Di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berdiri sebuah bangunan ibadah yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam. Ialah Masjid Jami' Aji Amir Hasanuddin, saksi perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara serta perkembangan kehidupan religius di wilayah tersebut sejak masa lampau.
Masjid tertua di Kutai Kartanegara ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari sisi arsitekturnya. Bentuk bangunan yang kental dengan unsur arsitektur tradisional Kalimantan Timur, menjadikannya tampak khas dan berbeda dari banyak masjid modern saat ini.
Ciri yang paling mencolok terlihat pada bentuk atap bertingkat serta penggunaan material kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama. Elemen-elemen tersebut tidak hanya memperlihatkan kearifan lokal dalam teknik pembangunan tradisional, tetapi juga mencerminkan nilai budaya dan sejarah yang melekat pada masjid ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menilik Arsitektur Masjid Jami' Hasanuddin Kukar
Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat |
Pesona Masjid Jami' Hasanuddin tak lekang oleh waktu. Masjid yang berlokasi di Jl Mayjen Sutoyo, Panji, Tenggarong, ini menjadi simbol identitas, spiritualitas, sekaligus kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara.
Pemandangan cantik yang menjadi ciri khas dalam mesjid ini adalah Menara Masjid, Tiang Guru, Mimbar masjid, dan Sudut Mihrab masjid. Bangunan mesjid dirancang permanen bercorak rumah Adat Kalimantan Timur.
Atapnya tumpang tiga dengan puncaknya berupa bentuk limas segi lima. Pada setiap tingkat atap terdapat ventilasi dengan jumlah yang berbeda-beda, menyesuaikan ukuran bangunan.
Arsitekturnya sederhana namun sarat makna, memadukan unsur tradisional lokal dengan sentuhan pengaruh Islam yang berkembang kala itu. Hingga kini, struktur utamanya tetap kokoh berdiri dan terawat.
Dalam buku Fakta Menakjubkan Tentang Indonesia; Wisata Sejarah, Budaya, dan Alam di 33 Provinsi Bagian 3 oleh Navita Kristi, dkk disebut keunikan lain dari masjid ini adalah keberadaan 16 tiang besar yang terbuat dari kayu ulin.
Kayu-kayu tersebut konon awalnya dipersiapkan untuk sebuah ritual adat Kutai yang disebut Menduduskan, yaitu prosesi pemandian bagi putra mahkota bernama Aji Punggeuk. Namun karena calon raja tersebut meninggal dunia, kayu-kayu tersebut akhirnya digunakan sebagai bagian dari pembangunan masjid.
Saat peletakan batu pertama yang dilakukan pada waktu subuh, masyarakat setempat bergotong royong membangun masjid tanpa menerima upah. Mereka bekerja semata-mata dilandasi keimanan dan keikhlasan kepada Allah SWT.
Menariknya, konon sebelum mengalami proses renovasi, bangunan masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku sama sekali, melainkan memanfaatkan teknik sambungan kayu tradisional.
Petugas menabuh bedug tanda masuknya shalat Magrib di Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (3/3/2026). Masjid tertua di wilayah tersebut merupakan peninggalan sejarah dari Kesultanan Kutai Kartanegara dan ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang dibangun pada akhir abad ke-19 (1874), dengan arsitektur kayu ulin khas Kalimantan Timur. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat |
Sebagai situs cagar budaya, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat sekitar. Keberadaan Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin menjadi pengingat pentingnya menjaga peninggalan leluhur.
Setiap waktu salat, suara azan dan tabuhan bedug masih menggema, menandakan bahwa warisan sejarah tersebut tetap hidup dan berdenyut bersama aktivitas warga.
Masjid ini sudah ditetapkan sebagai salah satu masjid yang bersejarah di Indonesia sesuai Keputusan Kanwil Depag Kaltim nomer WQ/2/2526 tahun 1981, yang menetapkan Masjid Jami Tenggarong sebagai masjid bersejarah.
Saat itu diselenggarakan Seminar Sejarah Islam di Kaltim pada November 1981 di Samarinda untuk memperingati 15 abad masuk Islam di Nusantara. Seminar tersebut kemudian juga menyepakati penamaan menjadi Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin hingga kini.
Di masa sekarang bangunan ibadah bersejarah ini selalu dirawat dengan baik. Menjelang malam, bahkan banyak warga Tenggarong berkumpul di masjid hingga menginap di teras Masjid sambil menunggu solat subuh.
Sejarah Masjid Jami' Hasanuddin Kukar
Petugas menabuh bedug tanda masuknya shalat Magrib di Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat |
Pada masa awal perkembangannya, agama Islam di wilayah Kutai Kartanegara dianut oleh kalangan keluarga kerajaan dan kerabat bangsawan yang berada di lingkungan istana. Setelah itu, ajaran Islam perlahan mulai menyebar dan diterima oleh masyarakat luas hingga ke kalangan rakyat biasa.
Dikutip dari laman Kemenag Kanwil Provinsi Kaltim, Masjid Jami' Adji Amir Hasanoeddin atau ditulis juga Masjid Jami' Aji Amir Hasanuddin, dibangun oleh Raja Sultan Sulaiman dan masuk wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara.
Didirikan pada 1874 atau akhir abad ke-19, bangunan masjid ini didominasi material kayu ulin khas Kalimantan Timur yang dikenal kuat dan tahan terhadap cuaca tropis.
Masjid Jami' Hasanuddin mulanya hanya berupa mushola kecil yang digunakan sebagai tempat ibadah masyarakat sekitar. Mushola itu awalnya berdiri di kawasan Tanjung Tangga Arung. Namun, lokasi tersebut kerap mengalami genangan air, terutama ketika permukaan sungai sedang pasang atau meluap.
Selain itu, kapasitas bangunannya juga cukup terbatas karena hanya mampu menampung sekitar 50 orang jamaah, sementara jumlah umat Islam di daerah tersebut terus mengalami peningkatan.
Seiring waktu, mushola tersebut kemudian diperluas menjadi masjid yang lebih besar pada tahun 1930, ketika Kesultanan Kutai dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Parikesit yang memerintah pada periode 1920-1959.
Pembangunan Masjid Jami' Adji Amir Hasanuddin dilakukan dua kali. Tahap pertama dilaksanakan pada saat Kerajaan di perintah oleh Sultan Sulaiman.
Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat |
Memasuki periode kedua atau setelah usia masjid mencapai 60 tahun, bangunannya mengalami banyak kerusakan. Sultan Alimuddin menunjuk putranya Haji Aji Amir Hasanudin bersama menteri agama kesultanan saat itu Tuan Guru Said Sagaf Baraqbah untuk merenovasi tanpa mengubah bentuk bangunannya.
Pembangunan tahap lanjutan ini diprakarsai oleh seorang menteri kerajaan bernama Adji Amir Hasanoeddin yang juga dikenal dengan gelar Haji Adji Pangeran Sosronegoro. Nama tokoh inilah yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid tersebut.
Disadur dari buku berjudul Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia oleh Abdul Baqir Zein ketika Kerajaan (Islam) Kutai diperintah oleh Sultan Hasanuddin, ia memprakarsai pembangunan masjid yang menjadi pusat pembinaan kaum muslimin, sekaligus sebagai pusat pengembangan dakwah Islam untuk wilayah Kutai dan sekitarnya.
Atas jasanya itu, kaum muslimin Kutai mengabadikan nama Sultan Hasanuddin menjadi nama Masjid Jami yang dibangunnya itu. Menurut catatan sejarah, agama Islam masuk di Kalimantan Timur sekitar abad-15.
Renovasi yang diperintah Haji Aji Amir Hasanudin itu mengganti lantai yang dulu berlantai papan ulin diganti menjadi coran semen dari Belanda. Bangunan rumah ibadah ini berdiri di samping kedaton baru pada masa Sultan Alimuddin. Usai direnovasi besar besar di masa periode kedua, menjadikan masjid Jami Tenggarong sebagai masjid yang megah dan cantik.



