Pakai Freezer! Biaya Ongkir Pakan Satwa di PPS Long Sam Turun 50 Persen

Pakai Freezer! Biaya Ongkir Pakan Satwa di PPS Long Sam Turun 50 Persen

Riani Rahayu - detikKalimantan
Senin, 04 Mei 2026 22:00 WIB
Orang utan di PPS Long Sam bernama Hannes menikmati buah pisang di atas pohon.
Orang utan di PPS Long Sam bernama Hannes menikmati buah pisang di atas pohon/Foto: Istimewa
Berau -

Sistem penyimpanan pakan di pusat penyelamatan satwa (PPS) Long Sam, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai berubah, setelah penggunaan freezer diterapkan dalam distribusi buah dan sayur untuk satwa rehabilitasi. Cara itu disebut menekan biaya pengiriman sekaligus mengurangi pembusukan pakan yang sebelumnya cukup sering terjadi.

Sebelumnya, pengiriman pakan dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. Namun setelah penggunaan freezer, distribusi dari pemasok kini cukup dilakukan satu kali dalam seminggu. Direktur CAN Borneo Paulinus Kristianto mengatakan, perubahan sistem tersebut membuat biaya pengiriman pakan menjadi jauh lebih hemat dibanding sebelumnya.

"Dengan adanya freezer biaya ongkir menjadi lebih irit sampai 50 persen karena pengiriman supplier sekarang cukup seminggu sekali," ujarnya kepada detikKalimantan, Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sistem lama, buah dan sayur hanya disimpan di etalase biasa. Kondisi itu membuat sejumlah pakan seperti salak, sirsak, pepaya hingga buah dan sayur lain lebih cepat membusuk sebelum dikonsumsi satwa.

"Petugas gudang pakan nanti menyortir arus keluar masuk pakan setiap hari di freezer. Buah dan sayur yang matang menjadi prioritas utama untuk diberikan ke satwa," katanya.

Saat ini kebutuhan pakan satwa di PPS Long Sam mencapai sekitar 250 kilogram per pekan. Dalam penerapannya, pemasok menyediakan buah setengah matang dan matang untuk menjaga kualitas stok selama penyimpanan.

"Tentu kebutuhan tiap satwa berbeda. Untuk orang utan dan owa lebih banyak campuran buah dan sayur, sementara beruang lebih banyak diberikan buah," jelasnya.

Jika ada kekosongan stok pakan matang, petugas akan memasukkan buah yang dinilai cukup matang ke dalam freezer agar kualitasnya tetap terjaga. Jenis pakan yang paling sering digunakan berasal dari buah lokal, meski dalam kondisi tertentu pihaknya juga menggunakan buah nonlokal seperti apel dan pir ketika stok buah lokal terbatas atau untuk menyesuaikan rasa buah hutan.

"Kontribusi buah dari masyarakat masih sekitar 25 persen dari total kebutuhan pakan satwa," ucapnya.

Selain buah, beberapa jenis sayuran juga rutin digunakan sebagai pakan, seperti tomat, terong bulat, timun, kangkung, pakcoy, sawi hingga daun katuk. Dalam perawatan satwa, kebutuhan pakan umumnya dihitung sekitar 10 persen dari berat badan masing-masing individu.

"Untuk bayi orang utan proses rehabilitasinya bisa lebih dari lima tahun, dan tiap individu satwa tentu memiliki proses yang berbeda-beda," tuturnya.

Jika kondisi tubuh atau body score satwa dinilai tidak sesuai, petugas akan melakukan treatment lanjutan seperti pengaturan pola makan atau diet khusus. Saat ini PPS Long Sam merawat 22 satwa yang terdiri dari empat bayi orang utan dan satu orang utan dewasa, 11 owa, empat beruang madu dewasa, satu bangau tongtong serta satu rangkong badak.

"Bayi orang utan dan owa menjadi satwa yang membutuhkan penanganan paling intensif, sementara sebagian besar satwa di lokasi merupakan hasil sitaan dari pemeliharaan ilegal masyarakat," pungkasnya.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads