Dian Rana sempat dikenal publik sebagai kreator konten yang kerap mendokumentasikan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Namun, menurunnya pendapatan di platform YouTube membuatnya memutuskan untuk banting setir dan mencari penghidupan dari sumber lain demi menyekolahkan anak-anaknya.
Kepada detikKalimantan, Dian menceritakan kisahnya sejak menjadi kreator konten dan dokumentator independen IKN selama 2023-2024 hingga memutuskan perlahan-lahan beralih fokus pada akhir 2025. Meski demikian, dia masih punya harapan untuk konten-konten tentang IKN ke depannya.
Perjalanan Dian Rana sebagai Kreator Konten IKN
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konten kreator Dian Rana saat meliput di kawasan IKN. (Istimewa) Foto: Konten kreator Dian Rana saat meliput di kawasan IKN. (Istimewa) |
Dian Rana fokus sebagai konten kreator pembangunan IKN pada 2023-2024. Saat itu, di akhir masa kepemimpinan presiden sebelumnya, pembangunan IKN berjalan cukup masif. Banyak hal baru yang bisa di-update dari progres pembangunan.
Selain itu, masyarakat juga penasaran bagaimana "wajah" IKN karena belum bisa dikunjungi secara langsung. Bisa dibilang, tahun-tahun tersebut adalah masa kejayaan Dian sebagai kreator konten di YouTube.
"Waktu tahun 2023-2024 itu masih bisa dapat Rp 5-10 jutaan dari penghasilan internet. Ditambah kalau ada panggilan jadi narasumber atau kegiatan biasanya itu membantu," ceritanya kepada detikKalimantan, Selasa (9/6/2026).
Realita Ekonomi di Balik Konten Pembangunan IKN
Namun seiring waktu, Dian mulai merasakan penurunan pendapatan. Padahal kanal konten IKN merupakan salah satu sumber utama penghasilannya pada saat itu.
Dian tak memungkiri bahwa penonton konten-kontennya tentang IKN tidak seramai dulu. Selain itu, IKN kini lebih mudah dikunjungi publik sehingga semakin banyak orang bisa membuat konten serupa.
"Setelah sorotan IKN berkurang, untuk dapat Rp 5 juta saja berat. Itu untuk menutupi kebutuhan keluarga dari tabungan. Bahkan beberapa bulan ke belakang nggak sampai Rp 3 juta sebulan," tuturnya.
Dian menyadari tidak selamanya ia bisa mengandalkan penghasilan dari kanal YouTube konten IKN ini. Ia pun memutuskan untuk "pensiun" dari pekerjaan full-time sebagai kreator konten dan mencari sumber penghasilan baru.
"Kalau saya terus bertahan seperti itu, saya enggak akan bisa bertahan secara keuangan. Tabungan saya juga sudah menipis," katanya.
Coba Peruntungan Jadi Pengemudi Ojol di Balikpapan
Jika sebelumnya Dian mengandalkan platform YouTube, pekerjaan barunya ini juga tidak lepas dari platform gig economy. Dian yang tinggal di Balikpapan bersama keluarganya mencoba menjadi pengemudi ojek online atau ojol.
Keputusan itu diambil karena keluarga Dian masih tinggal di kontrakan. Selain itu, ia butuh biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya.
"Saya sudah putuskan sejak akhir 2025 untuk beralih, tidak lagi fokus khusus ke IKN. Saya juga ngontrak di sini, kalau terus bertahan enggak akan kebayar kontrakannya," jelas Dian.
Ia mengaku telah mendaftarkan diri di platform transportasi online dan saat ini masih menunggu proses aktivasi akun serta atribut kerja.
"Kalau di Balikpapan saya pikir masih bisa narik ojol. Setidaknya ada harapan. Saya juga ingin mencoba sesuatu yang baru untuk keluarga," lanjutnya.
Dari Konten Digital ke Arsip Nasional
Meski sudah melepas personal branding sebagai kreator konten IKN, Dian tidak melupakan begitu saja konten-konten yang pernah dibuatnya. Sebelum benar-benar meninggalkan aktivitas dokumentasi IKN, ia berusaha memastikan karya-karyanya tetap bisa diakses di kemudian hari oleh publik.
Dian mengaku sudah mengajukan puluhan video dokumentasi IKN miliknya ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Dari 27 video yang diajukan, beberapa di antaranya dinyatakan memenuhi syarat sebagai arsip statis.
Menurut Dian, langkah itu dilakukan agar dokumentasi yang selama ini dibuat tidak hilang begitu saja dan dapat menjadi catatan sejarah pembangunan IKN.
"Saya ingin ada jejak bahwa saya pernah berjuang dan mendokumentasikan Ibu Kota Nusantara," katanya.
Konten kreator Dian Rana saat menerima apresiasi atas dokumentasi pembangunan IKN. (Istimewa) |
Harapan untuk Masa Depan Konten IKN
Dian juga punya harapan bagi para kreator konten yang masih ingin mendokumentasikan pembangunan IKN ke depannya. Menurutnya, perlu ada kejelasan dalam hal legalitas dan kemudahan akses di lapangan.
Usulannya ini berangkat dari pengalaman pribadinya ketika mendokumentasikan IKN pada malam hari. Saat itu, Dian mengaku sempat diamankan petugas.
"Jadi waktu saya ngambil gambar itu malam memang, mungkin salah di saya juga yang hampir malam. Saat itu saya merasa sudah didukung oleh beberapa pihak termasuk kepala otorita IKN dulu. Jadi saya ingin memperlihatkan IKN saat malam hari kepada publik, sekitar Februari 2024," cerita Dian.
"Ternyata tindakan saya itu kayaknya membuat beberapa pihak tidak tidak nyaman. Makanya waktu itu saya sempat diabaikan juga. Maka di situ saya merasa, keberadaan saya juga tidak sepenuhnya diterima,"
Meski demikian, Dian mengaku tidak menyalahkan petugas di lapangan karena mereka hanya menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku.
"Karena kan ya saya enggak ada surat resmi atau ID card resmi yang saya pegang, sehingga di lapangan terkadang ya berbenturan juga sama teman-teman di lapangan. Ya, itu bukan salah mereka karena kan itu tugas mereka ya," ucapnya.
Dari situ, Dian berharap ke depannya perlu ada mekanisme dan alur resmi yang bisa menjamin para kreator konten untuk mendokumentasikan IKN secara mandiri dengan aman dan nyaman. Salah satunya dengan pemberian kartu identitas atau ID card sehingga kreator konten mudah dibedakan dengan masyarakat umum.
Dian bilang, keberadaan kartu identitas atau akses resmi bagi kreator dapat membantu proses peliputan di lapangan. Sekaligus, menghindari kesalahpahaman dengan petugas pengamanan.
"Harapan saya ada alur resmi untuk kreator. Kalau memang didukung, berikan ID atau tanda pengenal resmi sehingga teman-teman kreator bisa bekerja dengan jelas dan tidak perlu sembunyi-sembunyi saat membuat konten," harapnya.
Simak Video "Video: Abdul Mu'ti Sindir Sejumlah Kreator Konten yang Cuma Cari Sensasi"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)

