Supergirl Loyo, Peter Safran Masih Pede dengan Strategi DCU

Asep Syaifullah
|
detikPop
Supergirl (2026).
Foto: Dok. Warner Bros
Jakarta - Langkah awal semesta baru DC Universe (DCU) tampaknya harus menghadapi sedikit guncangan. Film kedua mereka, Supergirl, baru saja mencatatkan angka debut yang kurang memuaskan di bioskop pada pekan pertamanya.

Film yang dibintangi Milly Alcock ini tercatat hanya berhasil meraup sekitar $38 juta secara domestik (Amerika Utara) dan $30 juta di pasar internasional, sehingga total pendapatan globalnya tertahan di angka $68 juta atau senilai Rp 1,2 triliun.

Angka ini meleset dari target awal Warner Bros. dan DC Studios yang mengharapkan pembukaan domestik minimal menyentuh angka $50 juta (Rp 892 miliar) setelah menghabiskan biaya produksi mencapai $175 juta atau sekitar Rp 3,1 triliun.

Meskipun performa box office ini berada di bawah ekspektasi, salah satu bos besar DC Studios, Peter Safran, langsung pasang badan. Dalam sebuah wawancara via telepon baru-baru ini, rekan kerja James Gunn tersebut menegaskan bahwa performa satu film tidak akan menggoyahkan rencana besar yang sudah mereka susun.

"Meskipun Supergirl tidak memenuhi ekspektasi box office kami, film ini hanyalah satu bagian dari strategi jangka panjang DC Studios yang lebih luas, dan kami tetap sangat percaya diri dengan strategi tersebut," ujar Safran optimis dilansir dari Deadline.

Pernyataan Safran ini menjadi sinyal jelas bagi para penggemar dan investor bahwa DC Studios tidak akan panik atau buru-buru mengubah arah (seperti yang sering terjadi pada era waralaba DC sebelumnya).

Bagi manajemen, membangun semesta sinematik yang kokoh membutuhkan konsistensi, dan kegagalan satu proyek di awal jalan merupakan bagian dari proses evaluasi jangka panjang.

Supergirl sendiri digarap oleh sutradara Craig Gillespie dan menampilkan pendekatan karakter Kara Zor-El yang lebih kelam dan berani sebagai seorang antihero.

Setelah rilis ini, DC Studios akan melanjutkan fokus mereka ke proyek-proyek masa depan yang sudah mengantre, termasuk serial Lanterns dan film Clayface, guna terus memperkuat fondasi babak pertama mereka yang bertajuk Chapter One: Gods and Monsters.


(ass/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO