Masjid Quba di Madinah dikenal sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam yang dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Namun bentuk megah yang terlihat saat ini merupakan hasil pembaruan yang dilakukan oleh arsitek mesir terkemuka, Abdel Wahed El-Wakil.
El-Wakil memadukan arsitektur tradisional dengan kebutuhan bangunan modern. Melalui cara tersebut, ia berhasil memperluas masjid bersejarah ini tanpa menghilangkan nilai spiritual dan historisnya.
Dilansir dari situs Ivy Panda, Masjid Quba pertama kali didirikan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya setelah hijrah ke Madinah pada abad ke 7. Dalam perkembangannya, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi hingga akhirnya direnovasi secara besar pada 1980 untuk menyesuaikan dengan kebutuhan jamaah yang semakin meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada renovasi besar tersebut, El-Wakil dipercaya merancang kembali kompleks masjid. Arsitek yang juga dikenal sebagai murid dari Hassan Fathy ini terkenal dengan pendekatan tradisional dalam arsitektur Islam. Ia mengutamakan penggunaan material lokal dan teknik konstruksi kuno dibandingkan mengikuti tren modernisme Barat.
Masjid Quba di Madinah Foto: Getty Images |
Arsitek Tradisional yang Menolak Modernisme Beton
Melansir Jurnal Publikasi Ilmu Terapan dan Rekayasa, berjudul 'The Domes: El Wakil's Traditionalist Architecture of Quba Mosque' oleh Macca & Aryanti, El-Wakil dikenal sebagai arsitek yang menentang arsitektur modern. Ia menganggap arsitektur mdern akan menghilangkan konteks sejarah dan budaya.
Dalam pembaruan desain Masjid Quba, El-Wakil lebih memilih menggunakan teknik masonry atau susunan batu bata serta bata tanah liat dalam pembangunan kubah dan lengkungan.
Tak hanya itu, beton juga hanya digunakan secara terbatas pada bagian fondasi dan bangunan. Sementara struktur utama masjid memanfaatkan batu bata yang sekaligus berfungsi sebagai elemen struktural. Cara ini menunjukkan bahwa bangunan monumental tetap dapat dibangun dengan teknik tradisional yang kuat dan tahan lama.
Arsitektur dengan Simbol yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Desain Masjid Quba karya El-Wakil menggabungkan berbagai unsur arsitektur Islam klasik. Bangunan ini memiliki ruang interior yang atapnya ditopang banyak pilar, halaman dalam, empat menara di setiap sudut, serta puluhan kubah yang menjadi ciri khasnya. Dari 56 kubah kecil yang ada, tiga kubah utama di atas mihrab menggunakan gaya kubah yang berasal dari tradisi arsitektur Persia.
Selain itu, gaya desainnya juga menggunakan elemen dari arsitektur Mamluk, Seljuk, hingga Ottoman. Hal ini menjadi cara El-Wakil menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sehingga masjid yang diperluas tetap mempertahankan identitas arsitektur Islam yang kuat.
Renovasi Masjid Quba menunjukkan bagaimana arsitektur tradisional dapat tetap relevan di era modern. Melalui tangan Abdel Wahed El-Wakil, masjid bersejarah ini tak hanya menjadi lebih luas dan fungsional, tetapi juga tetap menjaga nilai simbolik dan spiritualnya sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam.
(das/das)











































