Menilik Sejarah dan Makna Gelaran Festival Erau di Kutai Kartanegara

Menilik Sejarah dan Makna Gelaran Festival Erau di Kutai Kartanegara

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Jumat, 24 Apr 2026 07:01 WIB
Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)
Foto: Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)
Kutai Kartanegara -

Festival Erau merupakan salah satu tradisi budaya tertua di Kalimantan Timur yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Perayaan ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah panjang.

Erau merupakan salah satu tradisi budaya Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun dengan pusat kegiatan di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Berasal dari tradisi kerajaan, Erau awalnya merupakan upacara sakral yang digelar sebagai bagian dari prosesi penting.

Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi festival budaya yang terbuka untuk masyarakat luas, tanpa menghilangkan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Dalam penyelenggaraan acara yang digelar setiap bulan September ini, terdapat sejumlah ritual yang memiliki beraggam makna tersendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Festival Erau dikenal dengan suasana meriah yang diisi berbagai pertunjukan seni, ritual adat, serta kegiatan budaya yang melibatkan banyak pihak. Perayaan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Kutai sekaligus mempererat hubungan antara masyarakat dengan warisan budaya leluhur.

Sejarah Festival Erau

Erau Adat Kutai 2017Erau Adat Kutai. Foto: Masaul/detikTravel

Dirangkum dari laman Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kutai Kartanegara dan DJKN Kemenkeu Samarinda, istilah Erau berasal dari bahasa Kutai, yaitu eroh yang berarti ramai, riuh, dan penuh kegembiraan.

Makna tersebut menggambarkan suasana meriah yang diwarnai berbagai aktivitas masyarakat, baik yang bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

Erau merupakan upacara adat di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Upacara ini bermula dari Kutai Lama pada abad ke-13, yaitu pada perayaan Tijak Tanah Raja Kutai dan pengangkatan raja pertama Kerajaan Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Secara historis, Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia lima tahun.

Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), Erau kembali diadakan. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Erau menjadi tradisi penting yang dilaksanakan setiap kali penobatan Sultan Kutai hingga masa Kesultanan Kutai bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan. Pelaksanaannya melibatkan keluarga keraton yang mengundang para tokoh dan masyarakat dari berbagai wilayah kerajaan.

Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Pada kesempatan tersebut, Sultan bersama keluarga keraton memberikan jamuan kepada rakyat sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan dan pengabdian masyarakat kepada kerajaan.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada tahun 1960 dan wilayahnya berubah menjadi daerah otonom Kabupaten Kutai, tradisi Erau tetap dipertahankan.

Saat menjadi kerajaan Islam dan berganti nama menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sekitar abad ke-17, tradisi Erau masih berlangsung. Namun semenjak Kesultanan Kutai bergabung dengan NKRI dan kemudian menjadi Daerah Istimewa Kutai serta Daerah Tingkat II Kutai, Erau tak lagi diadakan.

Upacara Erau terakhir yang dilaksanakan sesuai tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara berlangsung pada tahun 1965, bertepatan dengan pengangkatan Putra Mahkota Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.

Penari menampilkan tarian kolosal Bhinneka Tunggal Suaka saat pembukaan Festival Erau Adat Kutai 2024 di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (21/9/2024). Festival Erau Adat Kutai 2024 yang akan berlangsung hingga 30 September mendatang bertemakan Memajukan Kebudayaan, Mengagungkan Peradaban Nusantara. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym.Penari menampilkan tarian kolosal Bhinneka Tunggal Suaka saat pembukaan Festival Erau Adat Kutai 2024 di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (21/9/2024). Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Sementara itu, Erau sebagai festival budaya yang dilaksanakan pemerintah daerah mulai digelar kembali pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs. H. Achmad Dahlan. Sejak saat itu, Erau diselenggarakan setiap dua tahun sekali dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tenggarong yang berdiri pada 29 September 1782.

Kemudian sekitar tahun 2002, Bupati Kutai Kartanegara Syaukani HR berinisiatif melangsungkan proses penabalan putra mahkota menjadi Sultan Salehuddin II, Sultan XX Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Dari sini kemudian Erau kembali berlangsung seperti sediakala.

Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi pesta rakyat dan festival budaya yang rutin diselenggarakan setahun sekali oleh pemerintah daerah. Erau menjadi bagian dari peringatan hari jadi Kota Tenggarong, yang sejak tahun 1782 menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Atas arahan Sultan Kutai Kartanegara terakhir, Sultan A.M. Parikesit, penyelenggaraan Erau oleh pemerintah daerah tetap mempertahankan sejumlah unsur upacara adat tertentu. Namun, beberapa prosesi seperti Tijak Kepala dan pemberian gelar tidak lagi dilaksanakan.

