Legenda Batu Balang, Kisah 'Bandung Bondowoso' Kalteng yang Besar Hati

Cerita Rakyat

Legenda Batu Balang, Kisah 'Bandung Bondowoso' Kalteng yang Besar Hati

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 17 Mei 2026 08:00 WIB
Ilustrasi Darung Bawan dalam Legenda Batu Balang di Kalteng. (Gemini AI)
Foto: Ilustrasi Darung Bawan dalam Legenda Batu Balang di Kalteng. (Gemini AI)
Palangka Raya -

Bumi Nusantara memiliki banyak legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah yang paling menarik datang dari riuhnya arus Sungai Katingan di Kalimantan Tengah (Kalteng), yakni Legenda Batu Balang.

Sekilas, alur kisahnya mungkin mengingatkan kita pada legenda Roro Jonggrang di Jawa Tengah atau Sangkuriang di Jawa Barat. Namun, Legenda Batu Balang memiliki daya tariknya sendiri yang sarat akan kearifan lokal suku Dayak.

Dikutip dari buku Legenda Dan Dongeng Dalam Sastra Dayak Ngaju (1998) terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berikut kisah bidadari jelita dari pedukuhan tersembunyi, Kameloh Buang Penyang, dan pemuda sakti dari puncak Bukit Raya, Darung Bawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Legenda Batu Balang

Pada zaman dahulu kala di sekitar aliran Sungai Katingan, hiduplah seorang kakek bijaksana bernama Tayung. Ia merasa sangat sedih dan resah melihat perilaku penduduk di desa asalnya yang sering bertengkar, mabuk-mabukan, dan berjudi.

Oleh karena itu, Tayung memutuskan untuk pindah ke tengah hutan rimba dan membangun sebuah permukiman baru yang damai bernama Talian Kereng. Tempat ini sangat tersembunyi, sehingga jarang ada orang luar yang bisa menemukannya.

Suatu hari, Tayung mendapat firasat buruk mengenai cucu perempuannya yang masih tinggal di desa lamanya. Benar saja, cucunya tersebut rupanya baru saja menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara. Pada malam itu juga, Tayung diam-diam menjemput sang cucu dan membawanya tinggal di Talian Kereng.

Cucu kesayangannya itu bernama Kameloh Buang Penyang. Dirawat dengan penuh kasih sayang, Kameloh tumbuh menjadi gadis yang sangat jelita.

Saking cantiknya, pesona Kameloh sering diibaratkan seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kabar mengenai kecantikannya ini perlahan-lahan menyebar luas, menembus batas pedukuhan yang tersembunyi tersebut.

Kabar ini akhirnya terdengar oleh Darung Bawan, seorang pemuda sakti bertubuh besar yang tinggal jauh di puncak Gunung Bukit Raya. Mendengar desas-desus tentang gadis cantik di Talian Kereng, ia pun bertekad kuat untuk menjadikannya istri. Berbekal kesaktian dan keberanian yang pantang mundur, ia berjalan kaki menyusuri tepi sungai untuk mencari keberadaan Kameloh.

Karena Talian Kereng adalah pedukuhan yang seolah ditutupi oleh tabir gaib, awalnya Darung Bawan kesulitan menemukan wujud asli rumah tersebut. Namun, dengan kesaktiannya, ia memejamkan mata dan melangkah penuh keyakinan. Begitu membuka mata, ia sudah berdiri di dalam sebuah rumah betang yang megah, tempat Kameloh dan kakeknya tinggal.

Darung Bawan adalah sosok pria yang berterus terang. Setelah dipersilakan duduk, ia langsung mengutarakan niatnya untuk meminang Kameloh. Di sisi lain, Kameloh sebenarnya merasa ragu dan gentar. Darung Bawan memiliki tubuh yang amat tinggi dan besar, sangat berbeda dengan dirinya yang mungil.

Untuk menolaknya secara halus, Kameloh mengajukan sebuah syarat yang dirasa mustahil. Ia meminta Darung Bawan untuk membuatkan jeram batu atau riam di tengah Sungai Katingan, dengan batas waktu hanya sejak matahari terbenam hingga sebelum ayam berkokok pada waktu subuh.

