Universitas Borneo Tarakan (UBT) tengah bersiap membuka Program Studi (Prodi) Ilmu Lingkungan. Langkah ini diambil untuk merespons minimnya tenaga ahli lingkungan di tengah pesatnya pembangunan industri di Kalimantan Utara (Kaltara).
Kepala Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBT, Heni Irawati, membenarkan rencana tersebut. Pihaknya saat ini sedang merampungkan dokumen kelayakan sebelum diajukan ke kementerian dan BAN PT.
"Itu benar. Sekarang kita masih dalam tahap proses untuk menguji kelayakan, kenapa prodi ini sangat mendesak untuk segera didirikan. Masih di tahapan persiapan dokumen dulu," kata Heni saat ditemui detikKalimantan. Senin (25/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heni menjelaskan, urgensi pembukaan prodi ini tak lepas dari masalah lingkungan yang mulai bermunculan di Kaltara dan juga kebutuhan tenaga ahli lingkungan yang semakin meningkat. Ia mencontohkan seperti adanya SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang dihentikan beroperasi sementara karena belum adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau pengelolaan IPAL yang belum maksimal.
"Setiap SPPG itu seharusnya punya ahli lingkungan. Kenyataannya ada beberapa yang ditutup karena IPAL-nya bermasalah. Itu karena mereka masih kekurangan dari segi ahli lingkungan tadi," ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa secara internal, UBT sudah siap dari segi kesediaan dosen dan sarana prasarana. Ke depan, lulusan Prodi Ilmu Lingkungan UBT ini diproyeksikan untuk mengisi kebutuhan tenaga ahli di lapangan, mulai dari konsultan lingkungan, petugas health, safety, and environment (HSE) di perusahaan, hingga aktivis di LSM.
"Mereka diharapkan menjadi agent of change yang membawa solusi atas masalah lingkungan," harapnya.
Sementara itu, Wakil Dekan FPIK UBT Muhamad Roem menambahkan bahwa pembangunan daerah dan kebutuhan energi di Kaltara harus berjalan sinergis dengan kelestarian alam, bukan malah merusaknya. Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan keterlibatan pakar lokal.
"Target utama justru orang kita. Orang yang paling tahu masalah lingkungan di sekitar kita itu orang kita. Kita bisa mengundang pakar luar, tapi ada hal yang tidak dimiliki orang luar, yaitu pengetahuan kearifan lokal (local wisdom) dan rasa memiliki," tuturnya.
Terkait timeline pendaftaran, pihak UBT tengah berproses secara internal untuk mendapatkan persetujuan dari Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP) sebelum di-submit ke BAN-PT.
"Jika disetujui kementerian melalui BAN-PT, insyaallah mudah-mudahan di akhir tahun ini kami sudah bisa sosialisasi. Kami mohon doanya bisa menerima mahasiswa angkatan pertama di tahun depan," pungkasnya.
(bai/bai)