Saat ini, Festival Erau telah menjadi bagian dari calendar of events pariwisata nasional. Hal ini menjadikan Erau sebagai ajang yang lebih beragam sekaligus sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)

Selain mengetengahkan tradisi upacara adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, ragam seni budaya dihadirkan di luar Keraton, mulai dari kesenian dan budaya daerah, kesenian nusantara dan bahkan mancanegara.

Salah satu prosesi yang paling ditunggu masyarakat dalam Erau yakni pelarungan sepasang replika Naga dari Tenggarong menuju Kutai Lama, yang nantinya diakhiri dengan tradisi Belimbur sebagai simbol kebersamaan dan pembersihan diri.

Pada tahun lalu, Erau Adat Kutai dibuka pada 22 September 2025. Pesta budaya terbesar di Benua Etam itu mengusung tema 'Menjaga Marwah Peradaban Nusantara'. Tidak hanya menampilkan pertunjukan adat, tetapi juga membawa pesan kuat menjaga identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.

Makna Festival Erau

Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)

Nurbaya dalam bukunya yang berjudul Upacara Adat Erau: Manajemen Dan Prosesi Adat, menulis eroh memiliki peran penting untuk berbaur secara langsung dengan masyarakat tanpa ada batasan atas status sosial dan status yang bisa menjauhkan diri antara masyarakat dan Sultan (Raja).

Erau bukan hanya sebagai penabalan raja, atau pun sebagai rasa syukur atas melimpahnya hasil panen. Namun, adanya adab yang terlihat dan terbentuk sehingga menjadi adat dalam kegiatan Erau.

Hal itu tergambar dari proses pelaksanaan Erau yaitu Besawai dan Menjamu Benua. Kedua tradisi memiliki tujuan berkomunikasi dan memberitahukan penghuni alam gaib penjaga kota wilayah Kerajaan Kutai, bahwa Erau akan dilaksanakan.

Berikut beberapa tradisi dalam rangkaian pelaksanaan Erau:

Merangin

Sejumlah Belian menari memutari binyawan saat prosesi Merangin ketiga ritual Adat Kutai di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur, Sabtu (20/9/2025). Prosesi Merangin adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan leluhur dan memberitahukan kepada semua pihak tentang dimulainya rangkaian Erau Adat Kutai. ANTARA FOTO/M Risyal HidayatSejumlah Belian menari memutari binyawan saat prosesi Merangin ketiga ritual Adat Kutai di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong, Kalimantan Timur, Sabtu (20/9/2025). Prosesi Merangin adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan leluhur dan memberitahukan kepada semua pihak tentang dimulainya rangkaian Erau Adat Kutai. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Salah satu tradisi uniknya adalah merangin, ialah ritual adat Kutai yang jadi pembuka Erau. Dirangkum dari laman Antara dan Prokopim Pemkab Kutai, merangin merupakan salah satu ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan sebelum puncak Erau berlangsung.

Tradisi ini diyakini sebagai bentuk komunikasi dengan para leluhur serta pemberitahuan kepada seluruh pihak bahwa rangkaian upacara adat akan segera dimulai.

Sejumlah Belian, sebutan untuk pemimpin ritual adat Kutai, menari memutari binyawan. Prosesi ini adalah bagian dari prosesi yang menjadi penanda dimulainya rangkaian Erau Adat Kutai. Binyawan dianggap sebagai media yang menghubungkan keberadaan roh halus di tanah, di air dan di langit.

Dalam prosesi tersebut, Belian tampil dengan gerakan khas penuh makna, diiringi lantunan mantra dan tabuhan musik tradisional. Mereka berjalan sambil menari diiringi tetabuhan pentatonis mengelilingi Binyawan, sesaat kemudian menari dengan cepat sambil berputar 360 derajat. Puncaknya bergelayutan pada Binyawan yang berputar kencang.

Menjamu Benua

Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)Pembukaan Festival Erau. (DPRD Kukar / DJKN Kemenkeu)

Disadur dari laman Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menjamu Benua diadakan sebelum Festival Erau berlangsung. Tujuannya, agar makhluk halus tidak mengganggu selama penyelenggaraan acara.

Menjamu Benua merupakan sarana pemberitahuan kepada alam gaib bahwa Sultan Kutai telah memutuskan untuk menyelenggarakan Erau dan telah menentukan waktu pelaksanaannya. Ritual ini dilakukan untuk memohon keselamatan serta kelancaran selama Erau berlangsung.

Ritual Menjamu Benua diselenggarakan oleh sebuah rombongan yang terdiri dari 7 orang dewa (dukun wanita), 7 orang belian (dukun pria), 7 pangkon bini, dan 7 pangkon laki. Para penabuh gendang dan gamelan juga akan mengiringi sepanjang prosesi ritual dilakukan.

Rombongan ini membawa sesajian yang akan diletakkan di tiga titik, yaitu Kepala Benua (Kelurahan Mangkurawang), Tengah Benua (depan keraton), dan Buntut Benua (Kelurahan Timbau). Selain itu, para dewa dan belian juga membawa pakaian Sultan sebagai pengganti kehadiran Sultan secara fisik sepanjang ritual ini diadakan.

Ketiga titik yang dijadikan tempat peletakan sesajian melambangkan batas dan pusat dari Kota Tenggarong yang pada masa lalu menjadi ibukota dari Kesultanan Kutai. Kepala Benua merupakan titik paling utara (hulu) dari Tenggarong, Tengah benua merupakan simbol pusat dari wilayah Tenggarong, sementara Buntut Benua melambangkan sisi paling selatan (hilir) dari wilayah Tenggarong.

Sesajian yang dibawa oleh rombongan ini terdiri dari aneka macam jajak/jajanan pasar, nasi tambak, nasi ragi, ayam panggang, mandau, air minum, dan peduduk. Menurut Awang Imaluddin, salah satu pemangku ritual sakral di Keraton Kutai, jajak yang disiapkan terdiri dari 41 jenis kue basah.

Ritual dimulai di kediaman Sultan. Di tempat ini, rombongan memohon restu dari Sultan untuk berangkat melaksanakan Menjamu Benua. Dari kediaman Sultan, rombongan menuju ke tiga titik yang telah ditentukan.

Ketika sampai di setiap titik, sesajian tersebut akan diletakkan di tempat yang telah ditentukan. Jajak yang diletakkan di tembelong ditempatkan di atas juhan bersama nasi tambak, ayam panggang, mandau, air minum, dan rokok. Sementara, peduduk dan ayam hitam diletakkan di bagian bawah dari juhan. Selain itu, diletakkan pula nasi tambak di atas telasak tunggal dan nasi ragi di atas telasak gantung.

Setelah semua sesajian siap, dewa menghadap ke Sungai Mahakam untuk melakukan memang (pembacaan mantra) dan melakukan besawai (membaca doa sambil menebarkan beras, bunga, dan lainnya). Selanjutnya rombongan menuju ke Tengah Benua dan terakhir ke Buntut Benua untuk melakukan ritual yang serupa.

Ada sedikit perbedaan pada ritual yang dilakukan di Buntut Benua. Di tempat ini, disediakan dua buah telasak gantung yang dipasang berlawanan arah dan hiasan janur yang diikat simpul sebagai pertanda ritual Menjamu Benua telah selesai. Setelah selesai melakukan ritual di tiga titik, rombongan kembali ke kediaman Sultan untuk melaporkan bahwa ritual telah selesai.

Besawai

Sebelum upacara adat Erau dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan sejumlah ritual pendahuluan sebagai bentuk upaya membuka komunikasi dengan alam gaib yang diyakini keberadaannya. Salah satu ritual tersebut dikenal dengan istilah Besawai, yaitu proses penyampaian pesan kepada kekuatan tak kasatmata yang dipercaya hadir dalam berbagai dimensi ruang, termasuk di wilayah kerajaan.

Ritual Besawai bertujuan untuk menyampaikan pemberitahuan kepada seluruh penghuni negeri, mengenai pelaksanaan tradisi Erau. Prosesi ini biasanya dilakukan oleh sesepuh atau tokoh yang dianggap memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib.

Ritual dilaksanakan di lokasi tertentu yang dianggap sebagai pusat atau titik yang mampu menghubungkan komunikasi dengan berbagai unsur yang diyakini hadir.

Besawai biasanya diawali dengan silaturahmi Sultan beserta rombongan bersama tokoh masyarakat dan perangkat adat di Kutai Lama. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam para leluhur yang memiliki peran penting dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara.

Nah, itulah tadi sejarah dan makna dalam gelaran Festival Erau di Kutai Kartanegara. Apakah kamu sudah pernah menyaksikannya?

Halaman 2 dari 2
(aau/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads