Masjid Qiblatain di Kota Madinah menjadi salah satu bangunan bersejarah penting dalam perjalanan Islam. Masjid ini memiliki menara dan kubah kembar yang khas, serta terkenal sebagai saksi peristiwa perubahan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsa ke Masjidil Haram.
Kota Madinah sendiri kaya akan situs sejarah Islam yang mengingatkan umat pada perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam. Salah satu yang paling monumental adalah peristiwa turunnya wahyu tentang perubahan arah kiblat yang terjadi di masjid ini pada tahun kedua Hijriah.
Masjid yang awalnya dikenal sebagai Masjid Bani Salamah ini dibangun oleh Sawad bin Ghanam. Nama Qiblatain sendiri berarti dua kiblat, merujuk pada peristiwa ketika sebagian salat dilakukan menghadap Baitul Maqdis dan sisanya menghadap Ka'bah di Makkah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Masjid Qiblatain
Dilansir dari Situs Resmi Kementerian Agama, Masjid Qiblatain menjadi saksi turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengubah arah kiblat. Peristiwa itu terjadi saat Rasulullah tengah memimpin salat zuhur pada bulan Sya'ban tahun 2 Hijriah.
Setelah dua rakaat pertama menghadap Baitul Maqdis, turun wahyu yang memerintahkan untuk berpaling ke arah Ka'bah. Nabi pun langsung berputar arah 180 derajat, diikuti seluruh jemaah.
Wahyu yang turun saat itu adalah Surah Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan umat Islam untuk menghadap Masjidil Haram. Perubahan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam, menandai penetapan Ka'bah sebagai kiblat umat Muslim di seluruh dunia.
Masjid ini kemudian dinamai Al-Qiblatain karena menjadi tempat dilaksanakannya salat dengan dua arah kiblat dalam satu waktu. Sejak saat itu, Ka'bah di Makkah menjadi kiblat permanen bagi umat Islam.
Arsitektur Masjid Qiblatain
Bagian dalam Masjid Qiblatain. Foto: Getty Images/iStockphoto/Sony Herdiana |
Masjid Al-Qiblatain terletak di Jalan Khalid bin al-Waleed, barat laut Madinah. Bangunannya menampilkan geometri dan simetri ortogonal yang tegas, diperkuat dengan adanya menara kembar dan kubah kembar yang menjulang tinggi.
Ruang salat utama terdiri atas lengkungan-lengkungan yang menopang kubah-kubah utama yang sejajar dengan dinding kiblat. Dua kubah dibuat dengan filosofi kubah utama menandakan arah kiblat saat ini yaitu Mekkah dan kubah kedua menjadi pengingat sejarah. Kubah utama di sisi selatan ditinggikan dengan drum berjendela yang memungkinkan cahaya alami masuk tepat di atas mihrab.
Dilansir dari Arab News, masjid ini telah beberapa kali direnovasi sejak masa Khalifah Umar bin Abdulaziz, kemudian pada era Kesultanan Utsmaniyah, hingga renovasi besar pada 1987 di bawah Raja Fahd. Meski mengalami pembaruan konstruksi, ciri khas historisnya tetap dipertahankan. Masjid ini kini mampu menampung sekitar 2 ribu jemaah.
Kisah Masjid Memiliki Dua Kiblat
Pada awalnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menghadap Baitul Maqdis saat salat, bahkan setelah hijrah ke Madinah. Namun Rasulullah berharap agar kiblat dipindahkan ke Ka'bah, sebagaimana disebut dalam Al-Baqarah ayat 144.
Saat wahyu turun di tengah pelaksanaan salat, Nabi langsung memutar arah salat dari utara yaitu Baitul Maqdis, ke selatan Ka'bah. Karena peristiwa perubahan arah itu terjadi dalam satu rangkaian salat, masjid ini pun dikenal sebagai masjid dengan dua kiblat.
Meski disebut memiliki dua kiblat, bangunan masjid saat ini hanya menggunakan satu mihrab yang menghadap ke Ka'bah. Penanda kiblat lama tidak lagi difungsikan, melainkan dihadirkan sebagai ornamen pengingat sejarah agar tidak membingungkan jemaah.
Peristiwa di Masjid Qiblatain menjadi simbol ketaatan dan kesiapsiagaan Rasulullah serta para sahabat dalam menjalankan perintah Allah. Hingga kini, masjid ini tetap berdiri sebagai pengingat momen penting yang mengukuhkan identitas arah ibadah umat Islam di seluruh dunia.
(abr/abr)












































