Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026 mencapai 4,47 persen. Kenaikan tersebut signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 1,06 persen.
Plt Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, menjelaskan kenaikan inflasi dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas strategis, terutama beras, bensin, minyak goreng, ikan nila, ikan patin, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, hingga tarif angkutan udara.
"Inflasi terjadi karena hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kontributor terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya hingga harga BBM yang naik jadi pemicunya," ujar Maria dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data BPS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Tengah pada Juni 2026 berada di angka 112,61. Dari empat daerah pemantauan, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,01 persen, sedangkan Kabupaten Sukamara menjadi yang terendah dengan inflasi 3,81 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi dengan andil 2,37 persen. Posisi berikutnya ditempati kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang menyumbang 0,61 persen, serta kelompok transportasi sebesar 0,58 persen. "Tingginya harga beras dan bahan bakar minyak menjadi faktor paling dominan dalam mendorong kenaikan tersebut," katanya.
Di tengah lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok, BPS juga mencatat sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga ikut menahan laju inflasi.
"Beberapa di antaranya adalah daging ayam ras, terong, cumi-cumi, kelapa, buah naga, dan rampela hati ayam," ujarnya.
Selain inflasi tahunan, Kalimantan Tengah juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,23 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga Juni 2026 telah mencapai 2,39 persen.
Meningkatnya inflasi ini menjadi perhatian karena berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila tidak diimbangi dengan upaya pengendalian harga. Stabilitas pasokan pangan, kelancaran distribusi barang, serta pengawasan terhadap ketersediaan energi dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada bulan-bulan berikutnya.
(aau/aau)
