Bedah Makna Lirik Lagu Sesi Potret milik eńau dan Ari Lesmana

Atmi Ahsani Yusron
|
detikPop
Sesi Potret dari eńau & Ari Lesmana.
Foto: dok YouTube Aku enau
Jakarta -

Lagu Sesi Potret kolaborasi eńau dan Ari Lesmana bukan sekadar lagu biasa. Lirik lagu ini berisi refleksi tajam tentang banyak hal yang somehow relate banget sama kehidupan kita saat ini.

Sesi Potret membahas penyesalan, waktu, dan kehilangan. Liriknya ditulis sederhana namun puitis dan berhasil ngasih tamparan buat realita banyak orang, terlebih perantau dan pejuang sukses.

Bedah lebih dalam yuk makna lirik lagu Sesi Potret!

1. Ironi Ambisi dan Prioritas Waktu

"Tahun lalu berjuta alasanku / Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan / Kali ini sudah lumayan... Dan tahun ini kubisa pulang"

Lirik ini menggambarkan ironi seorang anak rantau yang menunda pulang karena merasa belum sukses atau belum punya cukup uang. Kesuksesan finansial dijadikan syarat utama untuk menemui keluarga.

Kita hidup di era hustle culture di mana materi dan pencapaian karier sering kali diletakkan di atas segalanya. Kita sibuk mencari alasan untuk menunda waktu bersama orang tua atau keluarga, berpikir bahwa "nanti kalau sudah sukses, aku akan membahagiakan mereka." Sayangnya, waktu tidak pernah menunggu dompet kita penuh.

2. Metafora 'Pulang' dan 'Rumah Baru' yang Menyayat Hati

"Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku / Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang / Ku bertamu ke rumah barumu / Hanya papan dan namamu"

Kata 'pulang' di sini memiliki makna ganda yang ironis. Sang anak 'pulang' ke kampung halaman, tetapi orang yang dicintainya telah 'pulang' menghadap Sang Pencipta. Metafora 'rumah baru' dengan 'papan dan nama' merujuk pada liang lahad dan batu nisan.

Ini adalah ketakutan terbesar setiap anak rantau. Kita sering lupa bahwa selagi kita bertambah dewasa dan sukses di tanah perantauan, orang tua kita di rumah juga bertambah tua. Kesuksesan yang akhirnya diraih terasa hampa karena orang yang menjadi tujuan dari kerja keras tersebut sudah tidak ada lagi untuk menikmatinya.

3. Kehilangan Hal-Hal Kecil yang Dulu Terasa Menyebalkan

"Sesi potret yang selalu ku benci / Aneh rasanya kau tak di sini / Susunan barisannya tak sama lagi... Mana ocehan wewangian khasmu"

'Sesi potret' mewakili foto keluarga dan 'ocehan' merepresentasikan omelan orang tua. Dua lambang rutinitas keluarga yang sering dianggap sepele, merepotkan, atau bahkan dibenci saat kita masih muda. Namun, saat sosok itu pergi, ketidaksempurnaan formasi foto keluarga menjadi pengingat paling menyakitkan akan ketidakhadiran mereka.

Sering kali kita merasa risih ketika orang tua menasihati, mengomel, atau memaksa kita ikut acara keluarga. Namun ketika mereka telah tiada, justru hal-hal kecil dan menyebalkan itulah yang paling kita rindukan. Wewangian khas dan suara mereka menjadi memori yang tak tergantikan.

4. Gengsi dan Magic Word yang Terlambat Diucapkan

"Sesal hatiku tak sempat temani kamu / Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu / Gengsi menyelimutiku"

Lirik 'kata ajaib' bisa diartikan sebagai ungkapan kasih sayang seperti 'Aku sayang padamu' atau permintaan maaf 'Maafkan aku'. Sayangnya, kata-kata tersebut tertahan oleh gengsi, sebuah tembok ego yang sering dibangun manusia untuk menutupi kerentanan perasaannya.

Sangat relate dengan kebiasaan banyak orang Asia yang kaku dan gengsi untuk sekadar memeluk atau mengucapkan kata sayang kepada orang tua. Kita menunda mengucapkan maaf atau terima kasih, berpikir masih ada hari esok, sampai akhirnya kesempatan itu benar-benar hilang untuk selamanya.

5. Manusia Amatir dalam Hal Mengikhlaskan

"Soal ikhlas ternyata aku masih amatir / Jarak ini terlalu jauh / Kalau rindu aku tak mampu"

Secara teori, semua orang tahu bahwa kematian adalah keniscayaan dan kita harus ikhlas. Namun lewat lirik ini, penulis mengakui kekalahannya: ia adalah seorang amatir atau pemula yang tidak tahu cara merelakan. Jarak dunia dan akhirat adalah jarak terjauh yang tidak bisa ditembus oleh rasa rindu sehebat apa pun.

Mengikhlaskan kepergian orang tersayang bukanlah proses instan. Sehebat, sekuat, atau sedewasa apa pun kita di mata dunia, menghadapi kehilangan akan selalu membuat kita merasa seperti anak kecil yang tidak berdaya (amatir). Lirik ini memvalidasi perasaan duka banyak orang, bahwa gagal merelakan dalam waktu cepat adalah sesuatu yang sangat manusiawi.

Halaman 2 dari 2
(aay/mau)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO