Mengenal Tari Monong yang Dipakai Suku Dayak Kalbar untuk Ritual Penyembuhan

Mengenal Tari Monong yang Dipakai Suku Dayak Kalbar untuk Ritual Penyembuhan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 07 Jul 2026 22:30 WIB
Tari Monong di Kalimantan Barat.
Foto: Tari Monong di Kalimantan Barat (Dok. Kementerian Pariwisata)
Pontianak -

Di Kalimantan Barat terdapat Tari Monong yang ditampilkan sebagai bagian dari ritual penyembuhan penyakit. Bukan untuk menyambut tamu, Tari Monong dipercaya masyarakat Dayak sebagai media untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan.

Masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan punya beragam ritual penyembuhan tradisional yang dipadukan dengan seni tari. Di Kalimantan Tengah, misalnya, masyarakat Dayak Ngaju memiliki Tari Balian Dadas dan Balian yang ditarikan dalam upacara Balian untuk memohon kesembuhan sekaligus mengusir roh jahat penyebab penyakit.

Di Kalimantan Barat, ada Tari Monong yang merupakan media pengobatan atau penolak penyakit. Berbeda dengan ritual Balian yang terdiri dari rangkaian upacara yang panjang, Tari Monong lebih menonjolkan gerakan sang dukun atau sesepuh saat memanjatkan doa dan mantra.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pelaksanaannya, dukun akan menari sambil melafalkan doa, mantra, atau jampi-jampi kepada Sang Pencipta dan roh leluhur agar penyakit yang diderita seseorang dapat diangkat. Selama prosesi berlangsung, keluarga wajib hadir untuk mengikuti jalannya ritual sebagai bentuk doa, dukungan, sekaligus ikhtiar bersama demi kesembuhan anggota keluarganya.

Gerakan-gerakan yang dilakukan penari Tari Monong merepresentasikan gerakan permohonan penyembuhan. Sang dukun pada tarian ini akan memasuki kondisi tidak sadar dan saat itulah mantra-mantra dilafalkan mengikuti irama musik tradisional untuk memperkuat doa penyembuhan.

Gerakan, Busana, dan Musik Pengiring Tari Monong

Tari Monong bisa ditarikan oleh laki-laki, perempuan, atau juga secara berpasangan. Keunikan Tari Monong ada pada gerakannya yang banyak meniru dukun ketika melakukan proses pengobatan.

Penari melakukan berbagai gerakan tangan yang perlahan, serta mengucapkan sesekali mantra menggunakan bahasa Dayak. Suasana ritual yang dihasilkan terasa sangat sakral dan mistis.

Busana yang dikenakan dalam Tari Monong merupakan pakaian adat Dayak lengkap dengan berbagai perlengkapannya, antara lain:

  • Ikat kepala
  • Sumping lawe
  • Kalung kace
  • Kelat bahu
  • Jarik lereng
  • Boro mote
  • Sabuk
  • Epek timang
  • Celana pancen
  • Sampur cinde
  • Sebilah pedang
  • Tameng atau perisai
Tari Monong di Kalimantan Barat.Tari Monong di Kalimantan Barat. Foto: Tari Monong di Kalimantan Barat (Dok. Kementerian Pariwisata)

Pedang atau mandau dan tameng yang dibawa penari bukan digunakan untuk bertarung, tapi melambangkan upaya mengusir roh-roh jahat yang dipercaya menjadi penyebab penyakit. Sementara musik pengiring tidak hanya berfungsi untuk mengiringi tarian, tapi juga merupakan media dari ritual doa. Salah satu alat musik utama yang digunakan adalah sape, alat musik petik tradisional Dayak yang mirip gitar.

Saat ritual penyembuhan berlangsung, dukun atau penari akan mengayunkan mandau mengikuti irama musik dan pembacaan mantra. Gerakan itu melambangkan proses memotong atau menghalau energi negatif yang mengganggu pasien.

Tameng yang dibawa penari disebut juga sebagai talawang, yaitu perisai tradisional Dayak yang dibuat dari kayu ulin. Permukaannya dihiasi ukiran bermotif khas Dayak dengan warna dominan hitam, merah, putih, dan kuning. Dalam Tari Monong, talawang disimbolkan sebagai perlindungan terhadap pasien dari gangguan roh jahat maupun marabahaya.

Terdapat juga hiasan kepala penari yang merupakan mahkota atau ikat kepala adat Dayak yang dihiasi bulu burung, serat tumbuhan, manik-manik, dan ornamen bermotif etnik. Bulu burung yang digunakan adalah bulu burung enggang yang melambangkan kehormatan, kebijaksanaan, dan kedekatan masyarakat Dayak dengan alam.

Seiring berkembangnya zaman, Tari Monong saat ini bukan hanya untuk ritual penyembuhan saja, tetapi juga ditampilkan dalam berbagai festival, contohnya dalam Festival Gawai Dayak. Selain itu, Tari Monong juga bisa dijumpai di berbagai pertunjukan, acara adat, dan ketika menyambut tamu kehormatan.

Meskipun unsur pertunjukannya saat ini lebih dominan, Tari Monong masih digunakan dalam ritual penyembuhan masyarakat Dayak. Tari ini menjadi salah satu warisan budaya Kalimantan Barat yang memperlihatkan bagaimana seni tari bisa menjadi media spiritual dan doa meminta pertolongan.

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads