Permainan Seksiang merupakan salah satu bagian dari rangkaian ritual Lom Plai, perayaan adat masyarakat Dayak Wehea. Ritual ini digelar sebagai bentuk syukur dan pertanda selesainya masa panen padi di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Dalam perayaan Lom Plai, berbagai aktivitas adat dilakukan sebagai bentuk syukur, hiburan, dan ajang untuk mempererat hubungan antar masyarakat. Maka dari itu, salah satu bentuk hiburan di sini adalah Seksiang yang dilakukan di atas air.
Seksiang juga menjadi salah satu atraksi yang paling unik karena di sini dilakukan perang kecil di atas sungai, menggunakan perahu dan senjata tradisional berupa tombak weheang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seksiang dalam Rangkaian Lom Plai
Dalam ritual Lom Plai, masyarakat Dayak biasanya menggelar berbagai ritual setelah musim panen selesai. Nah, Seksiang di sini fungsinya sebagai hiburan setelah panen, bentuk syukur atas hasil ladang, dan mempererat hubungan antar masyarakat Dayak Wehea.
Seksiang dilakukan di sungai, karena sungai merupakan kehidupan masyarakat Dayak, baik sebagai transportasi, sumber air, maupun ruang untuk hidup itu sendiri.
Sebelum permainan dimulai, biasanya semua berkumpul dalam suasana adat. Para peserta kemudian menaiki beberapa perahu kecil, lalu bergerak bersama menuju aliran sungai, umumnya ke arah hulu. Setelah itu, perahu dibiarkan mengikuti arus, dan di sinilah perang-perangan dimulai.
Saat perahu mulai terbawa arus, para peserta bersiap dengan kelompoknya masing-masing. Kemudian, setiap kelompok saling berhadapan dan melemparkan tombak weheang secara bergantian, sambil tetap menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik atau hilang kendali di tengah arus sungai.
Permainan terus berlangsung mengikuti aliran air hingga mencapai titik akhir yang telah disepakati sebelumnya.
Foto: Pembukaan Lomplai. (dok Kementerian Pariwisata RI) |
Tombak Weheang
Tombak weheang adalah elemen paling penting dalam permainan Seksiang. Tombak ini merupakan representasi senjata tradisional yang dulu digunakan untuk berburu dan berperang.
Secara umum, tombak weheang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Batang panjang sekitar 1,5 hingga 3 meter
- Terbuat dari kayu keras ringan, seperti kayu ulin muda, kayu nyatoh, atau kayu hutan yang kuat
- Ujung tombak berbentuk runcing seperti mata panah atau tombak kecil
- Pada beberapa versi, ujungnya dibuat dari kayu yang diasah, tulang, atau besi
- Dalam permainan Seksiang, ujungnya dibuat tumpul atau dibungkus agar aman digunakan.
- Beberapa weheang juga dilengkapi hiasan atau ukiran adat sebagai penanda.
Tombak bagi masyarakat Dayak bukanlah sekadar alat untuk berburu semata. Lebih dari itu, tombak adalah simbol keberanian laki-laki Dayak, terutama keberanian dalam menghadapi alam yang keras, hutan yang luas, dan sungai yang berarus kencang.
Tombak juga berkaitan erat dengan kemandirian. Dulu, kemampuan menggunakan tombak adalah tanda bahwa seseorang sudah cukup dewasa dan mampu bertahan hidup sendiri, baik saat berburu maupun saat berada di alam bebas.
Dari situ juga muncul rasa hormat, karena orang yang bisa menggunakan tombak dianggap punya tanggung jawab dan wibawa dalam keluarga maupun kelompoknya.
Dalam permainan Seksiang sendiri, tombak weheang dipakai bukan untuk melukai, tapi lebih sebagai cara untuk menghidupkan lagi kemampuan leluhur dalam bentuk permainan.
Jadi yang ditonjolkan bukan kekerasannya, tapi keberanian, kekompakan, dan rasa kebersamaan yang dibawa dari tradisi lama ke dalam bentuk yang lebih aman.
Simak Video "Menyusuri Perjalanan ke Labuan Cermin di Berau dengan Menggunakan Perahu yang Menyenangkan "
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
