Lima kawasan permukiman di Kota Pontianak mendapat penghargaan nasional Program Kampung Iklim (Proklim) 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup. Yang paling mencolok adalah Kampung Gambut, Kelurahan Siantan Hilir, yang menerima kategori Proklim Utama Trophy. Penghargaan ini dinilai menjadi bukti gerakan berbasis warga di daerah mampu menjadi model penanganan perubahan iklim dari level kampung.
Selain RW 33 Kampung Gambut, Kelurahan Siantan Hilir yang menerima menerima penghargaan tertinggi, ada RW 27 Kampung Tangguh Penggerak Kesadaran Lingkungan di Siantan Hulu dan RW 15 Kampung Tenun Batulayang yang juga memperoleh penghargaan kategori Proklim Utama.
Dua kawasan lain, yakni RW 21 Kelurahan Sungai Jawi Dalam dan RW 10 Kelurahan Pal Lima, meraih kategori Proklim Madya. Penghargaan itu diserahkan Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, Rabu (20/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah menilai gerakan kampung iklim menjadi bagian penting dari strategi nasional menghadapi dampak perubahan iklim yang kini dirasakan hingga tingkat permukiman warga. Ketua Pokdarwis Kampung Gambut Siantan Hilir Misra'i mengatakan, transformasi kampung tersebut bermula dari keresahan warga yang merasa wilayah mereka tertinggal dibanding kawasan lain di Pontianak.
"Dari situ kami mulai bergerak bersama, membangun kesadaran lingkungan dan mengenalkan potensi kampung," kata Misra'i.
Kampung Gambut kini berkembang sebagai kawasan pertanian ramah lingkungan sekaligus wisata edukasi berbasis masyarakat. Warga mengelola sampah menjadi pupuk organik, memanfaatkan limbah sayuran menjadi gas rumah tangga, hingga menanam bunga di sekitar lahan pertanian untuk mengurangi hama secara alami.
Saat ini, pemanfaatan gas dari limbah sayuran masih terbatas untuk enam rumah warga karena keterbatasan alat produksi dan bahan baku. Selain itu, kawasan tersebut juga menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar dan mahasiswa. Pengunjung diajak belajar langsung mengenai pertanian, pengelolaan lingkungan, hingga konservasi kawasan gambut.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Kampung Gambut telah menerima lebih dari 2.000 pengunjung, mayoritas siswa TK dan sekolah dasar. Bahkan, wisatawan asal Kanada disebut pernah datang untuk meneliti kondisi air di kawasan tersebut. Tidak hanya fokus pada pertanian dan sampah, warga juga mempertahankan hutan kecil seluas sekitar 1,5 hektare sebagai area resapan air dan habitat satwa.
Menurut Misra'i, perubahan pola hidup masyarakat mulai memberi dampak terhadap ekosistem di sekitar kampung. Sejumlah satwa yang sebelumnya jarang terlihat kini mulai kembali muncul.
"Dulu beberapa satwa sempat hilang, sekarang mulai terlihat lagi setelah masyarakat lebih menjaga lingkungan," ujarnya.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pontianak M Yamin mengatakan kampung iklim merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap ancaman perubahan iklim yang kini menjadi isu global.
"Ini bukan hanya program daerah, tetapi bagian dari program nasional menghadapi perubahan iklim," katanya.
Yamin menyebut konsep kampung iklim mendorong masyarakat membangun ketahanan lingkungan dari skala terkecil, mulai dari pengelolaan sampah, pemanfaatan pekarangan rumah, penanaman sayur, hingga pengembangan ekonomi keluarga berbasis lingkungan.
Menurutnya, pola tersebut juga dapat membantu ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan cuaca ekstrem. Yamin berharap gerakan serupa dapat berkembang lebih luas dan menjadi budaya baru masyarakat perkotaan dalam menjaga lingkungan.
"Kita ingin kampung iklim tidak berhenti di beberapa titik saja, tetapi tumbuh di seluruh wilayah Kota Pontianak," tutupnya.
(des/des)