Ini Lahung, Durian Merah Khas Katingan Hulu yang Jadi Buruan Warga

Kalimantan Tengah

Ini Lahung, Durian Merah Khas Katingan Hulu yang Jadi Buruan Warga

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Minggu, 28 Jun 2026 06:00 WIB
Ini Lahung, Durian Merah Khas Katingan Hulu yang Diburu Warga. (Istimewa)
Foto: Ini Lahung, Durian Merah Khas Katingan Hulu yang Diburu Warga. (Istimewa)
Katingan -

Musim durian tiba, warga pedalaman Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, pun menyambut gembira. Warga setempat sudah tak sabar mencicipi durian unik khas Katingan yang bernama lahung.

Bentuk buah lahung sangat mirip dengan durian, namun uniknya warna kulitnya merah menyala. Lahung tumbuh liar di hutan tropis, meski kini semakin langka ditemukan.

Soal isinya, daging buah lahung punya sensasi rasa yang tak jauh berbeda dengan durian. Masyarakat di Kecamatan Katingan Hulu menjadikan lahung sebagai salah satu buah buruan setiap kali musim panen tiba.

Heli, warga Tumbang Sanamang yang juga berprofesi sebagai petani lahung, menjelaskan buah lokal hutan Borneo itu sudah sejak lama menjadi favorit masyarakat pedalaman. Setiap musim durian datang, warga biasanya juga mulai mencari lahung yang berbuah hampir bersamaan.

Di balik tampilannya yang unik, cita rasa lahung membuat banyak orang penasaran. Daging buahnya lembut, bertekstur creamy, bercita rasa manis dengan sedikit legit, serta memiliki aroma khas yang mengingatkan pada durian.

"Setiap musim durian tiba, lahung juga mulai berbuah. Kulitnya merah sehingga mudah dikenali, sementara rasanya hampir sama dengan durian yang sudah dikenal masyarakat," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lahung memiliki ciri yang sangat mencolok dibandingkan buah sejenis lainnya. Kulitnya berwarna merah terang sehingga mudah dikenali di antara rimbunnya pepohonan hutan maupun kebun milik warga.

Durian Lahung. Foto: tangkapan layar buku Menggapai Laba dari Budidaya Durian ; Tanaman Banyak Manfaat oleh M Jawal Anwarudin SyahDurian Lahung. Foto: tangkapan layar buku Menggapai Laba dari Budidaya Durian ; Tanaman Banyak Manfaat oleh M Jawal Anwarudin Syah



Menurut Heli, lahung umumnya berbuah dua kali dalam setahun, yakni pada Mei-Juni dan kembali pada Oktober-November, meski waktunya dapat bergeser mengikuti kondisi cuaca. Saat panen tiba, masyarakat memetik buah tersebut dari kebun maupun hutan, lalu menjualnya bersamaan dengan durian ke pasar tradisional atau kepada para pengepul yang datang ke wilayah pedalaman.

"Harga lahung biasanya berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per buah, tergantung ukuran dan kualitasnya. Kalau musimnya datang, lahung dijual bersama durian karena pembelinya juga banyak yang mencari," katanya.

Buah ini kerap disebut sebagai 'saudara' durian oleh masyarakat setempat. Bagi warga Katingan Hulu, kemunculan lahung menjadi penanda datangnya musim panen buah-buahan hutan.

Pohonnya tumbuh alami di kawasan hutan hujan tropis yang masih terjaga, sekaligus banyak ditemukan di kebun-kebun warga yang berdampingan dengan berbagai varietas durian lokal.

Heli menambahkan, keberadaan lahung layak dipertahankan karena menjadi bagian dari kekayaan hayati Katingan Hulu. Ia berharap buah lahung semakin dikenal, baik oleh generasi muda maupun wisatawan yang berkunjung ke pedalaman Kalimantan Tengah.

Terlebih, lahung juga memiliki nilai ekonomi karena ikut menopang pendapatan masyarakat saat musim panen bersama durian.

"Keunikan warna kulit, cita rasa yang menyerupai durian, serta habitat alaminya yang masih terjaga membuat lahung memiliki potensi sebagai ikon buah eksotis khas Katingan Hulu," harapnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads