Kalau bicara soal satwa endemik Kalimantan, bekantan adalah salah satu yang terkenal. Primata berhidung panjang ini hidup hanya mendiami Pulau Kalimantan, mulai dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.
Keberadaannya paling sering dijumpai di sepanjang sungai besar, hutan mangrove, rawa, dan kawasan riparian. Satwa ini sudah lama menjadi ikon provinsi Kalimantan Selatan, bahkan juga dikenal luas sebagai salah satu maskot Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta.
Bagaimana tidak, bekantan memiliki banyak keistimewaan. Hidung panjang, perutnya yang besar, hingga kemampuan berenangnya membuat bekantan unik dibanding primata lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bekantan Itu Apa, Sih?
Bekantan adalah primata endemik Pulau Kalimantan dengan nama ilmiah Nasalis larvatus yang hidup di hutan mangrove, rawa gambut, dan tepi sungai besar di wilayah ini. Dalam bahasa Inggris, satwa ini dikenal sebagai proboscis monkey atau long-nosed monkey, karena hidungnya yang panjang dan menonjol, terutama pada individu jantan dewasa yang berperan sebagai alat komunikasi.
Dilihat dari perawakannya, bekantan memiliki tubuh berbulu cokelat kemerahan dengan bagian wajah berwarna kemerahan, serta perut yang tampak buncit akibat sistem pencernaan kompleks untuk mengurai dedaunan.
Satwa ini digolongkan sebagai primata arboreal, artinya sebagian besar aktivitasnya dilakukan di atas pohon. Walaupun begitu, bekantan juga sangat akrab dengan lingkungan perairan dan menjadi salah satu primata yang pandai berenang di antara satwa primata lainnya.
Bekantan bersifat diurnal yang berarti aktif di siang hari. Mereka biasanya mencari makan pada pagi hingga sore, lalu beristirahat dan mencerna makanan di siang hari sebelum kembali aktif. Menjelang petang, bekantan sering bergerak ke pohon di dekat sungai untuk tidur, sehingga ketika malam tiba mereka berada di tempat yang aman sambil tetap dekat dengan sumber air.
Populasi Bekantan di Kalimantan
Populasi bekantan saat ini tidak berada dalam kondisi aman dan terus menghadapi tekanan serius. Menurut IUCN Red List, bekantan (Nasalis larvatus) masuk dalam kategori Endangered (terancam punah) karena populasinya mengalami penurunan lebih dari 50 % dalam beberapa generasi terakhir akibat hilangnya habitat, perburuan, dan fragmentasi hutan di daerah pesisir dan sungai.
Sebaran bekantan di Pulau Kalimantan sendiri cukup luas, tetapi terfragmentasi dan terkonsentrasi di beberapa wilayah yang masih memiliki hutan bakau, riparian, dan rawa gambut.
Di Indonesia, bekantan ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara. Sayangnya, pergeseran penggunaan lahan untuk perkebunan, permukiman, serta pembangunan infrastruktur membuat ruang jelajah mereka semakin sempit dan terpecah-pecah.
Estimasi populasi bekantan di beberapa kawasan juga menunjukkan angka yang terbatas dan bervariasi menurut lokasi. Misalnya, studi di Delta Berau, Kalimantan Timur pada 2021 menemukan sekitar 1.350-1.774 individu bekantan yang terbagi dalam puluhan kelompok.
Gaya Hidup Bekantan yang Unik
Bekantan hidup dalam kelompok yang terstruktur dan saling berinteraksi satu sama lain dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari, dari makan hingga tidur.
Struktur kelompok bekantan umumnya mengikuti pola one-male, multi-female (satu jantan dominan dengan beberapa betina dan anak-anaknya). Dalam kelompok ini, jantan dewasa bertindak sebagai pemimpin utama. Ialah yang memimpin pergerakan kelompok, menjaga keamanan, dan menjadi pusat komunikasi yang membantu menjaga jarak antar kelompok atau menghindari predator.
Kelompok seperti ini biasanya terdiri dari 3 hingga sekitar 19 individu, tapi jumlahnya bisa lebih besar tergantung kondisi habitat.
Selain kelompok inti tersebut, bekantan juga membentuk kelompok jantan tunggal (all-male groups) yang terdiri dari jantan-jantan muda atau jantan yang belum memiliki betina. Mereka hidup bersama sementara waktu sampai salah satu memiliki kesempatan untuk merebut posisi dominan atau membentuk kelompok baru.
Kemampuan berenang adalah bagian unik yang tidak terpisahkan dari gaya hidup monyet Belanda ini. Bekantan tidak hanya mahir bergerak di kanopi hutan, tetapi juga mahir menjelajahi air.
Mereka dapat melompat dari dahan langsung ke sungai bila merasa terancam atau sedang berpindah wilayah. Bahkan, bekantan bisa berenang di bawah air hingga sekitar 20 meter! Suatu kemampuan yang sangat jarang ditemukan pada primata lain.
Apakah Monyet dan Bekantan Itu Sama?
Masih banyak yang mengira bahwa bekantan adalah monyet. Wajar, karena secara umum bekantan memang termasuk ordo Primata. Namun, kalau dilihat dari sudut pandang ilmiah, bekantan tidak bisa disamakan begitu saja dengan monyet pada umumnya.
Bekantan memiliki klasifikasi taksonomi yang berbeda dengan monyet, yaitu:
- Kingdom: Animalia
- Phylum: Chordata
- Class: Mammalia
- Order: Primates
- Family: Cercopithecidae
- Subfamily: Colobinae
- Genus: Nasalis
- Species: Nasalis larvatus
Dari klasifikasi tersebut terlihat bahwa bekantan berada dalam subfamili Colobinae, yaitu kelompok kera pemakan daun (leaf-eating monkeys). Kelompok berbeda dengan banyak monyet lain yang lebih dikenal masyarakat, seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang masuk subfamili Cercopithecinae.
Perbedaan subfamili ini berpengaruh langsung pada bentuk tubuh, sistem pencernaan, dan perilaku hidup. Bekantan memiliki sistem pencernaan beruang banyak dengan proses fermentasi, mirip hewan ruminansia, sehingga perutnya tampak besar dan membulat. Adaptasi ini memungkinkan bekantan mencerna daun mangrove dan tumbuhan berserat tinggi yang tidak bisa dikonsumsi banyak primata lain.
Dari sisi perilaku, perbedaannya juga cukup terlihat. Banyak monyet dari genus Macaca cenderung mudah beradaptasi dengan lingkungan manusia, dan relatif menghindari air. Bekantan justru sebaliknya. Mereka sangat bergantung pada habitat basah, hidup di tepi sungai, rawa, dan hutan mangrove, serta dikenal sebagai salah satu primata terbaik dalam berenang.
Karena itu, meskipun secara umum bekantan dan monyet sama-sama primata, secara ilmiah keduanya memiliki jalur evolusi, adaptasi, dan gaya hidup yang berbeda. Jadi bisa dibilang, semua bekantan memang primata, tetapi tidak semua primata atau monyet bisa disamakan dengan bekantan.
Apakah Bekantan Termasuk Spesies Langka?
Ya. Bekantan termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia dan dikategorikan sebagai spesies terancam punah. Status ini diberikan karena populasinya terus menurun dan habitat alaminya semakin menyempit.
Perburuan, gangguan manusia, serta fragmentasi hutan membuat bekantan kesulitan mempertahankan populasinya. Karena itu, keberadaan kawasan konservasi, hutan mangrove, dan sungai yang bersih sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Apa Makanan Bekantan?
Bekantan dikenal sebagai primata herbivora spesialis, dengan pola makan yang sangat bergantung pada vegetasi alami di habitat lahan basah Kalimantan.
Menu utama bekantan terdiri dari daun muda, pucuk tanaman, buah-buahan tertentu, serta biji-bijian, tapi porsinya tidak seimbang seperti primata pemakan buah pada umumnya. Komposisi makanannya terdiri dari 50% daun muda, 40% buah, diikuti biji-bijian dan bunga.
Bekantan cenderung menghindari buah yang terlalu manis atau tinggi gula karena bisa mengganggu proses fermentasi di dalam perut. Jenis buah yang dikonsumsi biasanya buah muda atau setengah matang dengan kandungan serat tinggi dan gula rendah. Biji-bijian juga dikonsumsi dalam jumlah terbatas, tergantung musim dan ketersediaan pakan di alam.
(des/des)