Sejarah dan Resep Kue Putu Rateh, Takjil Khas Sambas yang Makin Langka

Sejarah dan Resep Kue Putu Rateh, Takjil Khas Sambas yang Makin Langka

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 19 Mar 2026 14:59 WIB
UGC Resep Detikfood
Ilustrasi kue putu. Foto: detik/UGC Resep Detikfood
Pontianak -

Di tengah banyaknya jajanan viral, ternyata ada satu kue tradisional dari Sambas yang punya bentuk dan cara pembuatan yang cukup unik, yaitu kue putu rateh atau kue putu ratih. Sekilas namanya memang kue putu, tapi jangan bayangkan seperti kue putu pada umumnya yang dibuat dengan bambu, berisi gula merah cair, dan disajikan hangat dengan taburan kelapa.

Putu rateh justru berbeda. Kue ini bahkan penampilannya jauh berbeda dengan kue putu biasanya. Teksturnya lebih padat, cenderung kering, dengan rasa manis dari gula kelapa yang menyatu langsung dengan adonan. Bentuknya pun sederhana, biasanya dicetak tanpa isian di dalamnya.

Sejarah Kue Putu Rateh

Meskipun kini sudah jarang dijumpai, kue ini dulu cukup akrab di lidah masyarakat Kalimantan Barat. Saat bulan Ramadan, putu rateh sering dijadikan takjil untuk berbuka puasa. Namun, karena proses pembuatannya yang cukup panjang, kue ini perlahan menjadi salah satu kuliner khas yang semakin langka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika ditarik ke belakang, kue putu rateh tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Melayu Sambas yang sangat dekat dengan alam, terutama padi sebagai sumber pangan utama mereka. Dulu masyarakat Sambas tidak hanya mengolah beras menjadi nasi, tetapi juga mengembangkannya menjadi berbagai jenis makanan tradisional, termasuk kue-kue sederhana seperti putu rateh ini.

Proses pembuatannya pun mencerminkan kehidupan masa lalu yang serba tradisional. Padi disangrai hingga mengembang, lalu ditumbuk menjadi tepung kasar. Teknik ini akhirnya menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat yang dilakukan secara bersama-sama, penuh kebersamaan dan gotong royong.

Hal tersebut dijelaskan dalam artikel ilmiah berjudul Makan Besaprah pada Masyarakat Melayu Sambas di Jawai: Identifikasi Nilai-Nilai Psikologi karya Pradika. Dalam konteks budaya, tradisi kuliner seperti ini juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Sambas dalam menyajikan makanan saat berkumpul, seperti dalam tradisi makan bersama.

Kue-kue tradisional, termasuk putu rateh, menjadi pelengkap yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mempererat hubungan sosial. Seiring waktu, putu rateh kemudian menjadi hidangan khas pada momen tertentu, terutama saat hari besar seperti Lebaran.

Rasanya yang manis dan bahan dasarnya yang sederhana membuatnya cocok disajikan sebagai kudapan untuk tamu. Biasanya kue ini dicetak di dalam loyang persegi, kemudian dipotong-potong sesuai selera. Jika ingin membelinya, detikers perlu mengeluarkan uang sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per loyang.

Resep Kue Putu Rateh Khas Sambas

Karena proses pembuatan yang cukup rumit, mulai dari menyangrai padi hingga menumbuknya, membuat banyak orang mulai jarang membuatnya. Akibatnya, kue putu rateh saat ini jarang ditemukan, bahkan mulai jarang dikenal oleh masyarakat luas.

Nah, untuk mengenalnya, berikut detikKalimantan berikan resep kue putu rateh khas Sambas yang bisa detikers coba buat.

Bahan:

Beras atau padi yang sudah disangrai
Gula merah atau gula kelapa

Cara Membuat:

  • Sangrai padi atau beras hingga mengembang
  • Tumbuk atau blender hingga menjadi tepung halus, proses ini biasanya memakan waktu cukup lama tergantung seberapa halus tekstur yang ingin diperoleh
  • Lelehkan gula merah sampai cair
  • Campurkan gula cair ke dalam tepung beras sangrai
  • Aduk hingga merata dan bisa dipadatkan
  • Cetak atau bentuk sesuai selera, lalu diamkan hingga mengeras

Perbedaan Kue Putu Rateh dan Kue Putu Biasa

Walaupun sama-sama disebut "putu", keduanya sebenarnya cukup berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat yang pertama dari bahan pembuatannya. Putu rateh menggunakan padi atau beras yang disangrai terlebih dahulu lalu ditumbuk, sedangkan putu biasa dibuat dari tepung beras basah.

Cara mengolahnya pun berbeda, di mana putu rateh tidak dikukus, melainkan dicampur dengan gula cair kemudian dipadatkan, sementara putu biasa dikukus dalam bambu menggunakan uap panas. Perbedaan ini kemudian menghasilkan tekstur yang khas, yakni putu rateh cenderung kering, padat, dan sedikit renyah, sedangkan putu biasa memiliki tekstur lembut dan agak basah.

Walaupun kue putu rateh semakin jarang ditemui, tetapi rasanya masih membekas di lidah masyarakat Kalimantan Barat. Dengan membuatnya, detikers bisa merasakan gurih, manis kue yang semakin langka ini. Yuk, coba buat!

Halaman 2 dari 2
(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads