Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak masih membuka ruang pelaporan bagi korban lain dalam kasus dugaan deepfake vulgar yang melibatkan mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas MIPA angkatan 2025 berinisial RY. Tim Satgas menargetkan tanggal 25 Mei 2026 proses pemeriksaan dan penyelidikan rampung.
Anggota Tim Advokasi dan Hukum Satgas PPKPT Untan Safaruddin Harefa mengatakan hingga saat ini pihaknya baru memeriksa sekitar sembilan korban yang telah melapor secara resmi.
"Sebenarnya sampai sekarang kami masih menunggu siapa saja korban. Jadi korban yang sudah kami periksa itu yang kami anggap sebagai korban yang sudah ada, karena mereka yang melaporkan ke kami. Sekitar delapan orang dari MIPA, satu fakultas lain," ujar Safaruddin, Rabu (20/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Satgas tidak menutup kemungkinan adanya korban lain, termasuk dari luar lingkungan Untan. Sebab, berdasarkan hasil penelusuran sementara, sejumlah foto yang ditemukan diduga melibatkan perempuan dari luar kampus. Safaruddin menyebut Satgas telah membuka kanal pengaduan melalui media sosial dan tautan khusus agar korban lain dapat melapor secara langsung.
"Kami tidak tertutup akan ada lagi korban lainnya, karena kabarnya ada dari luar. Kami sudah sampaikan di media sosial, bagi siapa yang jadi korban boleh melapor melalui link atau menghubungi kontak kami," ujarnya.
Menurutnya, proses penyelidikan akan terus dilakukan hingga dipastikan tidak ada lagi korban yang belum teridentifikasi. Satgas menargetkan proses investigasi rampung paling lambat Senin, 25 Mei 2026 mendatang. Ia mengatakan saat ini seluruh bukti yang ditemukan sedang dianalisis satu per satu untuk memastikan tidak ada fakta yang terlewat dalam proses investigasi.
"Kami targetnya Senin tanggal 25 Mei proses penyelidikan sudah selesai. Kalau bisa bahkan minggu ini. Semua bukti sudah kami kumpulkan dan harus kami analisis satu persatu karena kami harus pastikan tidak ada yang tertinggal," katanya.
Safaruddin menegaskan Satgas tidak hanya ingin menyelesaikan proses penanganan kasus, tetapi juga memastikan seluruh konten vulgar yang sempat tersebar benar-benar dibersihkan dari media sosial. Ia membenarkan bahwa sejumlah foto tanpa sensor sempat menyebar luas di berbagai platform digital sebelum akhirnya dilakukan take down.
"Foto-foto vulgar tanpa sensor itu memang sempat menyebar. Beberapa sudah kami pastikan di-takedown, tapi ada juga yang masih sulit karena sudah viral di mana-mana," ujarnya.
Menurut Safaruddin, penyebaran konten tersebut menjadi kendala dalam proses identifikasi korban karena jejak digitalnya sudah telanjur meluas. Karena itu, Satgas ingin memastikan seluruh korban benar-benar terlindungi setelah proses penanganan selesai dilakukan.
"Kami tidak mau hanya clear kasusnya saja, tapi juga clear and clean. Itu kenapa kami serius dalam kasus ini," pungkasnya.
