Tradisi Telingaan Aruu, Warisan Dayak Terakhir di Long Beluah

Tradisi Telingaan Aruu, Warisan Dayak Terakhir di Long Beluah

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 07 Apr 2026 09:00 WIB
Idung Kusow, wanita Dayak bertelinga panjang di Long Beluah, Bulungan, Kaltara.
Tradisi bertelinga panjang di Long Beluah. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Bulungan -

Satu tradisi yang terkenal dari masyarakat Dayak adalah Telingaan Aruu. Mungkin bagi sebagian orang masih asing dengan istilah ini, tetapi pasti detikers familiar ketika melihat telinga panjang orang Dayak.

Nama tradisinya adalah Telingaan Aruu. Di desa-desa terpencil seperti Long Beluah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, tradisi ini dulunya menjadi bagian penting dari kehidupan. Panjang telinga menjadi tanda bahwa seseorang masih memegang erat budaya yang diwariskan turun-temurun. Tapi sekarang, Telingaan Aruu mulai ditinggalkan dan umumnya hanya bisa ditemukan pada generasi tua, sehingga bisa disebut sebagai warisan terakhir yang perlahan menghilang.

Proses Telingaan Aruu sendiri sudah dimulai sejak seseorang masih bayi. Tahap awal disebut mucuk penikng, yaitu ritual penindikan telinga sebagai langkah pertama. Setelah itu, lubang telinga tidak langsung melebar, melainkan dilakukan bertahap. Awalnya menggunakan benang, lalu diganti dengan potongan kayu atau logam yang ukurannya terus ditambah sedikit demi sedikit. Proses ini dilakukan perlahan agar telinga bisa beradaptasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring waktu, pemberat berupa anting tradisional mulai digunakan, biasanya terbuat dari logam seperti tembaga atau kuningan. Anting ini berfungsi menarik daun telinga supaya bisa memanjang secara alami. Yang menarik, anting tersebut hampir selalu dipakai dalam keseharian, bahkan saat tidur, sehingga proses pemanjangan terjadi terus-menerus tanpa jeda.

Butuh waktu bertahun-tahun hingga telinga mencapai panjang tertentu, bahkan pada beberapa perempuan Dayak, panjangnya bisa mendekati dada. Karena dijalani dalam jangka waktu panjang dan menyatu dengan aktivitas sehari-hari, Telingaan Aruu menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.

Makna Simbolik Telingaan Aruu

Jika dilihat sekilas, Telingaan Aruu mungkin tampak seperti tradisi ekstrem atau sekadar standar kecantikan dalam suku Dayak. Namun sebenarnya, tradisi ini punya makna yang cukup dalam.

Dalam kajian berjudul Pemaknaan Simbolik dalam Tradisi Telingaan Aruu Bagi Suku Dayak karya Herawathy, Telingaan Aruu memiliki beberapa makna utama.

  • Simbol kecantikan dan keanggunan perempuan: Semakin panjang telinga, semakin tinggi nilai estetika seorang perempuan
  • Penanda status sosial atau kebangsawanan: Pada beberapa sub-suku, panjang telinga menunjukkan status sosial, bahkan hanya kalangan tertentu yang boleh melakukannya
  • Lambang kesabaran dan ketahanan: Proses panjang dan tidak nyaman ini menjadi bukti bahwa seseorang mampu menahan rasa sakit dan menjalani tradisi dengan penuh kesabaran
  • Identitas budaya dan penghormatan kepada leluhur: Telingaan Aruu adalah cara masyarakat Dayak menjaga hubungan dengan nenek moyang mereka, serta usaha untuk mempertahankan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Long Beluah dan Jejak Terakhir Tradisi yang Mulai Hilang

Di beberapa wilayah pedalaman seperti Long Beluah, tradisi ini masih bisa kita jumpai, walaupun jumlahnya semakin sedikit, terutama dari kelompok Dayak Kenyah dan Dayak Bahau. Wilayah ini berada cukup jauh dari pusat kota dan relatif terjaga dari pengaruh luar. Kondisi geografis yang terpencil ini membuat tradisi seperti Telingaan Aruu bisa bertahan lebih lama dibanding daerah lain.

Secara budaya, tradisi Telingaan Aruu memang berkembang kuat di tengah masyarakat Dayak pedalaman, khususnya di wilayah hulu sungai yang sulit dijangkau. Di sana, nilai-nilai adat masih dipegang erat, termasuk dalam hal penampilan fisik yang dianggap sebagai identitas dan penghormatan terhadap leluhur.

Saat ini, di Long Beluah maupun wilayah Dayak lainnya, Telingaan Aruu umumnya hanya bisa ditemukan pada perempuan lansia yang memang menjalani tradisi ini sejak kecil. Dalam beberapa dokumentasi berdasarkan penelusuran detikKalimantan, perempuan dengan telinga panjang kini kebanyakan berusia di atas 60-70 tahun, dan jumlahnya semakin sedikit dari tahun ke tahun.

Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh modernisasi, di mana banyak generasi muda Dayak mulai meninggalkan Telingaan Aruu. Mereka menganggap tradisi ini sudah tidak relevan dengan kehidupan saat ini.

Hal ini menunjukkan bahwa Telingaan Aruu sedang berada di ambang kepunahan. Bagaimanapun juga, Telingaan Aruu adalah identitas masyarakat Dayak. Tradisi ini mengajarkan masyarakatnya untuk memaknai tubuh mereka sebagai simbol budaya, hubungan yang tak terputus antara kehidupan masa kini dengan leluhur mereka.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads