Sekarang Himba Gagah Banget, Tak Disangka Masa Bayinya Begitu Kelam

Sekarang Himba Gagah Banget, Tak Disangka Masa Bayinya Begitu Kelam

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 19 Jun 2026 12:00 WIB
Perjalanan Himba, dari Bayi hingga Kembali ke Rimba
Himba yang sudah gede dan gagah banget/Foto: Istimewa (dok Yayasan BOS)
Palangka Raya -

Di balik rimbunnya hutan Kalimantan, ada sebuah kisah yang tak pernah benar-benar usai. Kisah tentang seekor bayi orang utan yang nyaris kehilangan segalanya akibat kebakaran hutan.

Ia kehilangan induknya, rumahnya, bahkan hampir kehilangan nyawanya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Bayi orang utan itu kini dikenal dengan nama Himba.

Kisah Himba dimulai pada 2 Oktober 2011. Saat itu, kebakaran hutan melanda kawasan sekitar Desa Takaras, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di tengah hamparan hutan yang menghitam, seorang warga bernama Chen menemukan seekor bayi orang utan dalam kondisi memprihatinkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut cerita yang kemudian disampaikan kepada tim penyelamat, sebelum menemukan bayi orang utan itu, Chen melihat seekor anjing sedang berhadapan dengan induk orang utan yang tubuhnya telah mengalami luka bakar parah. Induk tersebut akhirnya mati, sementara bayi orang utan yang masih sangat kecil bisa diselamatkan dari lokasi.

Kondisi Himba yang Bikin Terenyuh

Perjalanan Himba, dari Bayi hingga Kembali ke RimbaHimba saat masih bayi penuh luka/ Foto: Istimewa (dok Yayasan BOS)

Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, dalam keterangannya mengatakan bayi orang utan itu kemudian dibawa pulang sebelum diserahkan kepada Fadilah Pendi Amat, yang mengantarkannya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng milik BOS Foundation.

"Saat tiba di Nyaru Menteng, kondisi Himba membuat seluruh tim dokter terenyuh. Usianya diperkirakan baru sekitar enam bulan dengan berat badan hanya 3,3 kilogram. Hampir seluruh tubuhnya mengalami luka bakar. Kulit di kepala, tangan, kaki, wajah, mulut, tengkuk hingga bagian anus melepuh. Dua jari tangan kanannya patah dan mengalami luka serius. Tubuhnya juga mengalami dehidrasi, demam tinggi, dipenuhi kotoran, serta sangat lemah akibat kehilangan induknya," ujar Jamartin menceritakan, Jumat (19/6/2026).

Tim medis BOS Foundation langsung melakukan penanganan darurat. Himba dipasangi infus, diberikan oksigen, antibiotik, vitamin, obat pereda nyeri, serta menjalani perawatan intensif selama 24 jam penuh. Luka-lukanya dibersihkan secara perlahan agar tidak menimbulkan infeksi yang lebih parah.

Setelah kondisinya mulai stabil, dokter melakukan operasi untuk memperbaiki cedera pada tangan kanannya. Masa pemulihan Himba berlangsung sangat panjang.

"Selama berbulan-bulan ia harus belajar mempercayai manusia yang merawatnya. Setiap hari para pengasuh memberinya susu, makanan bergizi, serta terapi agar kondisi fisiknya kembali pulih. Perlahan, luka-luka di tubuhnya mulai mengering. Berat badannya bertambah dan semangat hidupnya mulai terlihat," kata dia.

Mengembalikan Naluri Liar Himba

Namun, menyelamatkan nyawa Himba hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah mengembalikan naluri liarnya agar suatu hari nanti ia mampu hidup mandiri di hutan tanpa bergantung pada manusia.

"Di Nyaru Menteng, Himba menjalani pendidikan di Forest School, sekolah alam khusus bagi orang utan yatim piatu. Di sana, ia belajar memanjat pohon, mengenali buah-buahan hutan, mencari makanan sendiri, membuat sarang untuk tidur, hingga menghindari ancaman predator. Semua keterampilan itu merupakan bekal penting agar dapat bertahan hidup ketika kembali ke habitat alaminya," ujarnya.

Pada 5 Maret 2014, Himba resmi memulai pendidikan di Forest School. Seiring bertambahnya usia, kemampuan bertahan hidupnya terus meningkat. Ia dikenal sebagai orang utan yang aktif menjelajah, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan cukup mahir mencari sumber makanan alami.

Meski memiliki karakter yang cenderung sensitif terhadap manusia maupun orang utan lain, sifat tersebut justru menjadi nilai positif. Sebab itu menunjukkan naluri liarnya tetap terjaga.

"Setelah dinilai memiliki kemampuan yang semakin baik, Himba memasuki tahap berikutnya pada 18 Februari 2019, dengan dipindahkan ke Pulau Bangamat, sebuah pulau pra-pelepasliaran. Di tempat ini, orang utan hidup lebih mandiri dengan campur tangan manusia yang sangat minim. Mereka diuji apakah benar-benar mampu bertahan hidup sebelum dilepas ke hutan," kata dia.

Himba Kembali ke Rimba

Bertahun-tahun Himba menghabiskan hidupnya dalam proses rehabilitasi. Waktu terus berjalan. Luka bakar yang dulu memenuhi tubuhnya kini hanya menyisakan bekas. Bayi mungil yang dahulu tak berdaya telah tumbuh menjadi orang utan jantan dewasa yang gagah dan kuat.

"Kini, sekitar 14 tahun sejak pertama kali ditemukan, Himba akhirnya dinyatakan siap kembali ke alam liar. Ia masuk dalam daftar kandidat pelepasliaran orang utan ke-47 yang disiapkan BOS Foundation untuk dilepas ke habitat alaminya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, kawasan hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi populasi orang utan Kalimantan," ujarnya.

Perjalanan Himba menjadi simbol harapan di tengah ancaman yang terus menghantui hutan Kalimantan. Kebakaran hutan yang merenggut nyawa induknya memang tak dapat diulang, tetapi upaya penyelamatan dan rehabilitasi membuktikan bahwa satwa liar masih memiliki kesempatan untuk bangkit apabila manusia mau menjaga dan melindungi habitat mereka.

"Empat belas tahun lalu, Himba datang ke Nyaru Menteng dalam sebuah kardus dengan tubuh penuh luka. Hari ini, ia bersiap meninggalkan tempat yang telah menyelamatkan hidupnya untuk kembali ke rumah yang sesungguhnya-rimba Kalimantan. Perjalanan panjangnya menjadi pengingat bahwa setiap hutan yang terbakar bukan hanya kehilangan pepohonan, tetapi juga menyimpan kisah-kisah perjuangan makhluk hidup yang berusaha bertahan," pungkasnya.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads