Jembatan Tumbang Nusa, Penggerak Ekonomi Kalimantan Tengah

Jembatan Tumbang Nusa, Penggerak Ekonomi Kalimantan Tengah

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 19 Mei 2026 19:01 WIB
Jembatan Tumbang Nusa.
Jembatan Tumbang Nusa. Foto: Dok. Istimewa
Palangka Raya -

Kalimantan Tengah memiliki daratan yang terdiri dari tanah podosit merah dan gambut. Tanah gambut sendiri, menurut laporan Dinas Kehutanan Kalteng, memenuhi 11,63% tanah di sana.

Tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dan mengandung banyak air. Didominasi bahan organik, tanah jenis ini sangat lunak dan tidak stabil. Maka itu, Jembatan Tumbang Nusa dibangun di atas rawa gambut Kalteng dengan tujuan untuk mempermudah mobilitas dan arus perekonomian.

Sebelumnya, jalan di sepanjang kawasan Tumbang Nusa berupa aspal yang sering terputus karena kondisi tanah gambut yang tidak stabil. Kawasan tersebut dikenal sebagai daerah rawan banjir yang memperparah kondisi jalan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat musim hujan tiba dan Sungai Kahayan meluap, Jalan Trans Kalimantan poros selatan sering terendam air. Kondisi ini menyebabkan kemacetan panjang kendaraan, terganggunya distribusi logistik, hingga lumpuhnya aktivitas ekonomi antar provinsi. Karena itulah pembangunan jembatan Tumbang Nusa menjadi proyek yang sangat strategis bagi Kalimantan Tengah.

Bagi masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, jalur Palangka Raya-Banjarmasin memiliki peran vital dalam mobilitas sehari-hari. Jalur ini dilalui kendaraan pribadi, bus antarkota, dan truk pengangkut sembako dan logistik.

Saat ini, keberadaan jembatan sepanjang 10,5 kilometer itu menjadi salah satu infrastruktur paling penting di Kalimantan Tengah sekaligus menjadi jembatan layang terpanjang di Pulau Kalimantan.

Dibangun di Atas Rawa Gambut

Jembatan Tumbang Nusa berada di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Jembatan ini membentang di atas kawasan rawa gambut yang dialiri anak Sungai Kahayan.

Pembangunan jembatan dilakukan karena kondisi geografis kawasan tersebut sangat menantang. Jalan nasional yang menghubungkan Palangka Raya dengan Banjarmasin sebelumnya sering terendam banjir akibat luapan air rawa dan pasang sungai.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah membangun jalan layang dengan desain peninggian jalan sekitar tiga meter dari permukaan rawa. Konsep konstruksinya disebut mirip dengan Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo di Jakarta, tujuannya membangun jalur tinggi agar tetap bisa dilalui meski air meluap.

Jembatan ini dibangun menggunakan metode konstruksi pile slab dengan kedalaman tiang pancang mencapai 32 hingga 44 meter di bawah tanah. Konstruksi tersebut dipilih karena tanah gambut memiliki karakter lunak dan tidak stabil sehingga memerlukan pondasi yang sangat kuat.

Menariknya, jembatan ini dirancang agar mampu bertahan hingga sekitar 50 tahun.

Pembangunan Bertahap Hingga Capai 10,5 Kilometer

Pembangunan Jembatan Tumbang Nusa dilakukan secara bertahap selama bertahun-tahun menggunakan dana APBN. Tahap pertama dimulai pada tahun 2000 hingga 2004 dengan panjang sekitar 3,37 kilometer.

Kemudian tahap kedua dilanjutkan pada tahun 2005 hingga 2006 sepanjang 3,72 kilometer. Sementara tahap ketiga berlangsung pada tahun 2011 hingga 2014 dengan tambahan panjang sekitar 3,5 kilometer.

Awalnya, jembatan ini hanya direncanakan sepanjang 7 kilometer. Namun, pemerintah memutuskan memperpanjangnya menjadi 10,5 kilometer karena adanya kekhawatiran air pasang dan banjir rawa akan terus meluas hingga mencapai kawasan permukiman Desa Tumbang Nusa.

Dengan panjang tersebut, jembatan Tumbang Nusa menjadi salah satu jalan layang terpanjang di Kalimantan dan punya peran besar dalam menjaga konektivitas wilayah selatan Kalimantan.

Jalur Vital

Keberadaan Jembatan Tumbang Nusa sangat penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Jalur ini menjadi akses utama distribusi sembako, bahan bangunan, hasil perkebunan, hingga kebutuhan industri dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Tengah maupun sebaliknya.

Saat jalur ini terganggu akibat banjir, distribusi barang ikut terhambat dan harga kebutuhan pokok di beberapa daerah bisa terdampak. Karena itu, jembatan ini sering disebut sebagai salah satu urat nadi ekonomi kawasan Trans Kalimantan.

Bukan hanya untuk logistik, jalan ini juga menjadi jalur utama transportasi masyarakat antarkota. Ribuan kendaraan melintas setiap hari melewati kawasan Tumbang Nusa untuk menuju Palangka Raya maupun Banjarmasin.

Meskipu telah dibangun tinggi, kawasan ujung jalan layang masih kadang terdampak banjir ketika curah hujan sangat tinggi dan air rawa pasang. Kondisi tersebut sempat menyebabkan kemacetan panjang kendaraan dan menjadi keluhan masyarakat karena menghambat aktivitas distribusi barang.

Tetapi secara umum, keberadaan jembatan ini telah jauh mengurangi risiko terputusnya jalur Trans Kalimantan dibandingkan sebelum jalan layang dibangun.

Menjadi Daya Tarik Wisata

Selain berfungsi sebagai jalur transportasi, Jembatan Tumbang Nusa juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para pelintas. Pemandangan hamparan rawa gambut yang luas di kanan kiri jalan membuat banyak pengendara berhenti sejenak untuk menikmati suasana atau berfoto.

Ketika cuaca cerah, panorama alam di sekitar jembatan akan terlihat sangat khas Kalimantan dengan bentangan rawa, vegetasi gambut, serta aliran sungai Kapuas yang luas. Tidak sedikit yang singgah untuk berfoto saat melakukan perjalanan darat lintas provinsi.

Lebih dari sekadar jalan penghubung, jembatan tumbang nusa merupakan ikon konektivitas, pemerataan pembangunan, dan penggerak ekonomi di Kalimantan Tengah.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads