Gugusan karst Gunung Kulat yang kerap terlihat dari jendela pesawat saat melintasi jalur Samarinda-Berau kini tengah diusulkan menjadi bagian dari Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Kawasan yang berada di Berau dan Kutai Timur itu dinilai menyimpan kekayaan geologi, sejarah manusia purba hingga sumber air raksasa di bawah tanah.
Manajer Senior Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Niel Makinuddin mengatakan proses pengusulan status geopark sudah diajukan Pemprov Kaltim ke Kementerian ESDM sejak Agustus 2025. Saat ini tahapan penilaian lapangan oleh tim independen dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Juli 2026.
"Kalau lihat dari pesawat dan cuaca cerah, kawasan itu memang terlihat jelas dari window seat sebelah kanan. Itu gugusan Gunung Kulat yang masuk dalam ekosistem karst Sangkulirang Mangkalihat," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Niel menjelaskan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat bukan sekadar bentang alam biasa. Selain memiliki nilai geologi dan biodiversitas tinggi, kawasan itu juga diyakini menjadi jalur transit nenek moyang penutur Austronesia ribuan tahun silam.
Di kawasan itu ditemukan banyak gua prasejarah dengan lukisan tapak tangan yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun. Gugusan Kulat sendiri sudah masuk dalam daftar warisan geologi atau geosite yang ditetapkan Menteri ESDM.
"Kenapa kawasan ini penting? Karena bukan hanya soal batuan karst. Ada sejarah manusia purba, ada sistem hidrologi besar, gua-gua raksasa dan kawasan hutan yang masih sangat terjaga," ujarnya.
Niel menerangkan blok karst Merabu-Kulat membentang dari Kampung Panaan hingga Merapun. Formasi batuannya didominasi batugamping Formasi Lebak yang terbentuk sejak Oligosen Akhir hingga Miosen Awal dengan ketebalan mencapai 2.000 meter.
Bentang alamnya disebut jauh lebih kompleks dibanding kawasan karst lain di Kaltim. Di dalamnya terdapat bukit kerucut, doline, polje, danau karst hingga lembah-lembah kering yang terbentuk akibat proses geologi selama jutaan tahun.
Salah satu titik yang paling mencolok adalah Danau Nyadeng di kawasan Kulat. Danau itu disebut menjadi danau terbesar di sistem karst Sangkulirang Mangkalihat dan dapat terlihat jelas dari pesawat saat hendak mendarat di Bandara Kalimarau Berau.
"Danau Nyadeng itu bukan hanya indah, tapi juga sumber air bersih masyarakat Kampung Merabu. Airnya jernih kebiruan karena kandungan karbonatnya tinggi," jelasnya.
Selain danau, kawasan Kulat juga menyimpan sistem gua bawah tanah yang belum seluruhnya dipetakan. Beberapa di antaranya seperti Lubang Ranggasan, Lubang Dunia, Gua Kelelawar hingga Sedepan Melangan memiliki sungai bawah tanah aktif dan lorong gua raksasa. Kawasan itu juga menjadi habitat penting kelelawar, satwa liar hingga sumber mata air alami yang menyuplai Sungai Lesan dan Sungai Kelay.
Niel menyebut salah satu syarat utama pengajuan geopark adalah adanya kelembagaan pengelola, penetapan geosite oleh Menteri ESDM serta dokumen rencana induk pengelolaan kawasan.
"Hasil penilaian tim independen nanti akan menjadi dasar rekomendasi ke Kementerian ESDM. Keputusan final status geopark diperkirakan keluar akhir 2026 atau awal 2027," pungkasnya.