Menyusuri Sejarah Pangkalan Bun dan Pesona Rumah Tradisional di Sungai Arut

Menyusuri Sejarah Pangkalan Bun dan Pesona Rumah Tradisional di Sungai Arut

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Minggu, 07 Jun 2026 09:59 WIB
Suasana Sungai Arut naik perahu kelotok di kota Pangkalan Bun.
Suasana Sungai Arut naik perahu kelotok di kota Pangkalan Bun. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Menikmati suasana libur di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak harus selalu di pusat keramaian. Susur Sungai Arut bisa menjadi pilihan.

Menyusuri Sungai Arut menggunakan perahu kelotok menawarkan ketenangan, keindahan alam. Selain itu, Sungai Arut mengenalkan lebih dekat kepada kita terkait sejarah dan budaya masyarakat bantaran sungai.

Seperti pada Minggu (7/6/2026) pagi, sejumlah warga lokal dan wisatawan tampak menikmati perjalanan menyusuri Sungai Arut. Dari atas kelotok, pengunjung disuguhi pemandangan deretan rumah tradisional yang berdiri di tepian sungai, aktivitas warga di pelantar, hingga suasana khas kota di sepanjang aliran sungai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sungai Arut memiliki sejarah panjang bagi Pangkalan Bun. Pada masa lalu, sungai ini menjadi jalur transportasi utama masyarakat untuk berdagang, bepergian, hingga mengangkut hasil bumi.

Keberadaannya menjadi urat nadi kehidupan masyarakat dan berperan besar dalam perkembangan Pangkalan Bun hingga menjadi pusat kegiatan ekonomi di Kotawaringin Barat.

Kini, selain berfungsi sebagai jalur transportasi air, Sungai Arut juga menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang menawarkan pengalaman menikmati keindahan kota dari sudut yang berbeda.

Untuk menikmati wisata susur sungai, pengunjung dapat menyewa kelotok dengan tarif berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per perjalanan, tergantung rute dan lama perjalanan yang dipilih. Kelotok biasanya dapat menampung beberapa penumpang sehingga cocok dinikmati bersama keluarga maupun rombongan.

Warga Pangkalan Bun, Yusro Arodi (51), mengatakan Sungai Arut memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya selalu menarik untuk dikunjungi.

"Pagi hari adalah waktu yang paling enak untuk menyusuri Sungai Arut. Udaranya segar, suasananya tenang, dan kita bisa menikmati pemandangan rumah-rumah tradisional yang menjadi ciri khas Pangkalan Bun," ujarnya, Minggu (7/6/2026).

Suasana Sungai Arut naik perahu kelotok di kota Pangkalan Bun.Menyantap kuliner saat susur Sungai Arut Pangkalan Bun. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan

Menurut Yusro, Sungai Arut bukan hanya tempat wisata, tetapi juga bagian dari sejarah yang membentuk identitas masyarakat Pangkalan Bun.

"Sungai Arut punya sejarah nyata bagi Pangkalan Bun. Dulu sungai ini menjadi jalur utama masyarakat untuk beraktivitas dan berdagang. Perkembangan kota ini juga tidak lepas dari keberadaan Sungai Arut," katanya sambil berwisata bersama keluarga.

Sementara itu, seorang motoris kelotok, Rahman, mengaku permintaan wisata susur Sungai Arut biasanya meningkat pada akhir pekan, terutama Sabtu dan Minggu pagi.

"Kalau hari biasa ada saja penumpang, tetapi paling ramai memang saat Sabtu dan Minggu. Banyak warga lokal yang mengajak keluarga berkeliling sungai, ada juga wisatawan dari luar daerah yang ingin melihat suasana Sungai Arut dan rumah-rumah tradisional di bantaran sungai," ujarnya.

Menurut Rahman, suasana pagi menjadi waktu favorit para pengunjung karena cuaca masih sejuk dan pemandangan sungai terlihat lebih indah.

"Biasanya mulai ramai dari pukul 07.00 WIB sampai menjelang siang. Banyak yang sengaja naik kelotok untuk berfoto dan menikmati suasana sungai yang tenang," tambahnya.

Suasana Sungai Arut naik perahu kelotok di kota Pangkalan Bun.Suasana Sungai Arut naik perahu kelotok di kota Pangkalan Bun. Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan

Menyusuri Sungai Arut pada Minggu pagi bukan sekadar perjalanan wisata. Di sepanjang aliran sungai, pengunjung dapat menikmati keindahan rumah-rumah tradisional, melihat kehidupan masyarakat bantaran sungai, mencicipi sensasi barbeque di atas kelotok, sekaligus mengenang jejak sejarah yang telah menghidupi Pangkalan Bun selama puluhan tahun.

Perpaduan wisata, kuliner, dan sejarah itulah yang membuat Sungai Arut tetap menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Kotawaringin Barat.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pramono Siapkan Rp 232 M untuk Pembebasan Lahan Bantaran Ciliwung"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads