32 Persen Rumah di Indonesia Masih Pakai Seng, Arsitek Ungkap Alasannya

32 Persen Rumah di Indonesia Masih Pakai Seng, Arsitek Ungkap Alasannya

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Jumat, 06 Feb 2026 07:45 WIB
32 Persen Rumah di Indonesia Masih Pakai Seng, Arsitek Ungkap Alasannya
Ilustrasi atap dan rumah dari seng. Foto: Ibnu Hariyanto-BeritaKlik
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan seng merupakan material atap terbanyak kedua dipakai di Indonesia. Hal ini didapat dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025 yang menunjukkan sebanyak 32,76 persen rumah masih memakai seng.

Seng merupakan atap yang terbuat dari bahan seng yang dapat berbentuk seng rata, seng gelombang, termasuk genteng seng yang lazim disebut decrabond (seng yang dilapisi epoxy dan acrylic), dan gavalum.

Banyak ahli menyarankan untuk tidak memakai seng karena materialnya mudah berkarat dan membuat rumah panas. Apabila permukaannya berkarat, otomatis mudah rusak. Lalu, rumah yang sering panas dapat menyebabkan perangkat elektronik rusak, berpengaruh pada kualitas panas, dan konsumsi listrik yang pasti besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun seng banyak kekurangan yang tidak menguntungkan bagi rumah, kenapa masih banyak rumah di Indonesia memakai seng?

ADVERTISEMENT

Menurut arsitek sekaligus dosen Binus University Denny Setiawan terdapat beberapa alasan seng masih menjadi pilihan atap rumah di Indonesia, berikut di antaranya.

1. Keterjangkauan

Denny mengatakan alasan paling utama adalah karena keterjangkauan masyarakat untuk mendapatkan seng. Tidak semua wilayah di Indonesia bisa memproduksi material yang lebih ramah lingkungan atau bisa membuat rumah adem, seperti genteng. Lalu, tidak semua orang mampu untuk membeli genteng dari Jawa karena masalah jarak dan biaya pengiriman.

Berdasarkan data Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Bahan Bangunan Utama Atap Rumah Terluas dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, provinsi terbanyak yang memakai seng adalah Gorontalo sebanyak 97,04 persen, Papua Barat 96,40 persen, Kalimantan Utara 95,62 persen, Sumatera Barat 94,71 persen, dan Sulawesi Utara 94,06 persen. Semua provinsi ini tidak berada di Pulau Jawa yang banyak produsen genteng.

"Jadi lokalitasnya itu menggunakan seng di sana. Karena atap yang paling gampang ditemui adalah atap seng. Jadi caranya kalau mau gentengisasi semua atap ya otomatis di sana mungkin perlu dibikin pabrik genteng. Atau lebih kepada pemerataan pabrik genteng di seluruh Indonesia. Sebenarnya ini juga ada sisi baiknya untuk misalnya memakai material yang lebih ramah lingkungan (genteng)," kata Denny saat dihubungi BeritaKlik pada Kamis (5/2/2026).

2. Murah

Kemudian, alasan kedua adalah harga seng lebih murah dari genteng. Ada pun genteng merupakan material atap paling banyak digunakan di Indonesia, mencapai 54,24 persen. Harganya yang murah ini lebih terjangkau bagi masyarakat yang tidak banyak modal untuk membangun rumah.

Soal Gentengisasi, Gerakan Baru yang Digaungkan Presiden Prabowo

Akhir-akhir ini, genteng dan seng tengah ramai dibicarakan. Pasalnya Presiden Prabowo Subianto baru saja menggalakkan program baru bernama Gentengisasi. Ia mendorong agar rumah-rumah di Indonesia mulai berganti memakai genteng sebagai atap rumah. Menurutnya, seng membuat rumah terasa panas dan mudah berkarat.

"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek Gentengisasi seluruh Indonesia," ujarnya dalam Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/2/2026).

Bahan baku genteng yang terbuat dari tanah dianggap lebih menyejukkan daripada seng. Prabowo juga membandingkan penggunaan bahan atap pada zaman dulu seperti ijuk dan sirap yang dinilai lebih adem ketimbang seng.

Menurut Denny, gerakan ini baik karena seng sendiri bukan budaya Indonesia atau dalam kata lain bukan material lokal. Genteng yang terbuat dari tanah liat sudah memiliki sejarah lebih panjang di Indonesia.

Namun, ia merasa penyeragaman ini perlu mempertimbangkan juga pada kebudayaan di Indonesia. Tidak semua rumah bisa diganti menjadi genteng. Apalagi bentuk atap rumah pun bermacam-macam dan tidak semuanya cocok dengan genteng.

"Kalau misalnya mau bikin atau mau gentengisasi semua atap ya otomatis di sana mungkin perlu dibikin pabrik genteng atau pemerataan pabrik genteng di seluruh Indonesia," ujarnya.

"Sebenarnya ini juga ada sisi baiknya untuk misalnya memakai material yang lebih ramah lingkungan. Cuma kadang ada sisi budaya yang mungkin emang harus disesuaikan lagi karena nggak semuanya harus seragam," lanjutnya.




(aqi/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita BeritaKlik Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads