Mentan Instruksikan Harga Sawit Harus Kembali Normal: Bila Perlu Tambah 10%

Nasional

Mentan Instruksikan Harga Sawit Harus Kembali Normal: Bila Perlu Tambah 10%

Ignacio Geordi Oswaldo - detikKalimantan
Senin, 08 Jun 2026 12:50 WIB
Mentan Andi Amran Sulaiman rapat bersama bupati, Dirreskrimsus, hingga petani sawit membahas stabilisasi harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/6/2026). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti harga CPO dunia naik, tetapi harga sawit di petani turun. Mentan menyebut kondisi tersebut sebagai anomali yang tidak seharusnya terjadi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit sempat mengalami penurunan di berbagai daerah, termasuk Kalimantan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kondisi ini anomali, mengingat dolar Amerika Serikat (AS) sedang tinggi. Ia meminta agar harga TBS sawit kembali normal, bahkan naik 10% seiring dengan menguatnya dolar AS.

Dilansir detikFinance, Amran menyampaikan bahwa berbagai stakeholder telah dikumpulkan dan dicapai kesepakatan agar harga TBS kembali naik. Harga TBS sawit sendiri sempat melemah usai pengumuman mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang juga berlaku untuk komoditas sawit.

"Kami sampaikan Alhamdulillah hari ini sepakat tidak ada lagi harga yang turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan bila perlu itu naik lebih tinggi," tegas Amran dalam konferensi pers hasil rapat harga TBS bersama pengusaha dan petani di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amran menilai bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini seharusnya membuat harga TBS dalam negeri mengalami peningkatan. Ia menegaskan tidak ada alasan untuk menurunkan harga, apalagi jauh di bawah batas yang sudah ditetapkan. Seperti diketahui, saat ini dolar AS telah menembus level Rp18.000.

"Ini ada anomali, di saat ini harga harusnya naik bukan turun. Kenapa? Karena nilai dolar selisih (sudah naik) 10%. Ya harus naik, tidak ada alasan turun. Kenapa turun? Kami tanya, tidak ada yang bisa jawab. Oke kita sepakat semua, tidak ada satupun yang menolak. Ketua asosiasi, perusahaannya hadir, pengusahanya hadir, eksportirnya hadir, semua sepakat harga kembali seperti semula," katanya.

Amran menambahkan, wajarnya harga TBS naik 10% sesuai dengan kenaikan dolar. Ia menilai kondisi ini seharusnya bisa menjadi momentum untuk meningkatkan sektor pertanian.

"Harusnya (harga TBS) naik 10% daripada harga sebelumnya. Karena ada selisih. Nilai dolar sekarang Rp 18 ribu. Harusnya momentum ini, kesempatan ini, sektor pertanian, kita gunakan dengan baik. Tahun lalu ekspor kita naik Rp 167 triliun," lanjutnya.

Untuk kondisi saat ini, Amran menjelaskan 70% harga TBS mulai pulih pada rentang normal di Rp 3.200 sampai Rp 3.600 per kg. Harga TBS sawit normal masih bergantung pada masing-masing daerah sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub).

"Harusnya harga (TBS) naik 10% justru turun, tapi Alhamdulillah tadi laporan sudah 70% berangsur-angsur pulih. Mulai hari ini harus kembali 100% dan bila perlu tambah 10% dari harga sebelumnya karena nilai dolar," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di detikFinance dengan judul Mentan Bingung Harga Sawit RI Turun Saat Dolar Tinggi: Ini Anomali!




(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads