Akademisi Unmul Ungkap Orang Utan Dapat Bertahan Hidup di Habitat Sempit

Kalimantan Timur

Akademisi Unmul Ungkap Orang Utan Dapat Bertahan Hidup di Habitat Sempit

Riani Rahayu - detikKalimantan
Senin, 15 Jun 2026 08:00 WIB
Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)
Foto: Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)
Kutai Timur -

Selama ini orang utan diketahui hanya bisa bertahan hidup di hamparan hutan yang luas dan utuh. Namun temuan di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim) justru menunjukkan sebaliknya, populasi orang utan masih bisa tumbuh meski hidup di kantong habitat yang relatif kecil di tengah aktivitas manusia.

Temuan itu disampaikan Peneliti sekaligus Akademisi Universitas Mulawarman, Yaya Rayadin. Selama bertahun-tahun ia memetakan habitat orang utan di Lanskap Keraitan. Menurutnya, ada satu kantong habitat orang utan di tengah kawasan sawit yang justru mengalami pertumbuhan populasi.

"Bahkan ada contoh yang cukup menarik. Dulu jumlahnya hanya sekitar enam individu, sekarang menjadi sebelas individu. Jadi sebenarnya ini menunjukkan bahwa orangutan masih bisa bertahan dan berkembang biak apabila kebutuhan hidupnya tetap terpenuhi," ujar Yaya kepada detikKalimantan, Minggu (14/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)Kondisi hutan di Simpang Perdau, salah satu kawasan sering ditemukannya orang utan turun ke jalan. (Istimewa/Jaringan Penulis Alam)

Temuan tersebut menjadi bukti bahwa fragmentasi habitat tidak selalu berujung pada kepunahan populasi. Yaya menyebut yang paling penting bukan semata luas kawasan, melainkan keterhubungan antarhabitat yang masih terjaga.

"Yang paling penting sebetulnya bukan hanya luas hutannya. Yang lebih penting bagaimana kantong-kantong habitat itu tetap terkoneksi sehingga orangutan masih bisa bergerak, mencari pakan dan melakukan pertukaran genetik," katanya.

Menurutnya, orangutan masih mampu bertahan di tengah lanskap yang telah terbagi menjadi berbagai penggunaan lahan selama koridor pergerakan dan sumber pakannya tetap tersedia. Kondisi itu masih dapat ditemukan di Lanskap Keraitan yang menjadi salah satu kantong terbesar Orangutan Morio di Kaltim.

"Daya dukung Keraitan sebenarnya bagus. Kita punya Hutan Lindung Keraitan sekitar 14 ribu hektare dan kondisi tutupan hutannya saat ini kurang lebih 94 persen masih sangat bagus," ungkapnya.

Keberadaan hutan lindung tersebut juga diperkuat oleh kawasan bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) milik sejumlah perusahaan di sekitarnya. Area-area itu selama ini ikut menjadi ruang jelajah orangutan di tengah aktivitas perkebunan, kehutanan maupun pertambangan.

"Beruntungnya lagi di sekitar hutan lindung itu dibantu oleh HCV perusahaan-perusahaan. Jadi kalau dilihat secara lanskap, sebetulnya masih cukup baik untuk mendukung keberadaan orangutan," tuturnya.

Yaya menilai pendekatan konservasi saat ini tidak lagi bisa hanya berfokus pada satu kawasan hutan yang berdiri sendiri. Menjaga keterhubungan antarhabitat justru menjadi kunci agar populasi orangutan tidak terisolasi.

"Kalau konektivitasnya terjaga, populasi-populasi ini tidak terisolasi. Mereka tetap bisa berinteraksi sehingga peluang bertahannya jauh lebih besar dibanding kalau masing-masing kantong habitat berdiri sendiri," kata dia.

Karena itu, berbagai upaya menjaga konektivitas terus dilakukan, termasuk melalui pembangunan jembatan kanopi sederhana yang memungkinkan orangutan berpindah antarfragmen hutan tanpa harus turun ke tanah. Gagasan yang sama juga menjadi salah satu dasar usulan pembentukan Areal Preservasi Habitat Orangutan di Lanskap Keraitan.

"Awalnya kita bikin konservasi-konservasi di tambang, di sawit, di HTI. Ternyata sekarang disambut pemerintah menjadi area preservasi. Itu luar biasa karena artinya upaya-upaya yang selama ini dilakukan di tingkat tapak mulai mendapat dukungan yang lebih luas," jelasnya.

Menurut Yaya, pembentukan areal preservasi bukan berarti memulai program baru dari nol. Skema tersebut lebih kepada mempercepat dan menyatukan berbagai upaya konservasi yang selama ini telah berjalan di lapangan.

"Sebetulnya tidak ada program baru. Ini lebih kepada melanjutkan pondasi riset dan program yang sudah terbangun selama ini, lalu kita percepat lagi supaya proses konservasi di tingkat tapak bisa berjalan lebih baik," pungkasnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads