Megahnya Masjid Berkubah Ungu di Palangka Raya, Terinspirasi dari Batu Kecubung

Langkah Emas Raih Kemenangan

Megahnya Masjid Berkubah Ungu di Palangka Raya, Terinspirasi dari Batu Kecubung

Ayuningtias Puji Lestari - detikKalimantan
Minggu, 01 Mar 2026 06:59 WIB
Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Foto: Ayuningtias/detikKalimantan
Palangka Raya -

Kemegahan Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) terlihat menawan dari kejauhan. Tak banyak yang tahu, nama masjid ini terinspirasi dari batu kecubung di Kalteng.

Ketua II Badan Pengelola Masjid Agung Kubah Kecubung, Majeri, menerangkan nama kubah kecubung terinspirasi dari salah satu sumber daya alam dan kearifan lokal Kalteng, yakni batu kecubung.

"Kalau di Kalimantan Tengah itu kan yang terkenal batu kecubung sebagai salah satu kearifan lokalnya, makanya kita jadikan sebagai simbol," ujarnya kepada detikKalimantan, Jumat (27/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kubah ungu Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Kubah ungu Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Foto: Instagram @rizdrone

Masjid ini berlokasi di Jl RTA Milono, Langkai, Kec. Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Masjid berdiri begitu megah, memiliki kapasitas daya tampung hingga 8.000 jamaah.

Masjid ini dibangun dengan arsitektur konsep timur tengah. Kubah masjid yang berwarna ungu kecubung menjadi ikon Kota Palangka Raya. Dinding-dindingnya dihiasi ornamen khas Timur Tengah dengan warna putih.

Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Foto: Ayuningtias/detikKalimantan

Pintu utamanya terbuka megah dilapisi marmer abu-abu, dipertegas dengan lengkungan berwarna kuning emas. Latarnya terbentang hamparan karpet rumput yang membuat sejuk suasana. Pengunjung dapat duduk santai di atas karpet itu.

Memasuki bagian dalam, pandangan dimanjakan dengan cahaya lampu yang benderang. Tulisan-tulisan kaligrafi berwarna emas terpampang di dinding dan langit-langit masjid.

Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Foto: Ayuningtias/detikKalimantan

Masjid ini juga dihiasi oleh ornamen batu alam. Majeri mengungkapkan, pada bagian kubah masjid itu tertempel batu-batu kecubung. Batu itu berjenis kecubung air.

"Di atas kubah itu ada ditempelkan batu kecubung, jenisnya kecubung air warnanya putih bening. Nah warna ungunya terinspirasi dari kecubung ungu, karna macam-macam jenis batunya," ungkapnya.

Adapun bagian dinding dan lantai, materialnya banyak terbuat dari marmer. Majeri menunjukkan salah satunya yakni marmer abu-abu pada gerbang pintu utama.

"Sisi-sisi bahannya banyak dari marmer. Mulai dari depan hingga dalam," jelasnya.

Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Foto: Ayuningtias/detikKalimantan

Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman diresmikan oleh wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin pada Jumat (15/9/2023) silam, bersamaan dengan momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 hijriah. Masjid ini dibangun dengan menggunakan APBD Kota Palangka Raya.

Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman dibangun di atas luas tanah sekitar 3,5 hektar. Bangunan masjid seluas 12.577 meter persegi, yang terdiri atas bangunan utama seluas 2.793 meter persegi dan selasar seluas 2.830 meter.

Selama bulan Ramadan, Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) ramai didatangi warga. Masjid ini jadi tempat ngabuburit sekaligus destinasi wisata religi.

Hamparan karpet rumput sintetis menambah sejuk suasana di depan masjid. Pengunjung duduk di atas karpet itu. Mereka memanfaatkan momen ini untuk ngabuburit hingga tiba waktunya buka bersama (bukber).




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads