Orang Punan Batu yang bermukim di kawasan Karst Benau, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti arah musim.
Seperti namanya, kawasan Karst Benau punya banyak mulut-mulut gua yang akan mereka gunakan untuk singgah. Kawasan ini dipenuhi bukit kapur, ceruk batu, liang-liang sempit, dan gua besar yang tersebar di sekitar aliran Sungai Sajau dan hutan primer. Gua-gua inilah yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Bagi mereka, gua bukanlah sekadar tempat singgah. Lebih dari itu, mereka memaksimalkan fungsinya yang juga menjadi tempat tinggal sementara, gudang menyimpan hasil hutan, tempat berlindung, dan terlebih lagi sebagai tempat ritual adat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentuk Gua yang Digunakan Punan Batu
Prasetijo dalam laporannya berjudul Orang Punan Batu Benau Sajau: Kesinambungan Hunter-Gatherer dan Warisan Budaya Karst di Kalimantan Utara, melaporkan jika gua yang dipilih oleh masyarakat Punan Batu biasanya bukan gua yang terlalu dalam dan gelap. Mereka lebih sering menggunakan ceruk batu, liang, atau mulut gua yang cukup lebar agar cahaya matahari masih bisa masuk.
Bagian depan gua biasanya terbuka dan cukup luas sehingga mudah digunakan untuk beraktivitas. Sementara bagian dalam gua cenderung lebih gelap, lembap, dan dingin sehingga biasanya dipakai untuk menyimpan hasil hutan atau barang-barang penting.
Secara umum, gua yang mereka gunakan memiliki beberapa bagian utama berikut:
1. Mulut Gua
Mulut gua merupakan area paling krusial karena menjadi pusat aktivitas mereka. Area ini biasanya cukup terang karena masih terkena sinar matahari dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
Di bagian inilah masyarakat Punan Batu biasanya:
- Menyalakan api
- Memasak hasil buruan dan hasil hutan
- Duduk berkumpul bersama keluarga
- Memperbaiki alat berburu
- Membersihkan hasil hutan seperti madu, rotan, atau umbi-umbian
- Beristirahat pada siang hari
Mulut gua juga menjadi tempat yang paling aman untuk tidur karena lebih mudah mengawasi keadaan sekitar. Mereka biasanya membuat alas tidur dari daun, tikar anyaman, atau kulit kayu.
2. Ceruk dan Ruang Samping
Di dalam gua biasanya terdapat ceruk kecil atau ruang samping yang terbentuk secara alami. Ceruk-ceruk ini sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan barang.
Beberapa hasil hutan yang sering disimpan di ceruk gua antara lain:
- Rotan
- Kulit kayu
- Madu dalam wadah bambu
- Peralatan berburu
- Tombak
- Jerat
- Hasil buruan yang belum dikonsumsi
Daging hasil buruan seperti babi hutan atau rusa terkadang digantung di ceruk batu agar tidak mudah dijangkau binatang liar. Karena suhu di dalam gua lebih sejuk dibanding hutan di sekitarnya, hasil hutan dapat bertahan lebih lama.
Masyarakat Punan Batu di bawah curuk gua. Foto: Dok. Adi Prasetijo (Orang Punan Batu Benau Sajau: Kesinambungan Hunter-Gatherer dan Warisan Budaya Karst di Kalimantan Utara) |
3. Bagian Dalam Gua
Bagian dalam gua biasanya lebih gelap dan jarang dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Dalam kepercayaan masyarakat Punan Batu, bagian dalam gua seringkali dianggap sebagai tempat berdiamnya roh leluhur. Karena itu, tidak semua orang boleh masuk sembarangan.
Ada beberapa pantangan adat yang berlaku, misalnya:
- Tidak boleh berbicara kasar di dalam gua
- Tidak boleh mengambil batu atau benda tertentu dari dalam gua
- Perempuan hamil dilarang masuk ke beberapa gua tertentu
- Tidak boleh membuang sampah sembarangan
- Tidak boleh merusak stalaktit atau stalagmit
Masyarakat percaya bahwa melanggar pantangan tersebut bisa mendatangkan penyakit, kesialan, atau gangguan dari roh penghuni gua.
Kemiripan Gua Punan Batu dengan Gua di Masa Prasejarah
Menurut Prasetijo, fungsi gua yang digunakan masyarakat Punan Batu saat ini memiliki banyak kemiripan dengan gua-gua prasejarah di Kalimantan.
Fungsi hutan bagi Punan Batu mirip dengan fungsi gua pada masa prasejarah. Di kawasan Gua Niah misalnya, ditemukan bukti bahwa manusia modern telah tinggal di gua sejak sekitar 37.000 tahun lalu. Temuan seperti tulang hewan, arang, alat batu, dan sisa aktivitas pra sejarah menunjukkan bahwa gua digunakan sebagai tempat tinggal, tempat memasak, ruang ritual, hingga lokasi penguburan.
Kemiripan lain terlihat di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang terkenal dengan lukisan cadas tertua di dunia. Di wilayah ini ditemukan ribuan gambar prasejarah di puluhan gua, termasuk cap tangan, gambar hewan, hingga figur manusia. Sejumlah lukisan di kawasan ini diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun, bahkan ada gambar manusia yang diperkirakan berasal dari sekitar 13.600 tahun lalu, seperti yang dilaporkan Sumantri dkk. dalam penelitiannya berjudul Sangkulirang Mangkalihat: The Earliest Prehistoric Rock-Art in the World.
Sama seperti manusia prasejarah, masyarakat Punan Batu juga masih menggunakan gua untuk menyimpan madu, rotan, dan daging hasil buruan. Mereka membuat tungku api di mulut gua, tidur di ceruk batu, serta menggunakan gua sebagai tempat ritual adat dan penghormatan kepada roh leluhur.
Karena itulah, banyak peneliti melihat kehidupan Punan Batu sebagai salah satu contoh living archaeology. Kehidupan mereka memperlihatkan bagaimana manusia masa lalu kemungkinan bertahan hidup di hutan tropis Kalimantan selama ribuan tahun.
Berbeda dengan Gua Niah dan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang kini lebih banyak menjadi situs penelitian dan konservasi, gua-gua di wilayah jelajah Punan Batu masih terus dipakai hingga sekarang sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.
(aau/aau)