Karena merasa sakti, Darung Bawan menyanggupi syarat tersebut. Begitu matahari mulai terbenam, ia segera bekerja keras. Ia bolak-balik dari Bukit Raya ke sungai, mengangkut batu-batu besar dan menyusunnya di tengah derasnya aliran Sungai Katingan.

Pekerjaannya sangat cepat, tumpukan batu itu sudah mulai meninggi dari tengah menuju ke tepi. Akan tetapi, menjelang tengah malam, rasa kantuk dan lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerang Darung Bawan.

Padahal, seumur hidupnya, pria sekuat dia tidak pernah merasa seletih itu. Akhirnya, ia tidak kuasa menahan kantuk dan tertidur pulas di pinggir sungai.

Ketika matahari terbit pada keesokan harinya, ia baru terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Menyadari hari sudah pagi, ia menatap susunan batu yang belum selesai. Waktunya telah habis, dan ia dipastikan gagal memenuhi syarat dari Kameloh.

Meskipun memiliki kesaktian yang luar biasa, Darung Bawan berjiwa ksatria. Ia mendatangi Kameloh dan dengan jujur mengakui kegagalannya tersebut. Sebelum melangkah pergi untuk kembali ke puncak Bukit Raya, ia menitipkan sebuah pusaka bernama Lalang Tiruk yang berisi emas. Pusaka itu diberikan untuk membantu kehidupan Kameloh kelak.

Darung Bawan juga meninggalkan sebuah pesan sekaligus sumpah. Ia berucap bahwa kelak dukuh tersebut akan berkembang menjadi desa yang ramai. Namun, siapa pun yang datang menyusuri daerah itu akan selalu terkenang dan tidak bisa berhenti memikirkannya, jika mereka tidak mandi atau meminum air dari riam batu tersebut.

Hingga saat ini, tumpukan batu yang gagal disusun menjadi jeram itu tetap berada di tempatnya dan dikenal dengan nama Riam Batu Balang, yang artinya susunan batu yang batal atau gagal diselesaikan.

Pesan Moral

Dari kisah Legenda Batu Balang tersebut, terdapat beberapa pesan moral yang sangat mendalam dan bisa kita petik untuk kehidupan sehari-hari. Berikut adalah penjabarannya:

1. Jangan Takabur

Darung Bawan adalah sosok yang amat sakti dan kuat. Namun, karena ia merasa tugas membuat riam itu terlalu mudah, ia akhirnya terlena, kelelahan, dan tertidur pulas hingga batas waktu habis. Hal ini mengingatkan kita agar tidak pernah meremehkan suatu pekerjaan atau tantangan, sehebat apa pun kemampuan dan pengalaman yang kita miliki.

2. Bersikap Ksatria dan Berjiwa Besar

Walaupun Darung Bawan gagal dan harapannya untuk menikahi Kameloh pupus, ia tidak marah, mengamuk, atau memaksakan kehendaknya. Ia dengan jujur dan jantan mendatangi Kameloh untuk mengakui kekalahannya.

Bahkan, ia masih berbaik hati meninggalkan pusaka Lalang Tiruk untuk membantu kehidupan Kameloh kelak. Sikap ini mengajarkan kita tentang arti sportivitas, kejujuran, dan kebesaran hati saat menerima kegagalan.

3. Kecerdasan dalam Menyelesaikan Masalah

Kameloh Buang Penyang menggunakan akalnya untuk menghadapi situasi yang membuatnya kurang nyaman. Alih-alih menolak lamaran Darung Bawan secara langsung yang mungkin bisa menyinggung perasaan dan memicu kemarahan sang pemuda sakti, ia memberikan syarat yang berat.

4. Keberanian Meninggalkan Lingkungan yang Buruk

Keputusan Kakek Tayung untuk menjauh dari desanya yang penuh dengan pertikaian dan kebiasaan buruk menunjukkan betapa pentingnya memilih lingkungan yang tepat. Ia berani mengambil langkah besar dengan memulai kehidupan baru di tengah hutan demi menciptakan kedamaian dan masa depan yang lebih baik untuk keturunannya.

Halaman 2 dari 2
(bai/sun)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 



Hide Ads