Round Up

Dua Lipa dan 'Rumah' Untuk 100 Buku Terlarang

Desi Puspasari
|
detikPop
Aksi Dua Lipa Dirikan Perpustakaan Buat 100 Buku Terlarang
Dua Lipa Foto: Dok.Istimewa
Jakarta - Dua Lipa punya gebrakan beda sebagai pencinta buku. Kecintaannya terhadap buku memancingnya membuat perpustakaan yang gak biasa.

Penyanyi berusia 30 tahun itu menyalurkan kecintaannya pada dunia literasi dengan mendirikan Manifesto Library. Perpustakaan itu dibuat di dalam salah satu toko buku paling bersejarah di Eropa, auditorium budaya Livraria Lello, Porto, Portugal.

Perpustakaan yang baru dia resmikan itu menyimpan 100 buku. Buku-buku tersebut diakurasi olehnya bareng klub Service95 yang berisi karya-karya yang dilarang beredar di dunia ini.

100 buku terlarang di Manifesto Library, dilarang beredar atau diterbitkan, dihapus dari kurikulum sekolah, atau dikeluarkan dari sistem perpustakaan.

Manifesto Liberary berdiri berkat kerja sama antara Service95 dan Livraria Lello. Ini menjadi ekspresi fisik pertama dari visi Dua Lipa. Sang musisi ingin klub buku Service95 jadi rumah bagi penulis dan pembaca.

Dua Lipa bilang perpustakaan Manifesto adalah tempat suci bagi buku-buku yang telah hilang bagi penulis yang keberaniannya membongkar kekuasaan dan kendali.

"Bagi para pembaca yang menolak untuk diberi tahu buku apa yang boleh mereka baca, kamu diundang untuk berkunjung dan memutuskan sendiri apa yang pantas berada di rak-rak ini," katanya dikutip dari situs Service95, Rabu (2/7/2026).

"Karena terkadang hal yang paling subversif yang dapat dilakukan adalah membaca buku, kemudian membicarakannya," lanjutnya.

Aksi Dua Lipa Dirikan Perpustakaan Buat 100 Buku TerlarangAksi Dua Lipa Dirikan Perpustakaan Buat 100 Buku Terlarang Foto: Dok.Istimewa

100 buku itu disusun dalam empat tema, di antaranya kekuasaan, kendali, suara, dan ingatan. Dimulai dari tema kekuasaan, yakni mengkaji siapa saja yang memegang pengaruh, siapa yang menantangnya, dan berhak mendefinisikan narasi yang diwarisi.

Buku-buku dalam tema pertama di antaranya ada The Second Sex karya Simone de Beauvoir, Felon karya Reginald Dwayne Betts, Free karya Lea Ypi, One Day karya Omar El Akkad, Everyone Will Have Always Been Against This, dan Nineteen Eighty-Four karya George Orwell.

Tema kedua, Kendali yakni memetakan mekanisme yang membatasi kebebasan berpikir. Buku-buku propaganda, ideologi, dan instrumen tekanan institusio.

Buku-buku di tema kedua adalah The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, The Trial karya Franz Kafka, The Memory Police karya Yoko Ogawa, dan Ai Weiwei tentang Sensor karya seniman dan aktivis yang pamerannya A4 saat ini sedang berlangsung di Livraria Lello.

Ketiga, ada Voice. Tema ini memperkuat perspektif yang secara sistematis dikecualikan atau diabaikan. Di bagian rak ini menampilkan The Color Purple karya Alice Walker, The Satanic Verses karya Salman Rushdie, On Earth We're Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong dan My Pen Is The Wing Of A Bird: New Fiction By Afghan Women.

Bagian keempat ada Memory yang meneliti hubungan antara sejarah dan penghapusan. Buku-buku ini melestarikan kesaksian pribadi dan kolektif dalam menghadapi lupa yang disengaja.

Jajaran rak buku di tema ini ada Pachinko karya Min Jin Lee, Patriot karya Alexei Navalny, The Unbearable Lightness Of Being karya Milan Kundera dan The Books Of Jacob karya Olga Tokarczuk.

Lewat akun Instagram pribadinya, istri Callum Turner itu sering merekomendasikan buku-buku yang dibacanya. Setelah dibuka pada 30 Juni 2026, Manifesto Library bakal dibuka untuk umum.


(pus/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO