajogo Pangestu, Orang Terkaya RI Asal Kalimantan Barat

Sosok Prajogo Pangestu, Orang Terkaya RI Asal Kalimantan Barat

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Jumat, 13 Feb 2026 09:01 WIB
Prajogo Pangestu
Prajogo Pangestu. Foto: Dok Forbes
Sambas -

Daftar terbaru orang terkaya di Indonesia dirilis oleh Bloomberg Billionaires Index. Di pertengahan bulan Februari, Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia. Siapakah dia?

Prajogo Pangestu berada di posisi teratas orang terkaya Indonesia, dengan kekayaan di kisaran US$ 34 miliar atau sekitar Rp 570 triliun. Jumlah itu menjadikannya orang terkaya Indonesia sekaligus berada di peringkat 71 orang terkaya di dunia.

Dilansir dari CNBC dan detikFinance, sebanyak empat saham dikendalikan oleh Prajogo di Bursa Efek Indonesia (BEI). Empat saham tersebut, yakni holding energi PT Barito Pacific Tbk (BRPT), perusahaan petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), emiten geotermal, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan emiten batu bara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah kondisi gejolak pasar dan dinamika perekonomian nasional, kekayaan Prajogo malah justru semakin menguat. Forbes Real Time Billionaires merilis laporannya pada akhir Januari, mencatat kekayaan Prajogo Pangestu mencapai US$ 36 miliar atau setara Rp 610,59 triliun.

Pada akhir tahun 2025, Forbes juga mencatat harta miliarder petrokimia dan energi itu kekayaan bersihnya meningkat sebesar 23% menjadi US$ 39,8 miliar. Harta konglomerat asal Indonesia Prajogo Pangestu melesat di akhir tahun lalu. Dalam sehari kekayaannya bertambah US$ 1,4 miliar atau setara Rp 23,74 triliun (kurs Rp 16.961).

Belum lama ini ia tercatat melakukan pembelian 1 juta lembar saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berdasarkan laporan kepemilikan saham perusahaan terbuka kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pembelian dilakukan pada 15 Januari 2026 melalui 7 transaksi dengan harga saham bervariasi, mulai dari Rp 9.525 per saham sampai Rp 9.675 per saham.

Seluruh transaksi disebut untuk tujuan investasi pribadi. Dengan penambahan 1 juta lembar saham tersebut, total kepemilikan saham Prajogo Pangestu naik dari 139.789.700 unit (0,104%) menjadi 140.789.700 unit (0,105%).

Selain BREN, Prajogo Pangestu juga meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Ia membeli sebanyak 3.502.000 saham CUAN dengan nilai transaksi sekitar Rp 6,55 miliar.

Sosok Prajogo Pangestu

Prajogo PangestuPrajogo Pangestu (kanan). Foto: dok.BeritaKlik

Di balik kesuksesannya saat ini, Prajogo Pangestu memiliki perjalanan panjang dalam membangun karir dan bisnisnya. Pundi-pundi kekayaannya berhasil dikumpulkan melalui usaha keras dan jerih payahnya sendiri.

Dalam arsip catatan BeritaKlik, Prajogo Pangestu diketahui adalah anak seorang pedagang karet yang lahir di Sambas, Kalimantan Barat 81 tahun lalu. Karena keterbatasan ekonomi, Prajogo hanya mampu mengenyam pendidikan hingga tingkat menengah.

Kondisi tersebut yang membuat dia berpikir untuk mencari pekerjaan. Meskipun sempat mencoba peruntungannya di Jakarta, namun perjuangannya tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Akhirnya Prajogo kembali ke kampung halamannya. Ketika kembali di kampung halamannya, ia mulai bekerja sebagai sopir angkot dan membuka usaha kecil-kecilan dengan menjual bumbu dapur dan ikan asin.

Di sela-sela pekerjaannya, Prajogo bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray pada tahun 1960-an. Pertemuan tersebut menjadi titik balik nasib Prajogo.

Pada tahun 1969, Prajogo memutuskan untuk bergabung di perusahaan milik Burhan, yakni PT Djajanti Grup. Tujuh tahun kemudian, Burhan mengangkat Prajogo menjadi general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur.

Prajogo hanya menjabat sebagai GM Djajanti Group selama satu tahun saja. Karena dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan membeli sebuah perusahaan yang saat itu mengalami krisis finansial, yang bernama CV Pacific Lumber Coy.

Prajogo Pangestu memulai bisnis kayu pada akhir tahun 1970-an. Pada saat itu, Prajogo mengajukan pinjaman dari bank untuk membeli perusahaan tersebut. Setelah akuisisi, perusahaan tersebut diubah namanya menjadi PT Barito Pacific.

Perusahaan yang didirikannya saat itu mulai go public pada tahun 1993 dan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lalu pada tahun 2007, ia mengganti nama perusahaannya menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayunya.

Barito Pacific mengurangi bisnis kayu dan mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia Chandra Asri. Pada 2011, perusahaan Chandra Asri terus menguat setelah merger dengan Tri Polyta Indonesia dan perusahaan energi Thaioil menjadi investor dengan mengakuisisi 15% saham.

Perusahaan milik Prajogo kemudian menjadi produsen petrokimia terbesar di Indonesia. Mereka kemudian memulai mengembangkan situs petrokimia kedua pada 2022.

Setelah perusahaan pertambangan batu baranya Petrindo Jaya Kreasi go public pada Maret 2023, Pangestu mencatatkan saham perusahaan energi terbarukan Barito Renewables Energy (BREN) enam bulan kemudian pada Oktober 2023.

Selain BREN, Prajogo juga sempat mencatatkan saham emiten PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Berkat melantainya dua emiten ini di BEI, kekayaan Prajogo mengalami peningkatan yang sangat besar hingga membawanya jadi orang terkaya di RI.

Saham BREN tercatat melonjak sebesar 435% sejak pertama kali mencatatkan diri di BEI pada 9 Oktober 2023. Dari harga perdana Rp 975 per lembar saham, saham BREN kini sudah di level Rp 5.225 per lembar saham.

Sementara CUAN melonjak 145% dalam rentan waktu satu bulan. Pada 10 Oktober lalu CUAN diperdagangkan di level Rp 2.850, namun kini sudah di level Rp 7.000 per lembar saham. Jika ditarik dalam periode 3 bulan saat harga CUAN masih Rp 1.815, emiten ini menguat sebesar 285.67%.

Para konglomerat hadir dalam upacara HUT ke-79 RI di IKNPara konglomerat hadir dalam upacara HUT ke-79 RI di IKN, salah satunya Prajogo Pangestu. Foto: Dok. Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

Gebrakan terbaru dari Prajogo belum lama ini adalah dia membeli 33,33% saham Star Energy dari BCPG Thailand seharga US$ 440 juta atau sekitar Rp 6,29 triliun (kurs Rp 14.300/dolar AS). Kabarnya, Prajogo membeli saham Star Energy itu ini melalui salah satu perusahaan swasta yang dimiliki, Green Era.

Prajogo memiliki saham di Star Energy 66,6%. Oleh sebab itu, melalui akuisisi 33,33% saham Star Energy tersebut, kini Prajogo mempunyai kepemilikan penuh atas Star Energy yang memiliki tiga proyek panas bumi di Indonesia. Tiga proyek panas bumi Star Energy yang dimaksud adalah PLTP Wayang Windu, PLTP Salak, dan PLTP Darajat di mana semuanya berada di Jawa Barat.

Berikut rekam jejak karir dan usaha Sang Taipan dari Sambas, Prajogo Pangestu:

PT Mangole Timber Producers - Direktur Utama (1969-1977)
PT Barito Pacific Lumber - Direktur Utama (1976)
Barito Pacific Group - (1977)
PT Barito Pacific Timber (dh. PT Bumi Raya Pura Mas Kalimantan) - Direktur Utama (1979-1993)
PT Mangole Timber Producers - Direktur Utama (1982-1993)
PT Tunggal Agathis Indah Wood Industries - Direktur Utama (1987-1998)
PT Tunggal Yudi Sawmill Plywood - Direktur Utama (1987-1998)
PT Musi Hutan Persada - Komisaris (1991-1993)
PT Mangole Timber Producers - Komisaris Utama (1993-1998)
PT Astra International Tbk - Wakil Komisaris Utama (1993-1998)
PT Tripolyta Indonesia Tbk - Komisaris (1989-1999)
PT Chandra Asri - Direktur Utama (1990-1999)
PT Tanjungenim Lestari Pulp & Paper - Komisaris Utama (1999-2005)
PT Tanjungenim Lestari Pulp & Paper - Wakil Komisaris Utama (1997-1999)
PT Barito Pacific Tbk (d/h PT Barito Pacific Timber) - Komisaris Utama (1993-sekarang).

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Lomba Cerdas Cermat di Kalbar Viral Bikin Pimpinan MPR Minta Maaf"
[Gambas:Video 20detik]
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads