Banyak gereja di Eropa umumnya mengusung gaya Gotik sehingga tampak besar dan megah. Namun dari sekian banyak gereja di Benua Biru, ternyata ada satu gereja yang punya desain unik karena terlihat transparan. Kok bisa?
Nama gereja tersebut adalah Reading Between the Lines atau kerap disebut Gereja Transparan. Ciri khas dari rumah ibadah ini terletak pada efek visualnya.
Jika dilihat dari sudut depan dan belakang, bangunan gereja tampak kokoh berdiri. Apabila melihat dari sisi samping, gereja ini malah terlihat tembus pandang dan seolah menghilang. Maka tak heran kalau disebut sebagai gereja transparan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir situs Dezeen, Rabu (24/12/2025), gereja transparan ini sebenarnya dirancang sebagai bagian dari pameran seni di ruang publik yang digelar oleh Museum Z33 Hasselt. Bangunan unik ini dirancang oleh dua arsitek asal Belgia, Pieterjan Gijs dan Arnout Van Vaerenbergh.
Gereja Transparan ini dibangun di dekat Desa Borgloon, Belgia. Pengunjung yang datang tak hanya disuguhkan arsitektur gereja yang unik, tapi juga dapat melihat pemandangan alam desa yang indah.
Foto: Flip Dujardin via gijsvanvaerenbergh.com |
Selain punya tampilan yang unik, gereja transparan di Belgia juga menggunakan material tak biasa. Sebanyak 100 lapisan pelat baja dan 2.000 kolom baja seberat 30 ton dipakai untuk membangun gereja dengan cara ditumpuk.
Gereja transparan ini memiliki tinggi 10 meter. Fasadnya terinspirasi dari sejumlah gereja paroki yang berdiri di sekitar desa. Bagian atap depan gereja dibuat meruncing ke atas, lalu di ujung atap terdapat salib berwarna putih yang menandakan bangunan unik ini adalah rumah ibadah.
Pelat baja yang dipakai untuk membangun gereja diklaim tahan cuaca sehingga tidak mudah rusak. Dari kejauhan, gereja ini cenderung berwarna cokelat kehitaman karena efek dari pelat baja yang sudah terpapar cuaca.
Gereja ini tidak memiliki pintu, sehingga bisa langsung masuk lewat celah kecil yang ada di bagian depan. Bangunan unik ini juga tidak memiliki jendela karena celah antara pelat baja memberikan sirkulasi udara yang baik di dalam gereja.
Meski seluruh fasadnya terbuat dari pelat baja, tapi tidak dengan bagian lantainya. Untuk bagian lantai dilapisi dengan semen yang dicor karena jika mengandalkan pelat baja yang ditancapkan ke tanah khawatir bisa cepat rusak.
Foto: Flip Dujardin via gijsvanvaerenbergh.com |
Sedangkan proses pembangunan gereja ini dilakukan dengan cara disusun secara satu per satu, mulai dari pelat baja bagian bawah sampai bagian atap gereja. Proses penyusunan pelat baja dilakukan menggunakan bantuan alat berat.
Sejak diresmikan pada 2011, gereja ini tidak difungsikan sebagai tempat ibadah. Reading Between the Lines sebenarnya merupakan refleksi atas gereja yang semakin ditinggalkan di Belgia. Meski begitu, kehadiran gereja transparan di tengah desa berhasil memikat banyak orang.
(ilf/das)











































