Hamparan air luas yang berubah mengikuti musim terlihat memantulkan cahaya matahari yang malu-malu menampakkan diri. Kabut pagi menggantung di atas danau, di antara rindang hutan rawa yang masih alami menambah indah pesona Danau Sentarum.
Permata tersembunyi di Kalimantan Barat, itulah julukannya. Berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Danau Sentarum kerap disebut surga air karena kekayaan alam dan ekosistemnya.
Tidak banyak yang tau kalau Indonesia punya Danau Sentarum sebagai danau musiman yang luasnya belum ada yang bisa menandingi sepanjang Asia Tenggara. Bukan hanya pemandangannya yang indah, danau ini juga menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan, satwa langka Kalimantan, hingga budaya masyarakat adat yang masih terjaga sampai sekarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunikan alamnya bahkan membuat Danau Sentarum ditetapkan sebagai situs Ramsar atau kawasan lahan basah penting dunia sejak 1994. Kawasan ini juga termasuk bagian dari jantung Pulau Kalimantan karena terhubung langsung dengan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.
Danau Musiman di Jantung Kalimantan
Secara administratif, Danau Sentarum berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sekitar 700 kilometer dari Kota Pontianak. Kawasan ini masuk dalam wilayah Taman Nasional Danau Sentarum dengan luas mencapai sekitar 127.393 hektare.
Yang membuat Danau Sentarum berbeda dari danau lainnya adalah bentuk dan kondisinya yang berubah drastis sesuai musim. Saat musim hujan datang, kawasan ini berubah menjadi danau raksasa dengan kedalaman air yang bisa mencapai sekitar 12-14 meter. Air dari berbagai sungai akan memenuhi cekungan-cekungan danau hingga membentuk hamparan luas sejauh mata memandang.
Ketika musim kemarau tiba, sekitar 80 persen wilayah danau akan mengering. Permukaan air menyusut dan berubah menjadi rawa, padang rumput, maupun aliran sungai kecil yang terpisah-pisah. Fenomena ini membuat Danau Sentarum disebut sebagai danau musiman.
Sebenarnya, Danau Sentarum terdiri atas lebih dari 20 danau musiman yang saling terhubung dengan Sungai Kapuas. Saat musim penghujan, seluruh kawasan tampak seperti satu danau besar. Sebaliknya ketika kemarau, bentuknya berubah menjadi kumpulan kolam dan sungai kecil.
Pemandangan paling indah biasanya muncul pada pagi hari. Kabut tipis menyelimuti permukaan air, sementara sinar matahari perlahan menembus celah pepohonan rawa. Di kejauhan, perahu-perahu kayu milik warga mulai bergerak mencari ikan.
Habitat Arwana Merah dan Satwa Langka Kalimantan
Burung-burung berterbangan di sekitar kawasan Danau Sentarum. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan RI |
Selain terkenal karena panorama alamnya, Danau Sentarum juga dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia.
Salah satu penghuni paling terkenal dari kawasan ini ialah ikan arwana super red. Ikan hias dengan warna merah menyala tersebut berasal dari perairan Kapuas Hulu dan menjadi salah satu ikan air tawar paling mahal di dunia. Bahkan, arwana merah dari Sentarum telah lama menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.
Tidak hanya arwana, Taman Nasional Danau Sentarum mencatat terdapat sekitar 265 spesies ikan air tawar, 675 spesies tumbuhan, 147 spesies mamalia, serta ratusan jenis burung dan anggrek liar.
Beberapa satwa langka yang masih hidup di kawasan ini antara lain orangutan Kalimantan, bekantan, beruang madu, buaya siam, buaya sinyulong, hingga burung enggang dan burung karau paruh merah.
Danau Sentarum juga menjadi habitat penting bagi ikan-ikan endemik Sungai Kapuas. Saat musim tertentu, jutaan ikan bermigrasi memenuhi kawasan rawa dan danau untuk berkembang biak. Tak heran jika daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung ikan air tawar terbesar di Kalimantan Barat.
Kawasan hutannya didominasi hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Vegetasi di Sentarum juga berfungsi menyimpan cadangan air sekaligus membantu mengurangi risiko banjir di daerah hilir Sungai Kapuas.
Kehidupan Masyarakat di Sekitar Danau Sentarum
Potret kehidupan di sekitar Danau Sentarum. Foto: Dok. Kementerian Kehutanan RI |
Di balik keindahan alamnya, Danau Sentarum juga dikelilingi oleh masyarakat lokal yang masih sangat dekat dengan alam. Sebagian besar warga di sekitar kawasan danau berasal dari suku Dayak dan Melayu.
Masyarakat di sini hidup mengikuti perubahan musim dan kondisi air danau. Saat musim hujan, transportasi utama warga adalah perahu kayu bermesin kecil yang biasa disebut ketinting atau kelotok. Hampir seluruh aktivitas dilakukan melalui jalur air, mulai dari pergi ke sekolah, berdagang, hingga mengangkut hasil tangkapan ikan.
Sebaliknya ketika musim kemarau datang dan air mulai surut, sebagian kawasan berubah menjadi daratan berlumpur dan padang rumput. Warga pun mulai menggunakan jalur darat untuk bepergian.
Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari hasil perikanan. Ikan lais, tapah, hingga arwana menjadi hasil tangkapan dari kawasan ini.
Perjalanan Menuju Danau Sentarum
Untuk mencapai Danau Sentarum, perjalanan biasanya dimulai dari Pontianak menuju Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu. Jalur ini dapat ditempuh menggunakan pesawat perintis sekitar 1,5 jam atau perjalanan darat selama 15-18 jam tergantung kondisi jalan.
Dari Putussibau, perjalanan kembali berlanjut menggunakan kendaraan menuju dermaga, lalu diteruskan dengan perahu motor menyusuri sungai menuju kawasan Danau Sentarum.
Meski membutuhkan waktu panjang dan akses yang tidak mudah, perjalanan menuju Danau Sentarum justru akan terasa berkesan. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan hutan Kalimantan, desa-desa di tepian sungai, dan suasana pedalaman yang masih sangat alami.
Semua rasa lelah biasanya langsung terbayar ketika hamparan air Danau Sentarum mulai terlihat. Jika berkesempatan mengunjungi Kalimantan Barat, jangan lewatkan untuk menikmati alam dari surga air di Kapuas Hulu ini, ya, detikers!
Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)

