Cita Rasa Makhi Koi, Kepiting Fermentasi Ala Pontianak

Cita Rasa Makhi Koi, Kepiting Fermentasi Ala Pontianak

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 19 Mei 2026 07:58 WIB
Kepiting fermentasi ala Pontianak.
Kepiting fermentasi ala Pontianak. Foto: Dok. Istimewa
Pontianak -

Kalimantan terkenal dengan kuliner ekstrem, khususnya yang dikonsumsi masyarakat Dayak. Kuliner di Kalimantan Barat (Kalbar) dikenal memiliki cita rasa yang kuat, khas, dan tidak jarang terdengar unik bagi orang luar daerah.

Selain bubur pedas sambas, choipan, dan pengkang, Pontianak juga punya hidangan tradisional bernama makhi koi. Makanan ini mungkin belum sepopuler kuliner Kalbar lainnya, tapi bagi masyarakat pesisir dan pecinta seafood, makhi koi bisa jadi salah satu santapan istimewa karena rasanya yang gurih dan asam dari fermentasi.

Makhi koi merupakan olahan kepiting fermentasi khas Pontianak dan beberapa wilayah pesisir Kalimantan Barat. Nama makhi merujuk pada proses fermentasi, sementara koi berarti kepiting. Hidangan ini biasanya dibuat menggunakan kepiting bakau segar yang difermentasi bersama garam dan bumbu tertentu sehingga menghasilkan rasa yang khas dan aroma yang kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buat sebagian orang, aroma fermentasi Makhi Koi mungkin terasa sangat tajam saat pertama kali dicium. Tetapi disantap bersama nasi hangat dan sambal, rasa gurih umami dari kepiting fermentasi ini terasa begitu kaya dan menggugah selera.

Kuliner Tradisional Masyarakat Pesisir Kalbar

Kepiting fermentasi ala Pontianak.Kepiting fermentasi ala Pontianak. Foto: Dok. Istimewa

Makhi koi berasal budaya masyarakat pesisir Kalimantan Barat yang sejak dulu akrab dengan hasil laut. Sebelum ada lemari es seperti sekarang, fermentasi menjadi salah satu cara alami untuk mengawetkan makanan agar bisa bertahan lebih lama.

Kepiting yang digunakan biasanya berasal dari kawasan hutan mangrove dan muara sungai di sekitar Pontianak serta pesisir Kalbar lainnya. Kepiting segar dibersihkan terlebih dahulu, lalu dicampur dengan garam dan kadang ditambahkan beras atau nasi, serta bumbu lain untuk membantu proses fermentasi.

Setelah disimpan selama beberapa hari, tekstur daging kepiting menjadi lebih lembut dan rasanya jadi semakin kaya.

Tradisi membuat makanan fermentasi sebenarnya cukup umum di berbagai daerah pesisir Asia Tenggara. Tetapi makhi koi punya ciri khas tersendiri karena menggunakan kepiting bakau dan racikan bumbu ala masyarakat Melayu Kalimantan Barat.

Cita Rasa Umami yang Kuat

Salah satu hal lain yang membuat makhi koi unik adalah rasa umaminya yang sangat kuat. Perpaduan gurih alami dari kepiting dengan rasa asin hasil fermentasi akan menghasilkan sensasi yang berbeda dibandingkan olahan seafood biasa.

Makhi koi biasanya disantap sebagai lauk pendamping nasi hangat. Banyak masyarakat menikmatinya bersama sambal cabai rawit, irisan bawang, dan perasan jeruk untuk menambah sensasi asam segar.

Beberapa orang juga mengolah makhi koi untuk campuran sambal atau dimasak kembali dengan cabai dan bawang supaya aromanya tidak terlalu kuat. Meski begitu, penikmat kuliner justru menyukai rasa autentik hasil fermentasinya yang kuat dan khas.

Aroma menyengat tersebut justru merupakan pertanda bahwa proses fermentasi berjalan baik dan rasa kepiting di dalamnya semakin nikmat.

Dibuat dari Kepiting Pilihan

Tidak semua jenis kepiting cocok dijadikan makhi koi. Kepiting bakau segar dengan ukuran sedang dipilih agar dagingnya tetap padat setelah difermentasi.

Kesegaran bahan juga menjadi faktor penting karena sangat memengaruhi hasil akhir fermentasi. Kepiting yang digunakan harus benar-benar segar agar rasanya tetap enak dan aman dikonsumsi.

Selain itu, kadar garam juga harus pas. Jika terlalu sedikit, fermentasi bisa gagal. Sebaliknya, jika terlalu banyak, rasa kepiting akan menjadi terlalu asin dan menutupi cita rasa aslinya.

Karena proses pembuatannya butuh ketelitian dan pengalaman, tidak semua orang bisa membuat makhi koi dengan rasa yang seimbang. Resep dan teknik fermentasi biasanya diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keluarga masyarakat pesisir.

Sayangnya, makhi koi termasuk kuliner yang mulai jarang ditemukan. Tidak banyak rumah makan yang menyajikan hidangan ini karena proses pembuatannya cukup lama dan cita rasanya tergolong tidak bisa masuk ke semua lidah.

Namun demikian, makhi koi juga tetap memiliki penggemar setia, terutama masyarakat pesisir Kalbar. Sajian yang satu ini juga mulai menarik perhatian wisatawan yang ingin mencoba mencicipi kuliner unik saat berkunjung ke Pontianak

Buat detikers yang suka makanan fermentasi seperti tempoyak atau cincalok, maka tidak ada salahnya untuk mencoba makhi koi. Sekali santap, dijamin ketagihan.

Perlu diingat jangan sampai kelewatan menyantap olahan fermentasi, karena bisa menyebabkan kembung dan gangguan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan. Selamat mencicipi!

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads