Harga Oli di Kotawaringin Barat Melambung, Omzet Bengkel Menurun

Kalimantan Tengah

Harga Oli di Kotawaringin Barat Melambung, Omzet Bengkel Menurun

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 04 Jun 2026 10:39 WIB
Bengkel terdampak kenaikan harga oli di Kotawaringin Barat.
Bengkel terdampak kenaikan harga oli di Kotawaringin Barat. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Jakarta -

Kenaikan harga oli kendaraan bermotor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai memicu keluhan dari berbagai kalangan. Tidak hanya pemilik kendaraan, para pelaku usaha bengkel di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, juga merasakan dampak serius dari lonjakan harga tersebut.

Sejak April 2026, harga oli terus merangkak naik tanpa menunjukkan tanda-tanda akan kembali stabil. Kondisi ini membuat biaya perawatan kendaraan melonjak tajam dan memaksa masyarakat mengeluarkan anggaran lebih besar hanya untuk kebutuhan servis rutin.

Muhammad Sodik, pemilik Bengkel Sukowati Motor di Jalan Samari, Madurejo, Pangkalan Bun, mengungkapkan bahwa kenaikan harga mulai terasa setelah Maret 2026. Menurutnya, hampir seluruh merek oli mengalami lonjakan harga yang signifikan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada bulan Maret harga masih relatif normal. Namun mulai April hingga sekarang terus mengalami kenaikan. Untuk oli, kenaikannya bahkan mencapai sekitar 40 persen dan hampir terjadi pada semua merek," ujar Sodik kepada detikKalimantan, Kamis (4/6/2026).

Lonjakan harga tersebut membuat harga oli yang sebelumnya terjangkau kini semakin membebani konsumen. Saat ini, oli termurah dijual di kisaran Rp45 ribuan per botol, sementara produk premium telah menembus angka lebih dari Rp100 ribu per botol.

Kenaikan yang begitu tajam langsung berdampak pada aktivitas bengkel. Banyak pelanggan yang terkejut ketika mengetahui harga terbaru sehingga memilih menunda penggantian oli kendaraan mereka demi menghemat pengeluaran.

Akibatnya, jumlah kendaraan yang masuk bengkel mengalami penurunan cukup signifikan. Sodik menyebut omzet usahanya merosot antara 30 hingga 40 persen sejak harga oli mulai merangkak naik pada April lalu.

"Banyak pelanggan yang kaget dengan harga sekarang. Dampaknya jelas terasa, jumlah konsumen berkurang dan omzet bengkel ikut turun cukup besar," jelasnya.

Tak hanya oli, sejumlah komponen kendaraan lainnya juga mengalami kenaikan harga. Suku cadang tercatat naik sekitar 10 hingga 15 persen, sedangkan harga ban luar meningkat hingga 20 persen. Meski demikian, kenaikan tersebut masih dianggap lebih ringan dibandingkan lonjakan harga oli.

Di sisi lain, konsumen juga mulai merasakan tekanan yang sama. Raffi, salah seorang pemilik kendaraan di Pangkalan Bun, mengaku terkejut saat harus membayar jauh lebih mahal untuk sekali penggantian oli dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

"Hari ini saya ganti oli dan harus membayar sekitar Rp85 ribu untuk satu botol. Padahal sebelumnya masih sekitar Rp55 ribu. Kenaikannya cukup membuat kaget," ungkapnya.

Menurut Raffi, kondisi tersebut membuat masyarakat harus menyusun ulang anggaran rumah tangga. Di tengah meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok, biaya perawatan kendaraan kini menjadi tambahan beban yang sulit dihindari

"Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya konsumen yang terdampak. Bengkel-bengkel kecil juga berpotensi menghadapi tekanan ekonomi akibat menurunnya jumlah pelanggan," ujarnya.

Para pelaku usaha berharap harga kembali stabil agar daya beli masyarakat pulih dan roda perekonomian lokal dapat kembali bergerak normal.




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads