Palangka Raya Catat Inflasi Tertinggi di Kalteng, Faktor Pangan-BBM

Kalimantan Tengah

Palangka Raya Catat Inflasi Tertinggi di Kalteng, Faktor Pangan-BBM

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Minggu, 07 Jun 2026 14:03 WIB
Bundaran Besar Palangka Raya. (dok MMC Kalteng)
Foto: Bundaran Besar Palangka Raya. (dok MMC Kalteng)
Palangka Raya -

Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Mei 2026. Bahan pangan dan BBM nonsubsidi menjadi faktor tingginya inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di ibu kota provinsi tersebut mencapai 0,70 persen, melampaui Sukamara sebesar 0,63 persen dan Sampit 0,42 persen. Sementara itu, Kabupaten Kapuas justru mencatat deflasi sebesar 0,32 persen.

Salah satu komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi adalah beras. Pemerintah Provinsi Kalteng telah berkoordinasi dengan Bulog untuk memastikan ketersediaan stok pangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski stok beras dinyatakan aman dan bahkan melebihi kebutuhan, pengawasan distribusi tetap diperketat guna menjaga stabilitas harga di pasar.

"Selain faktor pangan, kenaikan harga BBM non-subsidi juga dinilai turut mendorong inflasi," kata Penjabat Sekretaris Daerah Kalteng, Line Victoria Aden, saat beraktivitas di Car Free Day Bundaran Besar Palangka Raya, Minggu (7/6/2026).

Tingginya inflasi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dia meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan pengawasan harga kebutuhan pokok serta memperkuat langkah pengendalian inflasi.

"Ini harus menjadi perhatian bersama karena inflasi sangat memengaruhi daya beli masyarakat," ujarnya.

Menurut Line, pengendalian inflasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah provinsi. Setiap daerah diminta bergerak sesuai kondisi masing-masing agar lonjakan harga tidak semakin meningkat.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalteng, Yuliansah Andrias, menjelaskan bahwa kondisi inflasi Kalteng tahun ini berbeda dari pola yang biasanya terjadi setelah Idul Fitri.

"Biasanya setelah Lebaran terjadi penurunan harga atau deflasi. Namun tahun ini berbeda karena kenaikan harga BBM memengaruhi biaya distribusi dan harga pangan," jelasnya.

Lebih lanjut, BI Kalteng mengingatkan bahwa tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut pada Juni hingga Juli 2026. Bahkan, Kalimantan Tengah saat ini tercatat sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi ketiga secara nasional.

Yuliansah menyebut sejumlah faktor yang berpotensi memicu kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang, mulai dari ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi harga energi dunia, dampak El Nino terhadap produksi pangan, hingga tingginya ketergantungan pasokan barang dari luar daerah.

"Langkah antisipatif perlu disiapkan sejak sekarang agar dampaknya terhadap masyarakat bisa diminimalkan," katanya.

Pemerintah Provinsi Kalteng pun meminta seluruh instansi terkait memperkuat pengawasan distribusi barang, menjaga kelancaran pasokan, dan memastikan stok pangan tetap tersedia guna menahan laju inflasi yang diperkirakan masih akan meningkat dalam waktu dekat.

Halaman 2 dari 2
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 



Hide Ads