5 Orang Utan 'Lulus Sekolah', Salah Satunya Si Bayi Korban Kebakaran Hutan

5 Orang Utan 'Lulus Sekolah', Salah Satunya Si Bayi Korban Kebakaran Hutan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 19 Jun 2026 10:05 WIB
Himba saat dilepasliarkan.
Himba saat dilepasliarkan/Foto: Istimewa (dok Yayasan BOS)
Palangka Raya -

Setelah bertahun-tahun belajar memanjat, mencari makan, mengenali bahaya, hingga bertahan hidup tanpa campur tangan manusia, lima orang utan Kalimantan ini dinyatakan lulus dari sekolah hutan.

Pada Kamis (18/6/2026), mereka dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Tengah. Itu menandai awal kehidupan baru di alam liar.

Sekitar 14 tahun yang lalu, Himba hanyalah bayi orang utan. Ia selamat dari kobaran api di hutan dengan luka bakar serius di tubuhnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, orang utan jantan berusia 15 tahun itu mengayunkan lengannya menuju kanopi hutan TNBBBR. Ia dilepasliarkan bersama empat orang utan lainnya, Himba memulai babak baru kehidupan yang telah lama diperjuangkan banyak pihak.

Pelepasliaran ke-47 yang dilakukan Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalimantan Tengah, Balai TNBBBR, dan Yayasan BOS itu menjadi langkah nyata dalam memulihkan populasi orang utan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis Indonesia.

Kisah Himba yang Menyentuh

Di antara lima individu yang dilepasliarkan, kisah Himba menjadi salah satu yang paling menyentuh. Saat ditemukan, ia masih bayi dan mengalami luka bakar akibat kebakaran hutan.

Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Himba tumbuh menjadi orang utan yang kuat, mandiri, dan mampu bertahan hidup di alam liar.

Perjalanan panjang juga dilalui Lykke. Orang utan betina berusia 23 tahun itu tiba di Nyaru Menteng saat masih berumur sekitar satu bulan bersama induknya.

Hampir 22 tahun menjalani proses rehabilitasi, ia terbentuk menjadi individu yang mandiri dengan kemampuan hidup arboreal yang sangat baik. Itu menjadi keterampilan penting untuk bertahan di habitat aslinya.

Lalu ada Farida, orang utan betina asal Tumbang Samba. Ia menunjukkan kemampuan adaptasi dan eksplorasi yang mengesankan selama masa pra-pelepasliaran. Bersama Nett dan Semeru, mereka kini resmi menjadi penghuni baru belantara Kalimantan.

Direktur Konservasi Kawasan Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo, menegaskan pelepasliaran orang utan bukan sekadar mengembalikan satwa ke hutan, tetapi juga bagian dari upaya pemulihan ekosistem dan penguatan fungsi kawasan konservasi sebagai rumah bagi satwa liar yang terancam punah.

"Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, mitra pembangunan, dan masyarakat mampu memberikan dampak nyata bagi pemulihan populasi orang utan di alam liar," ujar Sapto dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Bagi TNBBBR, kehadiran lima orang utan baru ini memiliki arti penting. "Selain menjadi bagian dari keanekaragaman hayati kawasan, mereka juga berperan sebagai penyebar biji alami yang membantu regenerasi hutan tropis," imbuhnya.

Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, menyebut pelepasliaran bukanlah akhir perjalanan rehabilitasi, melainkan awal kehidupan baru yang sesungguhnya.

"Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah belajar kembali menjadi orang utan liar selama bertahun-tahun. Hari ini mereka pulang ke rumahnya," ujarnya.

Dengan pelepasliaran lima individu tersebut, harapan untuk masa depan orang utan Kalimantan dan kelestarian hutan Indonesia kembali menemukan pijakannya. "Di antara rimbunnya pepohonan Bukit Baka Bukit Raya, lima kisah perjuangan kini berubah menjadi cerita tentang kebebasan," pungkasnya.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads