Kondisi terbaru Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim) mengundang rasa penasaran masyarakat luas. Daya tarik infrastruktur kota baru ini turut memikat 11 orang dari Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang.
Mereka menjadikan IKN sebagai destinasi wisata tahunan usai mendapat persetujuan cuti dari pemerintah daerah. Rombongan ini tiba di kawasan IKN pada Selasa (9/6) dan menginap selama dua malam untuk menikmati suasana calon pusat pemerintahan tersebut.
Selama kunjungan, para kades menyempatkan diri meninjau langsung kemegahan berbagai titik di dalam kompleks IKN. Destinasi yang disambangi meliputi titik nol IKN, kawasan Plaza Seremoni, Plaza Bhinneka Tunggal Ika, Masjid Negara, hingga area Istana Presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Desa Banjarsari, Basyaruddin Saleh, menyebut wacana untuk meninjau langsung IKN sudah muncul sejak bulan Mei 2026.
"Jadi, waktu itu awalnya spontan mau wisata ke mana, lalu kami satu pemikiran ingin ke IKN karena ingin membuktikan keindahan IKN," terangnya kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).
Seluruh infrastruktur yang tengah dibangun di IKN terpantau sukses membuat para pengunjung dari Jawa Timur ini merasa takjub.
"Saya datang langsung melihat ke Istana Presiden. Semua tempat kami datangi, paling bagus menurut saya di titik nol," ungkapnya.
Kunjungan ke kawasan ibu kota baru ini juga menjadi momen kenang-kenangan para kades sebelum masa jabatan mereka usai.
"Tujuannya ya memang ingin tahu karena penasaran dengan IKN. Kami kan sama-sama pejabat negaranya, masa kami nggak tahu istana negara yang baru," kata Basyaruddin.
"Itu saja, tidak ada motif lain," jelasnya.
Menariknya, pesona dan daya tarik IKN ternyata berhasil membatalkan rencana awal rombongan yang sebelumnya berniat pelesir ke luar negeri.
"Awalnya malah maunya ke Thailand. Cuman tiba-tiba spontan penasaran dengan IKN," terang Basyaruddin.
"Masa jadi kades mau selesai belum tahu ibu kota yang baru," sambungnya.
Biaya perjalanan wisata meninjau IKN ini dipastikan murni mandiri dan tidak membebani anggaran negara. Dana ditanggung sepenuhnya dari iuran kas paguyuban senilai Rp 200.000 per orang yang rutin dikumpulkan setiap rapat hari Rabu.
Baca artikel selengkapnya di sini.
