Dayak adalah suku asli yang menempati Pulau Kalimantan. Terdiri dari berbagai sub-suku, masyarakat Dayak Benuaq punya tradisi adat yang masih dijaga hingga sekarang, salah satunya adalah upacara Belian Sentiyu.
Meskipun teknologi di bidang kesehatan telah berkembang, tradisi pengobatan adat masih dilakukan di beberapa desa di Kalimantan Timur, seperti Desa Muang di Samarinda. Di sana, tradisi Belian masih rutin dilaksanakan, terutama bersamaan dengan ritual tahunan Gugu Tahun atau ketika ada warga yang sakit.
Bagi masyarakat Dayak Benuaq, penyakit bisa datang dari mana saja. Mereka juga percaya bahwa penyakit bisa berasal dari gangguan roh atau makhluk halus. Karena itulah, proses penyembuhan tidak hanya dilakukan dengan obat-obatan medis, tetapi juga melalui ritual adat yang dipimpin oleh seorang pemBelian atau dukun adat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upacara Belian Sentiyu
Belian merupakan ritual pengobatan tradisional masyarakat Dayak. Di sini, ritual dipimpin oleh pemBelian atau Mulung, yaitu orang yang dipercaya memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dunia roh.
Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Benuaq penganut Hindu Kaharingan, upacara Belian dilakukan dengan berbagai tujuan, di antaranya untuk:
- Menolak bala dan roh jahat
- Memohon perlindungan kepada Sanghiyang
- Menyembuhkan penyakit fisik maupun spiritual
- Mengembalikan keseimbangan antara manusia dan alam gaib
Belian Sentiyu sendiri merupakan salah satu jenis Belian berdasarkan tata cara pelaksanaannya. Selain Belian Sentiyu, masyarakat Dayak Benuaq juga mengenal beberapa jenis lain seperti:
- Belian Lewangan
- Belian Bawo
- Belian Jamu
- Belian Ranteu
Sementara berdasarkan sifatnya, ritual Belian dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
- Belian yang bersifat pencegahan, seperti Nalitn Tautn, Makatn Juss, dan Tulak Bala
- Belian untuk pengobatan atau penyembuhan penyakit
Kepercayaan dalam Ritual Belian
Dalam kepercayaan masyarakat Dayak Benuaq, manusia hidup berdampingan dengan dunia roh. Ketika keseimbangan antara keduanya terganggu, maka seseorang dapat mengalami sakit, kesialan, atau gangguan tertentu.
Karena itu, Belian berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dengan roh leluhur maupun Sanghiyang. Melalui mantra, musik ritual, tarian, dan sesaji, Belian memohon pertolongan agar roh jahat pergi dan pasien memperoleh kesembuhan.
Penelitian Ariani dkk berjudul Makna Simbolik Upacara Adat Belian Sentiyu di Desa Muang, Samarinda menjelaskan bahwa Belian merupakan upacara Dayak untuk meminta doa restu kepada Sanghiyang melalui tarian dan bunyi-bunyian alat musik seperti gong, gendang, kelentangan, dan alat musik tradisional lainnya.
Ritual ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan masyarakat karena seluruh warga biasanya ikut terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan upacara.
Larangan atau Tuhing Selama Ritual Berlangsung
Upacara Belian dilaksanakan pada malam hari. Malam dipercaya sebagai waktu paling tepat untuk berdoa dan berkomunikasi dengan dunia roh.
Suasana malam yang tenang dianggap membantu pemBelian lebih fokus saat membacakan mantra dan menjalankan ritual penyembuhan.
Ketika upacara Belian berlangsung, masyarakat wajib menaati sejumlah pantangan yang disebut tuhing.
Salah satu larangan utama adalah tidak boleh sembarangan bertamu ke rumah tempat Belian dilaksanakan. Pantangan ini biasanya berlaku selama empat hari. Jika ada yang melanggar, maka orang tersebut dapat dikenakan denda adat.
Sebagai tanda adanya tuhing, masyarakat biasanya memasang ikatan daun-daunan pada kayu di depan rumah penyelenggara ritual.
Prosesi adat Belian. (Arsip Dok. Kampung Muhur Belusuh). |
Tahapan Prosesi Upacara Belian
Pelaksanaan Belian terdiri atas beberapa tahapan utama, yakni:
1. Tahap Pembukaan
Prosesi dimulai dengan mempersiapkan seluruh perlengkapan ritual termasuk alat musik. Pemimpin ritual atau Mulung kemudian membacakan mantra yang disebut Nyoyong menggunakan bahasa Paser Banau Tatau. Mantra ini berisi penyampaian maksud diadakannya upacara kepada roh leluhur dan Sanghiyang.
2. Prosesi Pemandian
Di tahap ini, para Mulung dimandikan sambil diiringi mantra dan musik. Air terakhir biasanya dicampur bunga-bungaan sebagai simbol penyucian jiwa dan raga agar ritual berjalan lancar.
3. Mediwa Lansang
Mediwa Lansang berarti menurunkan lansang. Tahap ini dilakukan untuk menghilangkan lonsa atau pelanggaran adat yang pernah terjadi pada pemimpin ritual, misalnya karena anggota keluarganya meninggal dunia. Selama prosesi berlangsung, mantra terus dibacakan dan musik ritual dimainkan.
4. Ngayun Lansang
Ngayun Lansang berarti mengayunkan lansang. Empat orang penggading akan mengayunkan lansang sambil diiringi mantra dan bunyi alat musik tradisional. Prosesi ini dipercaya membantu mengusir gangguan roh jahat dari pasien.
Meskipun obat-obatan medis telah berkembang, masyarakat Dayak Benuaq masih mempertahankan ritual Belian sebagai bagian ritual penyembuhan mereka. Bukan menyembuhkan penyakit medis saja, tetapi ritual ini juga dilakukan untuk menyembuhkan seseorang dari gangguan roh jahat.
Simak Video "Menyusuri Perjalanan ke Labuan Cermin di Berau dengan Menggunakan Perahu yang Menyenangkan "
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
