Peran Tuan Tunggang Parangan Mengislamkan Kutai dan Mitos Kesaktiannya

Peran Tuan Tunggang Parangan Mengislamkan Kutai dan Mitos Kesaktiannya

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Selasa, 10 Mar 2026 09:00 WIB
museum mulawarman, kedaton kutai kartanegara, masjid jami aji amir hasanuddin
Kedaton Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Foto: Ahmad Masaul Khoiri/BeritaKlik
Balikpapan -

Berkembangnya Islam di tanah Kalimantan tidak terlepas dari sosok Tuan Tunggang Parangan. Beliau adalah ulama yang mensyiarkan agama Islam di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara.

Untuk mengetahui siapa Tuan Tunggang Parangan, simak asal usul beliau, lengkap dengan mitos yang menyertai, serta perkembangan Islam di masa itu.

Asal Usul Tuan Tunggang Parangan

Tuan Tunggang Parangan adalah seorang ulama besar pada masa lalu. Dalam jurnal berjudul Masuk dan Berkembangnya Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara oleh Samsir dari IAIN Samarinda, dia datang bersama rekannya yang bernama Datuk Ribandang atau Tuan Ribandang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum mencapai Kutai, kedua ulama ini terlebih dahulu datang ke tanah Makassar dan Bugis dengan tujuan menyebarkan agama Islam.

Ada sejumlah versi mengenai nama asli Tuan Tunggang Parangan. Pertama, masyarakat setempat meyakini Tuan Tunggang Parangan adalah Syekh Abdurrahman al Idrus (Datuk Tiro). Versi kedua menurut Mattulada bahwa Datuk Di Tiro adalah Abd Jawad.

Yang ketiga, menurut Rabithah Alawiyah, Tuan Tunggang parangan adalah Habib Hasyim bin Musayya bin Yahya, seorang ulama yang datang dari Negeri Matan (sekarang Ketapang) bersama sahabatnya Datuk Ribandang, berasal dari negeri kota tengah kampar Riau yang telah lama menetap di Sulawesi Selatan dan dua orang temannya, yaitu Khatib Sulaiman dan Khatib bungsu (Datuk Di Tiro).

Mitos Kesaktian Tuan Tunggang Parangan

Syiar agama di Kutai tidaklah mudah, karena agama Hindu sudah mendarah daging dalam sendi kehidupan masyarakat. Ajakan masuk Islam tersebut awalnya mendapat penolakan dari Raja Mahkota, yang berpendapat bahwa penduduk Kutai Kartanegara sudah mencapai derajat kemuliaan dengan Hindu.

Tuan Tunggang Parangan pun harus beradu kesaktian dengan Raja Mahkota agar keberadaannya diterima. Di sinilah mitos mengenai kesaktian dari Tuan Tunggang Parangan dikenal hingga sekarang.

Dalam buku Salasilah Kutai yang disusun D Adham terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Raja Mahkota menantang ulama tersebut untuk beradu kesaktian di alun-alun. Peristiwa ini disaksikan para menteri, petinggi, hulubalang, dan masyarakat.

Dikisahkan bahwa sang ulama memiliki kesaktian luar biasa, seperti menunggangi ikan hiu parang. Kisah inilah yang membuat dirinya dikenal dengan nama Tuan Tunggang Parangan.

Kemenangan spiritual Tuan Tunggang Parangan dalam adu ilmu tersebut pada akhirnya berhasil melunakkan hati sang raja. Para ahli sejarah sepakat bahwa raja Kutai pertama yang akhirnya memeluk agama Islam adalah Raja Putra Mahkota (Raja Mahkota).

Perkembangan Islam Selanjutnya

Setelah agama Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan oleh raja, proses islamisasi mulai berjalan pesat dan damai. Perlahan-lahan rakyat Kutai pun ikut meninggalkan kepercayaan lama mereka untuk memeluk Islam.

Peran Tuan Tunggang Parangan tidak berhenti pada mengislamkan keluarga keraton. Beliau mulai mengajarkan ilmu tauhid dan ajaran Islam secara menyeluruh kepada masyarakat. Secara khusus, beliau juga mengajarkan ilmu fikih yang berhubungan erat dengan tata cara pelaksanaan ibadah, seperti ibadah shalat.

Secara bertahap, agama Islam mulai berkembang pesat dari perkampungan di sekitar ibu kota kerajaan hingga meluas ke daerah pantai. Ketekunan dan kesabaran Tuan Tunggang Parangan dalam berdakwah membuahkan hasil yang gemilang.

Bahkan dari didikannya, lahirlah guru dan ulama-ulama baru yang meneruskan misi penyebaran ajaran Islam, khususnya di kawasan Kalimantan Timur. Penyebaran Islam semakin meluas melalui pendidikan, perdagangan, perkawinan silang, hingga akulturasi seni dan kebudayaan penduduk lokal.

Makamnya berada di Kutai Lama, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, satu kompleks dengan makam raja-raja. Banyak orang yang berziarah ke makam beliau hingga sekarang.

Halaman 2 dari 2
(bai/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads